logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 25 Nopember 2006 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Menyelamatkan Anak-anak di Bawah Umur

- Di Jawa Tengah, sekitar 10.000 lebih anak-anak usia di bawah 18 tahun terpaksa harus bekerja di berbagai perusahaan. Suatu jumlah yang bisa disebut cukup besar apalagi tersebar di berbagai daerah. Mereka bekerja di berbagai sektor, terutama tentu di sektor industri. Meskipun tidak menutup kemungkinan di banyak sektor menyerap dalam jumlah cukup besar. Untuk mendapatkan data akurat dan mutakhir biasanya terlalu rumit karena umumnya perusahaan perekrut lihai dalam ''menyembunyikan'' anak-anak pekerja. Akan tetapi, kecenderungannya pastilah meningkat bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya seiring dengan semakin tingginya kesulitan ekonomi.

- Masalah anak-anak yang bekerja di bawah usia seharusnya bukan persoalan hari ini saja. Sudah cukup lama masalah ini tetap menjadi persoalan besar. Beberapa penelitian menunjukkan, tingginya jumlah anak-anak pekerja lebih disebabkan faktor-faktor kemiskinan. Efek dari kemiskinan ini tentu saja amatlah panjang yang melingkupi semua aspek kehidupan, mulai dari rendahnya kualitas hidup anak-anak, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Kemiskinan yang terlalu banyak akan memicu kerawanan sosial, ekonomi, dan keamanan. Akan tetapi, selalu menjadi isu sentral bagi politikus ketika sedang berkampanye. Bahkan, angka-angka kemiskinan bisa menjadi isu politik yang panjang ketika menyangkut daya akurasinya.

- Kemiskinan secara jelas menurunkan kualitas hidup anak-anak. Di tengah keterjepitan hidup yang mahadahsyat, para orang tua dengan terpaksa menerapkan ''jurus mabuk'' untuk menyelamatkan kehidupan. Langkah itu tentu diambil di tengah keterpaksaan, keterimpitan, dan keputusasaan. Ketika seorang ibu tega ''menjual'' anak perempuannya pastilah itu bukan tindakan penuh nalar. Tindakan itu hanya mungkin dilakukan ketika tidak lagi tertemukan jalan yang indah, atau setidaknya wajar dalam mempertahankan hidup. Orang tua tak akan membiarkan anak-anaknya masuk bursa kerja ketika mereka tengah ''berada''. Sebaliknya, orang tua akan ''melepas'' anak-anak dengan penuh ketegaan dan keterpaksaan berada di dalam jaringan industri, bahkan industri paling ilegal pun.

- Anak-anak pekerja bagi para pengusaha bisa dilihat dari banyak sisi. Pada satu sisi, mungkin benar bahwa perusahaan ''hanya'' menampung keinginan untuk sedikit melepaskan jerat kemiskinan. Bahasa santunnya kira-kira perusahaan hanyalah menolong. Daripada berkeliaran tidak karuan, maka ketika berada dalam lingkungan industri mereka bisa lebih produktif, berkemampuan melatih dan mengembangkan diri, dan sebagainya. Di sisi lain, hal itu merupakan bentuk eksploitasi karena bisa dibayar murah, tidak neko-neko, dan juga mudah dikendalikan. Dua keadaan yang berbeda itulah yang terjadi sekarang ini dan akan terus berlangsung sepanjang kemiskinan itu masih mendera.

- Nah, di sanalah sebenarnya peran pemerintah dimainkan. Keadaan itu tidak mungkin dilarang sepenuhnya, karena menyangkut kehidupan anak-anak dan keluarganya. Jika dilarang, siapa yang bertanggung jawab menghidupi mereka. Pemerintah? Kita amat tahu, pemerintah sudah terlalu sarat beban baik dari dirinya sendiri maupun rakyatnya. Barangkali yang dibutuhkan adalah bentuk-bentuk kompromi, yakni meskipun anak-anak bekerja, tetapi tetap diberikan kesempatan memperoleh pendidikan secara memadai. Misalnya, bentuk pendidikan itu diselenggarakan oleh pemerintah bekerja sama dengan perusahaan melalui model-model pendidikan paket.

- Saatnya kita lebih peduli tentang nasib anak-anak pekerja, bukan sekadar memikirkan masa depan mereka, tetapi juga masa depan bangsa ini. Tidak lupa kita memuji peran lembaga swadaya masyarakat yang tanpa kenal lelah peduli terhadap nasib anak-anak itu. Peran pemerintah, dalam hal ini Departemen Tenaga Kerja dan Trasmigrasi tentulah dominan, bukan sekadar memantau keberadaan anak-anak dalam lingkungan kerja industri, tetapi untuk menyelamatkan masa depan mereka. Peduli pada anak-anak pekerja sudah seharusnya dirancang dengan strategi pengurangan kemiskinan secara bersamaan dan komprehensif. Membiarkan anak-anak tidak berada dalam dunia yang seharusnya memang sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA