logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 25 Nopember 2006 PANTURA
Line

Rencana Kenaikan Harga Pupuk Dikeluhkan Petambak

TEGAL- Petambak di wilayah Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat dan Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, mengeluhkan rencana pemerintah menaikkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk urea. Kenaikan 50% per 1 Januari mendatang, dari Rp 1.200/kg menjadi Rp 1.800/kg dinilai akan semakin memberatkan mereka.

H Sholeh, petambak asal Kelurahan Muarareja, yang mempunyai tambak di Kelurahan Panggung mengatakan, rencana kenaikan harga pupuk membuat resah para petambak. Pasalnya, adanya kenaikan harga pupuk yang tidak diimbangi kenaikan harga bandeng, akan membuat kondisi petambak makin terpuruk.

"Dengan harga pupuk urea yang sekarang saja, petambak kadang merugi karena ikan banyak yang kerdil akibat hama seperti siput, ikan mujair, dan ikan jambrung. Selain itu, harga ikan relatif rendah," tutur dia.

Dia mengaku membeli urea Rp 75.000/sak isi 50 kg. Selama ini, kata Sholeh, petambak menggunakan pupuk urea untuk menumbuhkan lumut. Rumput tersebut berfungsi menstabilkan suhu air tambak, juga sebagai tempat hidup plankton yang merupakan pakan ikan, di samping pelet.

Untuk satu hektare tambak dibutuhkan enam kuintal urea, yang diberikan empat kali. Urea diberikan sebulan sekali, 1,5 kuintal hingga usia panen, yakni empat bulan.

Dalam memelihara bandeng, selain mengeluarkan biaya untuk pembelian pupuk urea, petambak juga menambah dana guna pembelian benih, obat pemberantas hama, vitamin ikan, dan upah pekerja.

Hingga Panen

Sholeh yang mempunyai tambak seluas 7,5 ha paling tidak harus mengeluarkan biaya Rp 17 juta sekali menebar benih hingga panen. Selain itu, dia terbebani pajak dan retribusi Rp 900.000/ha/tahun. Dia hanya menebar benih dua kali dalam satu tahun.

Hasil panen terakhir, yakni pada September lalu 2,5 ton dengan nilai Rp 20 juta. Jadi, dia merugi Rp 375.000 bila dihitung dari modal dan pajak yang dikeluarkan.

Menurut dia, bisa dibayangkan kerugian yang akan ditanggung jika pemerintah berencana menaikkan harga pupuk.

"Pasti lebih besar. Kami masih dihadapkan pada permasalahan harga bandeng yang susah sekali naik. Apalagi harus menghadapi harga pupuk yang mahal," keluhnya.

Hal serupa disampaikan oleh Arifin (50), petambak di Kelurahan Panggung. Dia mempunyai tambak seluas 3,5 ha di dekat Pantai Panggung. Arifin mengaku keberatan dengan rencana kenaikan harga pupuk, terutama urea.

Bahkan untuk mengurangi biaya operasional tambak, dia mengurusi sendiri tambaknya, tidak mempekerjakan orang. Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan, dokter hewan Basuki Pudjianto berharap rencana kenaikan harga pupuk ditinjau ulang.

Kecuali ada kompensasi yang bisa dinikmati petani dan petambak, seperti harga gabah dan bandeng dinaikkan.

Menurutnya, supaya tidak terjadi kelangkaan pupuk yang dapat mengakibatkan kerugian bagi petani dan petambak, pihaknya akan mengaktifkan kerja tim pengawasan pupuk.(H26-52s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA