| Sabtu, 25 Nopember 2006 | SEMARANG |
Penurunan Tanah Lebih 100 Mm/TahunSEMARANG - Penurunan tanah di Kota Semarang bisa mencapai lebih 100 mm per tahun. Selain pengambilan air tanah, kondisi tanah juga sangat memengaruhinya. Kabid Pembangunan III Bappeda Kota Semarang M Farchan, Jumat (24/11) mengemukakan, hal itu telah diteliti berbagai pihak. Salah satunya Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2001 lalu. ''Angka penurunan tanah itu, antara satu daerah dan lainnya berbeda,'' ungkap dia. Contohnya, wilayah Genuksari dan sekitarnya yang rata-rata mencapai 11,25 mm per tahun. Namun wilayah Bangetayu justru lebih tinggi, yakni 58,50 mm dan Pedurungan Tengah 88 mm per tahun. Paling Drastis Angka penurunan tanah yang paling drastis terjadi di Bandarharjo, rata-rata 171 mm per tahun. Untuk Tanah Mas bagian utara 128 mm, sementara bagian selatan 130 mm per tahun. Farchan juga mengungkapkan, jika penurunan tanah di Kota Semarang itu berlangsung secara alami, prosesnya akan berhenti sekitar 500 tahun setelah pendangkalan. Dia pun memberikan gambaran bahwa pendangkalan Semarang bermula pada abad ke-10. Saat itu, Bukit Bergota masih berupa pulau yang terpisah dari daratan induk. Proses itu berlanjut dan pada abad ke-15 hingga abad ke-18 terbentuk daratan. Sekitar 93 tahun kemudian, garis pantai Kota Semarang semakin menjorok ke utara sekitar 581 meter dan 51 tahun kemudian menjorok 303 meter lagi. Saat ini, 1.200 hektare lahan dataran rendah antara lain di Semarang Barat, Semarang Utara, Gayamsari bagian utara, dan Genuk, berada di bawah permukaan air laut pasang. Akibatnya, saat pasang, air laut menggenangi daratan (rob). (G6-18m) |