| Rabu, 29 Nopember 2006 | NASIONAL |
Korban Smackdown Berjatuhan (1)Dipaksa Berdiri, Ditabrak, Tulangnya Patah
Wabah Smackdown makin menghantui orang tua. Tayangan televisi yang mengumbar adegan kekerasan itu ditengarai banyak ditiru anak-anak. Korban pun mulai berjatuhan. Berikut laporannya. FAJRIN Masykurin (14), siswa kelas III SMP Negeri 2 Ungaran, langsung masuk kamar dan tidur sepulang dari sekolah, Kamis (23/11) pekan lalu. Ibunya, Hj Suwarni (53), sama sekali tak menaruh curiga meski hal itu bukan merupakan kebiasaan anaknya. Barangkali dia memang lagi capek. Pikir sang ibu waktu itu. Betapa kagetnya dia ketika dua hari kemudian Wahid, kakak Fajrin, melaporkan ada yang tak beres dengan pundak kanan adiknya. ''Pundak kanan Fajrin tampak agak cekung,'' kata Wahid, Sabtu (25/11) lalu. Keesokan harinya warga RT 01 RW 01, Kalipasir, Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang itu dibawa ke RSU Ambarawa untuk di-rontgen. Hasilnya, Fajrin mengalami patah clavicula atau tulang pundak sebelah kanan. Ditabrak Kepada ibunya, Fajrin kemudian menuturkan, Kamis pekan lalu dia dipaksa dua temannya untuk berdiri mendekat tembok. Seorang memegangi tubuh Fajrin yang dalam posisi dua tangan di belakang. Seorang lagi yang bertubuh gendut menabrakkan badannya ke pundak kanan Fajrin. ''Saat itu Fajrin kesakitan dan meminta permainan dihentikan. Bahkan, dia waktu itu mendengar suara krek dari pundaknya akibat benturan dengan tubuh temannya yang gendut tersebut,'' papar Suwarni menirukan cerita anaknya. Fajrin kemudian menjalani operasi di RSU Ambarawa selama 2 jam. Hingga, Selasa (28/11) dia masih dirawat di rumah sakit tersebut. ''Mungkin masih perlu perawatan tiga hari di rumah sakit,'' jelas Fajar, kakaknya. Dia berharap orang tua siswa yang menabrakan tubuhnya ke adiknya itu mengganti seluruh biaya pengobatan dan operasi. Keluarganya sangat butuh bantuan karena sang ayah, H Robi'un (58), seorang guru di sebuah SMP negeri di Semarang, sedang dirawat di RSU Ungaran karena infeksi saluran kencing. Ancaman Baru Benarkah Fajrin menjadi korban pengaruh buruk acara Smackdown yang ditayangkan Lativi? Boleh jadi hal itu masih harus dibuktikan dengan melakukan reka ulang perlakuan dua temanya terhadap dirinya di sekolah. Namun, kekhawatiran para orang tua terhadap wabah Smackdown bukan sesuatu yang berlebihan. Sebab, anak-anak usia SD dan SMP sangat menyukai tontonan itu dan memiliki kecenderungan untuk mempraktikkannya saat istirahat atau pulang sekolah. Tak hanya itu, ungkapan bernada acaman seperti ''tak sikat kamu'', ''tak saduk'', atau ''tak gibal'' yang biasa diucapkan anak-anak kepada teman sebayanya kini nyaris tak terdengar lagi. Yang lebih sering terdengar saat istirahat di sekolah atau di kampung-kampung adalah ucapan, ''Kalau kamu macam-macam saya Smackdown lho!''. Kondisi tersebut jelas sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan. Betapa tidak, selain kasus yang dialami siswa SMP di Ungaran tadi, Suara Merdeka juga menerima banyak informasi mengenai beberapa siswa SD yang mengalami luka-luka akibat di-''Smackdown'' temannya. Ada yang tangannya harus digip akibat di-Smackdown temannya, dan ada pula yang badannya demam selama beberapa hari.(Rony Yowono, Rukardi-41) | ||||