logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Desember 2006 INTERNASIONAL
Line

A N A L I S I S

Trio Timteng Jajaki Masa Depan Diplomatik Baru

TEHERAN - Masa depan diplomatik baru di Timur Tengah mulai dijajaki. Kunjungan Presiden Irak Jalal Talabani ke Iran dan pemulihan hubungan antara Irak dan Suriah merupakan bagian dari serangkaian manuver ke arah itu.

Pertemuan Talabani dan Presiden Mahmoud Ahmadinejad membuat orang penasaran. Karena, Talabani adalah presiden yang didukung militer Amerika sedangkan Ahmadinejad adalah musuh bebuyutan Washington.

Irak memanfaatkan pemulihan hubungan dengan Suriah untuk tujuan keamanan. Bagdad menekankan bahwa Suriah harus bertindak untuk menghentikan para pejuang asing melintasi perbatasannya menuju Irak.

Bagi Suriah, langkah tersebut memberinya suasana baru di kawasan itu dan mungkin melunakkan hubungan sulitnya dengan Amerika Serikat.

Pemulihan hubungan itu merupakan langkah besar bagi Suriah, setelah bertahun-tahun bermusuhan dengan Irak. Damaskus mendukung Iran yang non-Arab dan non-Suni selama perang Irak-Iran. Meski hal itu menimbulkan kebencian antara mendiang Presiden Suriah Hafez al-Assad dan Saddam Hussein, rival dalam gerakan Baath pan-Arab. Suriah juga ikut bertempur dalam koalisi melawan Irak pada 1991.

Lihat Peluang

Presiden Iran Ahmadinejad merupakan ahli siasat tentang harapan-harapan yang tidak diduga untuk memposisikan Iran sebagai pengaruh utama dalam sejarah Irak di masa datang, yang didomiansi secara politik oleh saudara-saudaranya kaum Syiah.

Baik Iran maupun Suriah tampaknya melihat peluang untuk melibatkan diri lebih dekat dalam urusan Irak, tak peduli apa kata AS.

Langkah-langkah itu tentu saja menyulitkan pemerintahan Presiden George W Bush. Pasalnya, Kelompok Studi Irak yang diketuai James Baker dan Lee Hamilton mungkin merekomendasikan agar Iran dan Suriah dilibatkan dalam upaya-upaya lebih luas guna membantu menstabilkan Irak, namun pemerintah Bush enggan berhubungan dekat dengan kedua negara itu.

Washington mengajukan syarat bahwa Iran harus mengakhiri program pengayaan uraniumnya sebelum bisa dianggap sebagai mitra diplomatik oleh AS, syarat yang tampaknya tidak akan dipenuhi Iran.

Minta PBB dan negara-negara sekutu memberlakukan sanksi pada Iran atas aktivitas nuklirnya tampaknya sulit dicapai jika Irak dan Iran mendadak muncul sebagai tetangga yang lebih bersahabat.

Di pihak lain, Washington hampir tidak bisa mencegah pemerintah Irak untuk bertindak, karena kedaulatan Irak dianggap yang terpenting. Karenanya, Amerika mungkin hanya punya sedikit pilihan kecuali mendukung semua langkah itu, terutama karena posisi Presiden Bush kini lemah menyusul kekalahannya dalam pemilihan sela AS awal bulan ini.

Sejauh ini, Departemen Luar Negeri AS menanggapi langkah terbaru ini hanya dengan menekankan perbedaan antara kata-kata dan tindakan. ''Meski ada pernyataan dari pemerintah Iran tentang keinginannya untuk memainkan peran positif di Irak, hal itu belum didukung oleh tindakan,'' kata juru bicara Deplu Tom Casey. (bbc-niek-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA