| Sabtu, 25 Nopember 2006 | WACANA |
TAJUK RENCANADerita Masri'ah, Tergerakkah Kita Merasakannya?- Derita Masri'ah, adakah yang tergerak untuk ikut merasakannya? Perempuan 38 tahun warga Desa Pagejugan, Brebes itu kini tengah menjalani pemeriksaan dan operasi lanjutan kanker rahim di RS Dokter Kariadi Semarang. Selama empat bulan, dia menjalani hidup secara tidak normal karena sebagian ususnya menjurai ke luar perut. Kehidupan keluarga yang sudah kekurangan menjadi bertambah parah setelah rumah yang ditempati sekarang digadaikan Rp 12 juta untuk biaya pengobatan. Askes untuk keluarga miskin (Askes gakin) tak mampu menutup kebutuhan, karena obatan-obatan yang digunakan tidak masuk dalam daftar asuransi tersebut. - Yang dihadapi oleh perempuan buruh tani itu adalah potret nyata sebagian saudara kita. Masih untung derita Masri'ah terpantau oleh pers, sehingga terangkat sebagai "persoalan publik". Jangankan berobat dengan biaya mahal, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja dapat dibayangkan betapa orang-orang seperti Masri'ah harus membanting tulang. Belum lagi biaya-biaya untuk sekolah anak dan perkembangan mereka. Keterbatasan ruang dan kemampuan media untuk "menyuarakan" potret keterjepitan hidup masyarakat pinggiran inilah yang acap memunculkan keterkejutan-keterkejutan, padahal tentu banyak yang belum mendapat kesempatan. - Dalam dinamika kehidupan yang kompetitif seperti sekarang, kecenderungan untuk berpikir tentang kesurvivalan diri sangatlah tinggi. Yang penting bagaimana dengan diri kita, keluarga kita. Di sinilah media seperti pers dapat memainkan peran untuk membangkitkan naluri dasar manusia berupa rasa ketergerakan pada penderitaan sesama. Kedahsyatan tsunami di Aceh dan pantai selatan Jawa beberapa waktu lalu, juga berbagai bencana alam diangkat oleh media menjadi pemicu ketergerakan simpati dan empati yang sangat kuat. Maka di tengah fenomena keindividualistisan kita masih bisa berharap tentang mencuatnya rasa sepenanggungan. - Penderitaan Masri'ah memfokus pada ketidakmampuan memenuhi pembiayaan pengobatan, dan kondisi demikian tentu banyak dialami oleh saudara-saudara kita, yang bisa jadi berujung pada kepasrahan menerima keadaan paling buruk jika tidak mendapat uluran tangan dari para penolong. Askes gakin dapat ditoleh sebagai solusi, tetapi tentu terdapat keterbatasan-keterbatasan. Ketergerakan para dermawan juga masih harus menunggu ditemukannya kasus-kasus lewat pemberitaan media. Lalu bagaimana dengan covering aparat birokrasi pemerintah menghadapi kasus yang mungkin terjadi di lingkungan tempat tinggal, kampung, atau desanya? - Selain Askes gakin, perhatian oleh pihak rumah sakit pemerintah maupun swasta sebagai bentuk keberpihakan kepada kaum papa rasanya juga perlu terus didorong. Kita yakini program-program semacam itu memang ada, tetapi masih diperlukan political will yang lebih kuat karena semua menyangkut biaya. Pada akhirnya, semua unsur memang mesti menyatu untuk memberi perhatian pada orang-orang yang terpinggirkan seperti Masri'ah. Temuan dan pemberitaan pers jangan cepat dicurigai sebagai blow up yang melemahkan kinerja aparat pemerintah pada bidang-bidang tertentu, tetapi justru sebagai mitra untuk tujuan yang sama. - Rasa sepenanggungan menjadi sangat penting untuk terus dikembangkan di antara kita sebagai kesadaran berpihak secara nyata. Kita sudah sangat kenyang dengan jargon-jargon politik yang memberi janji manis kepada rakyat. Upaya Masri'ah menggadaikan rumah untuk biaya pengobatan, juga kegigihan pers dalam membangkitkan simpati dan empati, hakikatnya merupakan "gugatan" kepada para elite untuk memberi jalan keluar terhadap problem-problem sosial semacam itu. Dari perspektif itulah kita menjadi makin paham, mengapa sumbangan langsung tunai (SLT) seolah-olah merupakan persoalan "hidup-mati" bagi sebagian rakyat kita. |