logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 25 Nopember 2006 KEDU & DIY
Line

Di Radical, Musik Indie Berawal

SEKELOMPOK anak muda nongkrong sambil menikmati sajian live music di sebuah tempat di kawasan Gejayan, Yogyakarta. Sesekali terdengar tawa segar cowok-cewek berusia belasan tahun itu. Tak jarang, mereka ikut melantukan tembang bersama penyanyi yang sedang mengisi acara. ''Lagi...lagi...tambah terus...,'' teriak mereka sambil mengacungkan tangan.

Di manakah anak-anak muda itu berada? Ah...mereka sedang menikmati malam di Radical Cafe, Jalan Gejayan. Memang, kafe itu merupakan tempat pelajar, mahasiswa dan pekerja muda nongkrong untuk melepas lelah setelah seharian beraktivitas.

''Sekadar duduk, bersantai, makan, minum, tak cukuplah. Bagi mereka, menyaksikan pentas musik, gratis lagi, adalah hiburan tersendiri,'' ungkap Manajer Operasional Radical Cafe Kadek Purwata.

Memang, di sana anak-anak muda tak ingin melewatkan malam begitu saja. Menyegarkan diri menjadi pilihan untuk mengendurkan syaraf. Di sanalah mereka bisa duduk santai, menikmati minuman oplosan bartender sambil mendengarkan musik. Tambahannya, ngemil tempe, tahu, atau kentang goreng. Hmm...tak terasa bisa semalaman di sana.

Radical selama ini menjadi pilihan anak muda Yogyakarta, bahkan mereka yang berasal dari Jawa Tengah. Tak jarang, pengunjung datang dari Semarang, Solo, Purwokerto, Magelang, Klaten, dan kota-kota sekitar. Mereka sengaja meluangkan waktu untuk mencicipi minuman ramuan para bartender yang menjadi menu andalan kafe tersebut.

''Yaahh..beginilah kami melepas lelah agar tak stres, mikir kuliah terus bisa-bisa cepat tua. Di sini kan bisa lirik-lirik, siapa tau dapat pacar ha..ha...haa...,'' seloroh Satria.

Mahasiswa PTS itu sering kongko-kongko di Radical, paling tidak seminggu dua kali. Waktu yang tidak boleh terlewatkan, Sabtu malam Minggu. Maklumlah, namanya juga anak muda, tak bisa berdiam diri di kos apalagi pas liburan.

Musik Indie

Satria dan teman-teman juga pengunjung lain merasa nyaman di sana. Sebab, mereka tak hanya duduk berdiam diri. Manajer Program dan Pemasaran Radical Roy Saputra menuturkan, pengunjung bisa ikut bermain musik sekadar mengisi acara atau mengembangkan kemampuan.

Banyak kafe di Yogyakarta dan Jawa Tengah, namun menurut Roy, sangat sedikit yang peduli dengan kemampuan anak-anak muda dalam bermusik. Akibatnya, ratusan grup musik pemula, biasa disebut indie, tak punya tempat berkreasi atau berapresiasi karena keterbatasan dana. Nah, berangkat dari kondisi itulah dia selalu menampilkan kelompok musik indie. Bahkan dia pernah menggelar festival dan pesertanya membeludak.

Itulah yang membuat pelajar, mahasiswa dan para pekerja muda betah semalaman berada di sana. Selain tak ada biaya masuk, menyaksikan musik juga gratis. Begitu pula saat mereka ingin tampil di pentas. Pihak kafe hanya menarik tiket pada acara-acara tertentu. Namun sehari-hari, bebas ongkos masuk.

Kadek dan Roy mengambil langkah itu agar pengunjung tidak merasa terbebani. (Agung PW-39m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA