| Jumat, 01 Desember 2006 | WACANA |
Surat PembacaATM Mandiri AmbarawaDalam perjalanan ke Yogyakarta saya mau ke ATM Bank Mandiri Ambarawa. Namun sejak dari pasar Projo sampai Ngampin bahkan Jambu tidak ketemu, yang ada milik bank-bank lain. Teman-teman saya warga Ambarawa juga mengeluh karena tiadanya ATM Bank Mandiri, bahkan kantor cabangnya pun belum ada. Padahal di Ungaran ada 6 ATM dan Salatiga 4 buah, meski masih belum menyebar. Bisa dilihat setiap akhir bulan saat karyawan gajian terpaksa berebut menyerbu ATM PT Apac Inti Corpora Bawen. Ini yang menyebabkan brankas ATM tersebut cepat terkuras hingga para pengguna sering kecele. Kondisi ini nyaris terjadi tiap bulan padahal aktivitas gajian sudah pasti dan harusnya bisa diprediksi. Dengan gaji tidak seberapa hampir pasti tiap gajian langsung diambil semua karena kebutuhan sudah menghadang. Ambarawa merupakan kecamatan terbesar ketiga di Kabupaten Semarang dengan kelurahan/desa sebanyak 16 buah, setelah Kecamatan Bringin 18 desa dan Kecamatan Pabelan 17 desa. Meski kelurahan/desanya hampir sama namun terlihat geliat ekonomi Ambarawa lebih menonjol. Ambarawa memiliki kawasan wisata alam Bandungan (hotel wisata dan candi Gedongsongo). Ada museum Kereta Api dengan koleksi 20-an jenis lokomotif tua buatan Belanda, Inggris, Jerman dan Swiss. Ada museum Isdiman dengan koleksi berbagai alat dan senjata TNI saat revolusi di kompleks Monumen Palagan. Di halaman depan Monumen Palagan terparkir pesawat Cocor Merah yang legendaris saat clash dengan Belanda. Bahkan konon sebagian orang malah menganggap Ambarawa lebih punya brand acceptability (merk yang sudah terkenal dan diterima) dibanding Kabupaten Semarang. Kabupaten ini dianggap baru punya brand awareness, demikian Drs Anwar Hudaya Kabag Organisasi Setda Kabupaten Semarang (saat itu) mengistilahkan dalam tabloid GemaS edisi 02 Mei - Juni 2001. Ambarawa adalah kota tua kebetulan familiar dengan sebutan mBah Rowo sesuai lidah Jawa dan juga sangat kondang dengan kemacetannya sejak mendekati pasar Projo sampai Monumen Palagan. Noor Rofiq Jl Wamena V/228 - 229, Ungaran *** Uang Jadi Panglima "Seni Mencuri" adalah bidang kegiatan ekonomi politik yang paling marak di negeri ini. Dipupuk dilahan subur Orba, berbunga dan berbuah pada era reformasi serta berkecambah terus hingga detik ini. Patologi korupsi terus berkembang biak dengan skala makin menyebar, meluas dan membesar tanpa kenal jeda. Tidak peduli dengan pergantian musim politik dan melanda semua sektor. Dia menjadi mesin pelumas birokrasi, pelicin dunia bisnis, minyak wangi partai politik dan mondar-mandir di bawah kursi kekuasaan presiden. Pengertian "politik sebagai panglima" pernah kondang 40 tahun yang lalu. Prinsip politik sebagai panglima adalah doktrin tentang sikap taat pada pertimbangan suatu kekuasaan politik, di atas pertimbangan apapun. Namum, pascapecahnya G30S, seiring Orla dinyatakan babak belur, ajaran tersebut perlahan-lahan menghilang dari panggung sejarah. Lalu berganti menjadi "Uang sebagai panglima " , suatu sikap memuja dan mendewakan uang di atas segalanya. Demi uang apapun bisa dijualbelikan tanpa malu, transparan dan membabi buta. Termasuk menjual keimanan, harga diri, kebenaran, hukum, prinsip. Apapun bisa jadi komoditas dagangan, yang penting fulus di genggaman. Ini klop dengan semangat zaman ketika watak hedonisme, materialisme dan kapitalisme menyungging senyum kemenangan dan memacu orang untuk makin mata duitan. Maka jangan heran, kalau antara pasar dengan kantor birokrasi hampir sulit dibedakan karena sama-sama menjadi tempat transaksi jual-beli. Kalau di pasar, sudah jelas yang dijualbelikan barang yang konkret, jelas dan kasat mata. Misalnya beras, gula sayuran, buah-buahan. Tapi di kantor birokrasi, transaksi berupa barang berbau abstrak, fiktif, tersamar dan di bawah meja seperti tanda tangan, stempel, jabatan, pangkat, tender proyek , sampai jual beli perkara. Nilai omsetnya setinggi langit. Sebagai contoh harga sebuah tanda tangan pejabat bisa seharga mobil Nissan X-Trail. Maka tidak aneh untuk standar Indonesia, menjadi orang yang benar, pintar dan bermoral tanpa duit sepeser pun, tidak menjamin hidupnya sukses dan makmur. Paling-paling hanya akan menjadi "pecundang" bila berhadapan dengan orang- orang bodoh, licik, dan berwatak jahat, namun berkocek tebal. S Joko Wiyono (EI) Sudagaran Rt 5/Rw 1, Sukorejo *** Ujian Nasional Ujian Nasional makin dekat dan menjadi tantangan yang menentukan bagi para siswa kelas III/IX. Karenanya mulai sekarang mari tingkatkan waktu belajar. Selain itu sekolah juga akan membuat beberapa program sebagai upaya siswa dapat menghadapi ujian nasional. Menurut kabar, mata pelajaran diujiankan yang semula hanya tiga yaitu matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris akan ditambah IPA. Apakah benar, masih menunggu keputusan. Mohon Dinas P dan K menyosialisasikan sedini mungkin agar siswa bisa siap-siap. Saya berharap ini bisa menjadi motivasi para siswa untuk lebih tekun belajar. Adi Suyanto Siswa SMPN 2 Adimulyo, Kebumen *** Belajar Caci Maki Ada banyak hal ketika menonton infotainment. Sisi positifnya bisa melihat betapa susah payahnya wartawan mencari berita mulai dari berdesak-desakan, terinjak pengawal selebritis hingga dilempar asbak oleh Sarah Azhari. Sedikit sisi negatifnya yaitu ada fenomena baru yaitu para pengacara berdebat, mencaci maki lawannya tidak lagi di forum pengadilan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Kini ajang sumpah serapah beralih di layar teve dengan memanfaatkan infotainment untuk menyudutkan lawannya. Lihat saja kasus saling perang kata antara Ruhut Sitompul melawan Hotman Paris Hutapea beberapa waktu lalu. Kemudian caci maki antara kedua pengacara tersebut kembali muncul pada kasus pembunuhan Naek Gonggom Hutagalung dengan tersangka artis sinetron Lidya Pratiwi dan keluarganya. Caci maki menjijikkan berhamburan dari kedua pengacara tersebut. Alangkah memalukan dunia pengacara yang disegani masyarakat, kini berubah bagai tontonan sirkus demi sebuah popularitas. Tampaknya pengacara mulai sadar bahwa publisitas bisa mendongkrak popularitas mereka. Media berita hiburan rupanya sengaja atau tidak dipilih untuk meningkatkan ketenaran sekaligus memancing klien baru untuk datang mendekat. Di zaman serba canggih ini semua kembali berserah pada masyarakat mau nonton pengacara bertengkar atau tidak atau pindah ke saluran lain yang lebih bermutu. Aryo Widiyanto AMd Jl Sri Agung 234 Cepiring, Kendal *** Tayangan Koruptor Tidak Efektif Saya hargai usaha Kejakgung mengejar buron koruptor dengan segala cara termasuk tayangan di teve. Tetapi sekali lagi saya nyatakan langkah itu kurang efektif sebab dalam hitungan menit daya ingat para pemirsa sudah hilang. Ini berbeda kalau dimuat dalam media cetak daerah maupun pusat. Pembaca dapat lebih cermat dan teliti mengamati termasuk data buron tersebut. Pemuatan dalam media cetak berdampak para pembaca membantu, bahkan mengkliping atau menempelkan di tempat strategis, seperti mal, stasiun, airport, kantor dan lainnya. Termasuk di tempat RT/RW/Kelurahan, siapa tahu buron tersebut muncul sebentar. Kali ini buronnya Samadikun Hartono, bos PT Bank Modern Tbk yang menerima dana BLBI sebesar Rp 2,5 triliun dan telah diputus hukuman 4 tahun tapi kemudian lari. Apa boleh buat, dia sudah lari. Aparat demikian mudah dikalahkan dengan uang. Dengan surat keterangan dokter saja sudah bisa digunakan untuk berobat ke luar negeri. Hal ini agar menjadi perhatian serius aparat. Ingat Samsul Nursalim, Sujiono Triman, Eko Edi Putranto, Lesmana Basuki dan masih banyak lagi koruptor yang menggondol dana pemerintah/rakyat ratusan triliun rupiah. Bahkan kabarnya kini sebagian diinvestasikan di Singapura, China dan lainnya. Aparat kita yang ceroboh meloloskan para terpidana hanya bisa plompang-plompong seakan tidak berdosa. Padahal sebentar lagi umumnya mereka pensiun dan lepas tanggung jawab. Namun mereka masih punya banyak deposito. Nasib... nasib negaraku. H Erlangga Chandra (EI) Bendaaan Rt 8/Rw 2, Banyudono |