| Jumat, 01 Desember 2006 | SEMARANG |
Petani Jarak di KPH Purwodadi Kerepotan Jual Biji KeringGROBOGAN- Petani jarak di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi, Grobogan, kerepotan menjual hasil panenannya dalam bentuk biji jarak kering. Sebab sampai sekarang, pihak KPH belum ada tanda-tanda kerja sama dengan pabrik pengolah minyak jarak, farmasi ataupun yang lain. ''Seharusnya pihak KPH bekerja sama dengan PT Pura atau pihak farmasi yang biasa membeli biji jarak kering, sehingga setiap panen petani bisa langsung menjual hasilnya. Syukur kalau kantor kesatuan mau menjadi pengepulnya,'' kata Kardiman (49), petani jarak di Grobogan. Dia menyampaikan hal itu, setelah mendengar kabar bahwa jarak biji kering dari KPH Gundi dibeli pihak farmasi Rp 2.200/kg. Menurutnya, petani jarak di KPH Purwodadi belum ada upaya menjalin kerja sama seperti KPH Gundi. Sebab, setiap panen bijinya dibagi-bagikan lagi kepada kelompok tani hutan yang lain untuk ditanam. Padahal saat ini luas tanam mencapai 227 ha. Dia mengungkapkan, hampir semua Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) diinstruksikan untuk menanam jarak. Itu sebabnya dalam jangka waktu dua tahun terakhir ini, tanaman jarak di tujuh BKPH mencapai 227 ha. Sekarang sebagian besar tanaman mulai panen. Namun petani kebingungan untuk menjualnya, karena pihak KPH belum bekerja sama dengan pihak penampung biji jarak kering untuk bahan alternatif pengganti solar. ''Kabar terakhir, jarak akan dijual di pabrik pengolahan minyak di Arap-arap Ngaringan Grobogan. Padahal pabrik tersebut belum beroperasi,'' ujarnya. Hal itu juga disampaikan beberapa petani di Petak 81 Resot Polis Hutan (RPH) Jangglengan BKPH Jatipohon pada rombongan Komisi B DPRD Jateng yang dipimpin Minardi. Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Kasmadi mengatakan, petani jarak di KPH Purwodadi belum menikmati hasil sama sekali. Sebab belum pernah menjual panenan kepada pabrik pengolah minyak ataupun pihak farmasi dengan harga tinggi. Karena itu, Komisi B DPRD Jateng diminta segera mencarikan jalan untuk membantu. Yakni dengan cara mendatangkan investor yang mau membeli biji jarak kering dengan harga layak. ''Di beberapa tempat, petani yang menanam jarak sudah menikmati hasil. Sebab mereka bekerja sama dengan pihak farmasi, PT Pura Kudus, dan lain-lain. Bahkan per kilo jarak kering ada yang dibeli Rp 2.500,'' urai Kasmadi. Administratur KPH Purwodadi, Widianto berjanji segera mencarikan pihak ketiga untuk membeli hasil panen tersebut, sehingga petani yang tergabung dalam wadah LMDH tidak lagi ragu dalam menanam jarak untuk bahan alternatif pengganti solar. (A23-16s) |