| Jumat, 01 Desember 2006 | BANYUMAS |
Bergulat ala SmackdownSiswa SD Alami Patah TulangPURWOKERTO - Korban dampak tayangan smackdown ternyata juga terjadi di Purwokerto. Siswa kelas II sebuah SD di Purwokerto, Nanda Riska (7), tangan kirinya mengalami patah tulang setelah beraksi ala smackdown bersama beberapa temannya di depan rumahnya, di Kelurahan Purwanegara. Peristiwa itu terjadi Sabtu (25/11) pekan lalu. Sepulang sekolah sekitar pukul 14.00, Nanda bermain bersama tiga anak sebayanya di halaman rumah. Terinspirasi oleh tayangan smackdown yang sering ditonton di televisi, keempat anak itu bermain gulat baya bebas ala Amerika yang biasa ditayangkan di televisi tersebut. Mereka beradu punggung bagian depan. Tubuh mereka saling berbenturan. Akibat benturan badan, Nanda terjatuh. Ketika dalam posisi terjatuh, ia ditimpa tubuh temannya. Akibatnya, tangan kirinya yang tertindih badan itu patah tulang. Saat tertindih sampai tangannya patah, korban merasa tangannya sakit. Dia kemudian memberi tahu orang tuanya, Subiantoro (54). Bocah itu menunjukkan tangan kirinya yang saat itu sulit digerakkan. Saat dicek, ternyata tulangnya patah. Ketika ditanya kenapa sampai tangannya patah, bocah itu mengaku habis bermain smackdown dengan teman-temannya. Kini tangan kiri bocah itu harus digips setelah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Ortopedhi Purwokerto (RSOP). Nanda juga sempat tak masuk sekolah. "Sekarang dia (Nanda-Red) sudah masuk sekolah, tapi tangannya harus digips," tutur Biantoro. Dia menambahkan, peristiwa yang menimpa anaknya itu merupakan dampak dari tayangan smackdown yang tiap hari disiarkan oleh sebuah stasiun televisi swasta. Karena itu, ia sangat mendukung apabila tayangan tersebut dihentikan. "Sebenarnya tak hanya tayangan di televisi saja, kaset-kaset smackdown yang bisa dibeli di toko atau ditonton di persewaan play station juga perlu ditertibkan. Demikian juga stikernya, jangan dijual bebas," terangnya. Dari pengalaman yang terjadi di sekitar rumahnya, kata dia, adegan smackdown itu sangat disukai anak-anak. Mereka suka menirukannya. Namun mereka tidak tahu kalau adegan semacam itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar profesional. "Saya setuju sekali kalau tayangan smackdown di televisi dihentikan. Jangan sampai ada anak-anak di Purwokerto dan tempat lain yang menjadi korban lagi," katanya. (G23-55n) |