| Sabtu, 25 Nopember 2006 | SEMARANG |
Lahan Sekitar Tebing Harus DikosongkanSEMARANG - Lahan di sekitar tebing seharusnya kosong, tidak untuk permukiman. Hal itu untuk menghindari risiko jatuh korban karena tanah longsor. Batas aman permukiman dari tebing, minimal sama dengan ketinggian tebing, baik di atas maupun di bawah. ''Jika tinggi tebing 50 meter misalnya, daerah yang dikosongkan minimal 50 meter dari kaki tebing,'' tutur Ketua Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) Ir Suparman MT, kemarin. Namun mengingat tebing-tebing di Semarang telah penuh rumah, pemindahannya butuh biaya sosial yang sangat tinggi. Upaya lain yang bisa dilakukan, pengamanan tebing. Namun dana yang dibutuhkan juga tak kalah besar. ''Pengamanan itu bisa dengan memagari tebing menggunakan batu kali atau membuat terasering sehingga kemiringannya kurang dari 90 derajat,'' ungkap dia. Bila kedua cara itu dinilai menghabiskan banyak dana, bisa ditempuh langkah ketiga, yakni memperkecil beban air. Selama ini, karena banyak air yang masuk dari permukiman sekitar ke celah-celah tebing, kekuatan tanah menjadi turun. Karena itu, agar air permukaan tidak lari ke sisi tebing, harus dibuat saluran keliling dan dialirkan ke tempat lain. ''Namun cara ini tidak menjamin 100 persen tebing aman dari longsor,'' ujarnya. Khusus tebing di Ngemplak Simongan dengan kemiringan 90 derajat, sangat mungkin longsor kembali. Kendati harus tetap diantisipasi, upaya pengendalian bencana di lahan itu diperkirakan membutuhkan banyak dana. ''Tebing seperti ini pasti akan longsor. Sebab tanahnya lunak dan tersusun atas tanah liat berpasir. Kalau jenuh air, cepat ambrol. Namun ada juga tebing terjal yang nggak longsor karena tanahnya keras. Tebing seperti di Ngemplak itu tidak aman, apalagi kalau di atasnya ditambahi beban rumah serta jalan.'' Kalaupun bisa diberi pelindung, lahan tetap tidak boleh terlalu terbebani. Apalagi sebagian tebing itu sekarang sudah padat oleh permukiman. Akibatnya, warga yang tinggal di atas terancam longsor, sementara di bawah sangat mungkin terkena timbunan, sebagaimana yang dialami tiga rumah beberapa hari lalu. Sembilan Kecamatan Kepala Kesbanglinmas Sujitno menyampaikan, sembilan dari 16 kecamatan yang ada di Kota Semarang rawan longsor, terutama daerah yang memiliki tebing-tebing tinggi. Kesembilan kecamatan itu adalah Gajahmungkur, Gunungpati, Candisari, Ngaliyan, Tugu, Tembalang, Semarang Selatan, Semarang Barat, dan Banyumanik. ''Khusus Kecamatan Semarang Barat, terdapat sembilan kelurahan rawan longsor, yakni Ngemplak Simongan, Krapyak, Gisikdrono, Bongsari, Bojongsalaman, Manyaran, Kalibanteng Kulon, Kalibanteng Kidul, dan Kembangarum,'' ungkap dia, seperti disampaikan YMT Kepala Kantor Infokom Achyani SSos. Saat ini, pihaknya telah menginventarisasi daerah rawan longsor. Langkah itu akan ditindaklanjuti dengan sosialisasi manajemen penanganan bencana. Selain itu, juga telah disiapkan titik-titik evakuasi jika terjadi bencana, termasuk distribusi bahan-bahan logistik. (H9, H12,H6,dky-18m) |