| Sabtu, 25 Nopember 2006 | PANTURA |
Berat, Risiko NelayanNASIB nelayan memang belum menguntungkan. Meski harus berpisah dengan keluarga hingga beberapa hari, bahkan beberapa bulan, pendapatannya tetap pas-pasan. Padahal risikonya sangat berat, yakni kematian, yang selalu menghantui. Seperti dialami kapal Binatur Baru yang tenggelam akibat diserang lisus di perairan Brebes. Kecelakaan itu, menurut Ketua HNSI Kota Pekalongan Rasdjo Wibowo, murni bencana alam. Penyebabnya adalah angin lisus yang datang mendadak karena cuaca buruk. Tentang hal itu, dia mengaku tidak bisa menyalahkan nakhoda atau pemilik kapal. Sebab seandainya tidak ada lisus, kapal akan berjalan wajar sebagaimana biasa dilakoni para nelayan. ''Kita tidak bisa berbuat banyak kecuali menyisir pantai utara Jawa. Apalah daya, beberapa kali para nelayan menyisir pantai, namun sampai kini belum ada hasilnya. Meski demikian, HNSI akan tetap meminta para nelayan yang mencari ikan di pantura untuk mengawasi kemungkinan munculnya Rowi dan Caswondo, warga Krapyak Lor, Pekalongan itu,'' katanya. Dalam musibah tersebut, bukan hanya nelayan yang rugi, pemilik kapal pun mengalami kerugian yang besar. Modal ratusan juta hilang begitu saja akibat kapalnya tenggelam. Untuk itu, setiap melaut, para nelayan diminta mempersiapkan berbagai peralatan pengamanan diri bila terjadi kecelakaan di tengah laut. Selain itu, ketika berangkat melaut, para nelayan diminta untuk memperhitungkan cuaca sehingga setidaknya bisa menghindarkan diri dari kemungkinan buruk di tengah laut, baik berupa ombak besar maupun angin kencang. Selain itu juga harus berdoa agar mendapatkan keselamatan dari Yang Kuasa. ''Kalau itu sudah dilakukan, kita berharap bisa selamat sampai kembali lagi ke rumah bersama keluarga. Kalau ada kecelakaan, itu memang kehendak Tuhan,'' katanya. Mengenai kebiasaan nelayan Pekalongan, diakui sudah memperhitungkan cuacanya. Namun cuaca saat ini memang sulit diprediksi sehingga nelayan berangkat mencari ikan pun masih meraba-raba cuaca yang akan terjadi di lautan. (Trias Purwadi-52n) |