| Jumat, 01 Desember 2006 | SEMARANG |
Merek Kota Tuntut Konsekuensi Berat
SEMARANG- Pemasangan slogan ''The Beauty of Asia'' sebagai bagian dari city branding, menuntut konsekuensi yang berat. Slogan yang sudah ditetapkan harus diikuti langkah untuk mewujudkan, menjaga, dan mempertahankan makna kata-kata sakti tersebut. Tokoh masyarakat Semarang, Asmah Soetrisno mengaku tidak yakin dengan slogan Kota Semarang ''The Beauty of Asia'', yang dilontarkan oleh Pemkot. Menurut dia, kondisi objektif kota itu sekarang ini jauh dari gambaran sebuah kota yang beauty, apalagi untuk ukuran Asia. ''Diakui atau tidak, Kota Semarang tidak lagi memperhatikan nilai-nilai keindahan lokal yang pernah dimiliki. Mulai kawasan, bangunan sampai pada budaya yang pernah ada, kini mulai hilang,'' kata Asmah, Kamis (30/11). Sebelumnya diberitakan, pengurus Indonesia Marketing Association (IMA) Jateng dan branding consultant mereaksi keras atas rencana Pemkot meluncurkan slogan itu. Mereka menilai hal tersebut muncul tiba-tiba dan dikhawatirkan tidak memperoleh dukungan masyarakat. Pada saat yang sama, mereka mempertanyakan makna slogan itu serta proses pemunculannya. Terkait dengan itu, Asmah menyatakan harus bisa diwujudkan dalam kehidupan masyarakat dan mewarnai semua segi. Apalagi dengan kondisi sekarang, sulit membuat orang menyepakati munculnya ''The Beauty of Asia''. Dia memberikan sejumlah contoh untuk menguatkan opininya. Keberadaan kota lama yang tak terawat bahkan menjadi mangkal pekerja seks komersial (PSK), merupakan salah satu contoh kondisi kota yang belum cantik. Kemudian, Pasar Johar yang semrawut, alun-alun sudah tidak ada lagi atau Hotel Dibya Puri yang kondisinya tidak prima dan kanan-kiri ditumbuhi semak-semak. Pada saat yang sama, kata dia, budaya lokal tidak dikembangkan dengan maksimal. ''Kalau seperti itu, mana yang disebut cantik? Ayu itu harus luar-dalam. Sekarang coba, mana yang sekarang ini bisa dibanggakan bagi Kota Semarang? Kota lama atau Pasar Johar?'' tanya dia. Soal penataan, Asmah melihat Kota Semarang kini semrawut. Pemkot dinilai hanya berfokus pada pusat, sedangkan daerah pinggiran kurang dioptimalisasi. ''Ngurus Simpanglima saja masih belum bisa, la kok mau disebut beauty,'' ujar dia. Kebanggaan Masyarakat Yang menjalankan tugas (Ymt) Kepala Kantor Infokom, Achyani SSos mengatakan, penentuan slogan ''The Beauty of Asia'' merupakan upaya mengaktualisasi visi-misi Kota Semarang. Hal itu dimaksudkan guna membangkitkan kebanggaan masyarakat pada kota tempat tinggalnya, sekaligus merangsang partisipasi mereka untuk mewujudkan. Dia menuturkan, Kota Semarang memiliki sejumlah catatan keindahan. Dilihat dari topografinya, Kota Atlas itu memiliki perbukitan dan kota bawah lengkap dengan pantai. Hal tersebut merupakan kondisi alam yang indah dan tidak semua daerah beruntung memilikinya. Selain itu, penduduk yang multietnis bisa hidup rukun, sehingga tercipta iklim kondusif. ''Keindahan semacam itu yang perlu disyukuri sekaligus dibanggakan. Kalau bukan orang Semarang, siapa yang akan membanggakan kota kita ini?'' ungkapnya. Pemkot berharap slogan tersebut bisa menjadi pemicu untuk membangkitkan semangat masyarakat bersama-sama Pemkot mewujudkan Kota Semarang yang cantik. Kalau itu tercapai, cita-cita menjadikan Semarang sebagai Kota Pelayanan akan dapat direalisasi. ''Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan pada perkembangannya ada penyempurnaan-penyempurnaan sebagai respons atas masukan masyarakat.'' (dky,H9-56s) |