| Sabtu, 25 Nopember 2006 | SALA |
Waspadai Campak di Musim HujanSOLO - Memasuki musim hujan masyarakat diimbau agar waspada terhadap anak-anak berusia di bawah lima tahun (balita). Pada saat demikian biasa sering terjadi wabah campak yang menyerang anak-anak. Beberapa kasus campak dengan komplikasi sering terjadi dan bisa mengakibatkan kematian. Terakhir ditemukan saat kejadian luar biasa (KLB) di Sukoharjo tahun lalu. ''Tingkat kematian di Asia Tenggara termasuk tinggi. Angka kejadiannya 30 juta-40 juta tiap tahun dengan angka kematian 777.000 balita. Indonesia termasuk di dalamnya sehingga perlu waspada,'' kata Dr dokter Harsono Salimo SpA (K) di kampus Fakultas Kedokteran UNS, kemarin. Dia baru saja meraih gelar doktor bidang kedokteran anak di Unair dengan penelitian tentang campak di Jawa dari sudut serologi dan epidemiologi molekuler. Salah satu temuan menarik dalam disertasinya adalah ternyata virus campak yang berkembang di Indonesia tidak hanya satu tipe sebagaimana selama ini dikenal. Namun ada tiga jenis, yakni genotipe G2, G3, dan D9. Bahkan pada beberapa kasus terakhir ada campak modifikasi yang ditandai oleh gejala klinis lebih cepat. Misalnya badan hanya panas dua hari langsung keluar bintik merah, penyebaran tidak merata seluruh badan, dan disertai batuk pilek. ''Banyak varian itu sangat wajar kalau selama ini banyak orang tua mengeluh. Anaknya sudah diberi imunisasi campak tetapi beberapa tahun kemudian terkena. Meski tak termasuk penyakit berbahaya karena sembuh sendiri, itu cukup merepotkan,'' ungkapnya. Imunisasi yang diberikan selama ini di Indonesia adalah dari galur (strain) CAM-70 dari virus genotipe A. Padahal yang beredar genotipe G2, G3, dan D9 sehingga tak mengherankan jika virus itu masih bisa menyerang seorang anak yang sudah diimunisasi. ''Semestinya vaksin campak dibuat dari jenis virus yang sama sehingga bisa memberikan efek kekebalan seumur hidup. Tetapi memang tidak mudah karena paling tidak harus diberikan tiga kali suntikan,'' kata dia. Selain itu, imunisasi diberikan tidak hanya sekali saat berumur sembilan bulan. Minimal dua kali, yakni satu lagi ketika anak berumur sekitar 3-4 tahun atau usia awal masuk sekolah. Campak biasa menyerang lagi pada usia tersebut. Perlu diwaspadai adalah komplikasi yang bisa bersamaan. Paling banyak komplikasi dengan diare, radang paru, radang telinga, bahkan radang otak yang biasa dikategorikan subacute scleroting pan-encephalitis (SCPE). Itu yang paling berbahaya. (an-27) |