| Jumat, 01 Desember 2006 | SEMARANG |
HUT Emas UKSW Diwarnai Unjuk Rasa DamaiSALATIGA- Peringatan Dies Natalis Ke-50 UKSW berlangsung dalam rapat senat terbuka di balairung kampus, Kamis (30/11). Acara dipimpin Rektor Prof Kris Herawan Timotius MSc dan dihadiri Wakil Gubernur Jateng Drs H Ali Mufiz MPA, Wakil Wali Kota Salatiga John Manoppo SH serta Muspida. Hadir pula sejumlah mantan rektor UKSW, dosen, alumni, keluarga besar, dan pengurus Yayasan Pengruruan Tinggi UKSW. Pada kesempatan itu diceritakan sejarah berdirinya UKSW serta penayangan dokumentasi aktivitas kampus sejak berdiri tahun 1956 hingga 2006. Lalu dilanjutkan peluncuran buku Tahun Emas UKSW oleh Rektor dan diberikan secara simbolis kepada sejumlah tokoh. Dalam sambutannya, Kris mengatakan, perubahan akan terus dilakukan. UKSW pun harus belajar dari sejarah perkembangannya 50 tahun ini. ''Belajar dari masa lalu, supaya tidak mengulangi kesalahan-kesalahan lama,'' ujarnya. Menurutnya, jati diri UKSW mencakup paling tidak tiga unsur penting, yakni mengembangkan diri sebagai masyarakat akademik yang bermutu, membentuk para pemimpin, dan memperbarui atau mentransformasi masyarakat. Pendidikan yang bermutu juga harus menjadi salah satu ciri proses pembelajaran di UKSW. Pendidikan yang bermutu sering hanya dikaitkan pada fasilitas dan kualifikasi dosen. Padahal pendidikan yang bermutu memerlukan kerja keras, ketekunan, dan motivasi belajar tinggi, terutama dari peserta didik. Sementara itu, di luar tempat berlangsungnya acara, sejumlah mahasiswa yang menamakan diri Komite Aksi Mahasiswa UKSW berunjuk rasa damai mengungkapkan keprihatinan mereka setelah 50 tahun berdiri. Yakni terkait dengan komersialisasi pendidikan, sehingga biaya mahal. Mahasiswa juga mempertanyakan praktik-praktik bisnis yang hanya mengejar keuntungan di lingkungan kampus, sehingga mengubah orientasi pendidikan. Sistem pendidikan yang mengeksploitasi mahasiswa seperti buruh serta kegiatan mahasiswa jauh dari kemasyarakatan, juga menjadi bahan kritikan mereka. Mahasiswa tersebut kemudian memasang poster-poster pada sebuah tugu di depan balairung kampus. Di tempat terpisah --masih di lingkungan kampus-- dipentaskan pergelaran wayang kulit dalang cilik dan guyon maton mataraman. Menghadirkan dalang cilik Yusuf Sani Kristiono, siswa kelas III SDN Kutowinangun Salatiga. (H2-16s) |