logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 30 Nopember 2006 BUDAYA
Line

Hantu Pembenci Novelis

Novelis adalah profesi yang paling dibenci hantu. Itulah pesan dalam film horor remaja Hantu Jeruk Purut. Ya, dalam film ini digambarkan seorang novelis harus meregang nyawa bersikeras mengisahkan latar cerita hantu dalam novel terbarunya.

Seorang penggemar bertekad merampungkan novel itu, setelah ditelepon sang novelis menjelang kematiaan. Bisa ditebak, karena bersikeras merampungkan novel tentang legenda hantu Jeruk Purut, gadis itu harus menghadapi teror. Bahkan nyawa beberapa kawan dekatnya melayang akibat teror tak berkesudahan.

Apakah yang membuat sang hantu yang dipercayai ada di Pemakaman Umum Jeruk Purut, Kemang, Jakarta Selatan, itu membenci penulis yang berniat mengisahkan keberadaan mereka? Ternyata versi masyarakat perihal hantu pastor tanpa kepala dan gemar menenteng kepalanya dikawal seekor anjing bermata merah adalah keliru.

Dalam versi masyarakat sekitar, sosok tinggi besar berjubah pastor itu korban pembunuhan salah sasaran. Namun, menurut versi film yang disutradari Koya Pagayo ini, hantu Jeruk Purut bukan sang pastor.

Hantu itu adalah arwah durjana yang membunuh sang pastor karena dipergoki memerkosa Laksmi, pelayan pastor. Durjana itu dihukum pancung oleh masyarakat sebagaimana dia memancung pastor dan pelayannya.

Nah, Laksmi, pelayan pastor yang setia itulah, yang meneror para penulis novel yang menceritakan secara keliru kejadian sebenarnya. Dia tak segan-segan membunuh para penulis dan teman-teman dekatnya.

Andai hantu Jeruk Purut benar-benar ada, tentu tamatlah riwayat para novelis di negeri ini. Sebab, sang hantu menilai data mereka kurang valid.

Bagaimana cara melihat hantu Jeruk Purut? Gampang. Kumpulkan beberapa rekan hingga berjumlah ganjil, lalu kelilingi kompleks pemakaman itu tujuh kali. Satu persatu pasti pasti ditemui sang hantu dan nyawa pun melayang.

Begitulah kisah film keenam Indika Entertainment yang akan beredar serentak di Indonesia dan Malaysia pada hari ini. Keaktoran pelakon utama, seperti Angie Virgin, Sheila Marcia, dan Samuel Z Heckenbucker memang tak istimewa. Apalagi alur cerita datar dan terasa ngawur.

Mungkin cuma gambar dan musik yang mengesankan. Di luar itu, film berdurasi 90 menit yang menghadirkan Ferry Irawan sebagai bintang selintas ini hanya masuk tataran menyemarakkan jagat perfilman. Tak lebih.

''Benar, kami memang tak bisa memuaskan semua orang,'' ujar Shanker RS, produser Indika Entertainment. Namun, kata peraih sukses meraup banyak penonton lewat film Rumah Pondok Indah itu, hasil kerja tim itu tetap patut dinilai secara adil oleh penonton. Bukan oleh segelintir kritikus, wartawan, apalagi pemerhati film. (Benny Benke-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA