| Jumat, 01 Desember 2006 | SEMARANG |
''Merokok Sama Saja Membakar Rezeki''BAGI sebagian orang merokok menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan. Meski bahaya yang mengancam akibat kebiasaan itu dapat dibaca setiap kali mereka membuka bungkusnya, keengganan untuk meninggalkan perilaku itu amat besar. Mereka menganggap kenikmatan dan sensasi yang diperoleh dari sebatang rokok sulit dicari tandingannya. Akan tetapi kenikmatan tersebut menurut Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Prof Dr dokter FA Moeloek SpOG tak sebanding dengan kerugian yang dialami. Memang, pendapatan negara yang diperoleh dari cukai rokok dan tembakau cukup besar. Tahun 1995 pendapatan yang diperoleh mencapai Rp 10 triliun. Tetapi pengeluaran pemerintah dan masyarakat akibat risiko rokok juga tak kalah besar, yaitu sebesar Rp 30 triliun. "Ini berarti negara kehilangan sekitar Rp 20 triliun untuk mengatasi gangguan kesehatan akibat rokok,'' ungkap dia saat menjadi pembicara dalam seminar yang diselenggarakan dalam rangka pembukaan Muktamar XVII Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI), Rabu (29/11) di Hotel Graha Santika. Moeloek juga mengemukakan, 20%-25% pemasukan keluarga digunakan untuk membeli rokok. Dengan menggunakan pendapatan untuk membeli rokok sama artinya dengan membakar rezeki atau uang. Padahal di dalam agama membakar rezeki itu haram hukumnya. "Jika melihat pengertian itu menurut Kiai Langitan, merokok itu haram hukumnya. Karena secara tidak langsung sama saja dengan membakar uang,'' seloroh dia. Selain menimbulkan kerugian finansial yang cukup besar, lanjut dia, kebiasaan itu juga menjadi awal dari munculnya beberapa perilaku yang tidak terpuji. Lihat saja, orang yang terjerumus di dunia narkoba mengawalinya dengan merokok. "Kebiasaan itu juga dapat memicu munculnya berbagai macam penyakit,'' tegas dia. Menurunnya kesuburan, terjadinya kehamilan di luar kandungan, dan penyempitan pembuluh darah dianggapnya sebagai penyakit yang disebabkan karena menghisap asap rokok. Seminar itu juga menghadirkan Senior EHS Manager PT Djarum Djoko Herryanto, dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada Prof Dr dokter Marsetiawan Susetyo, dan dosen FK Universitas Diponegoro dokter Soeharyo Hadisaputro. Nikmat dari Tuhan Pada kesempatan itu, ada peserta yang memuji ''kejantanan'' Djoko. Pasalnya, tiga pembicara lain adalah para tenaga medis yang notabene makalah yang mereka bawakan pada intinya menentang rokok. Kendati Djoko bekerja di pabrik rokok, namun ia mengaku kedua anaknya bukanlah perokok. Suatu ketika, anak sulung Djoko yang kuliah di Bandung meminta pendapat sang ayah apakah yang bersangkutan diizinkan merokok. Djoko mengatakan, ''Nantilah kalau kamu sudah berusia 21 tahun dan mengetahui baik buruknya merokok. Keputusan ada di tanganmu.'' Menurut dia, merokok atau tidak merokok adalah hak asasi seseorang. ''Saya tak dapat melarang seseorang untuk mencicipi karunia Tuhan berupa tembakau,'' ujarnya yang langsung disambut tawa peserta. Dia mengaku selalu meluangkan waktu untuk mengajak anak-anaknya ke perkebunan tembakau saat mereka liburan. Namun bukan berarti ia bermaksud memengaruhi mereka untuk merokok. ''Saya ingin anak-anak tahu bagaimana kehidupan para petani tembakau. Oleh karena itu perlu dipikirkan juga nasib 30 juta rakyat Indonesia yang mencari nafkah dari industri ini jika pabrik rokok ditutup.'' (Roosalina, Ida N-62) |