| Sabtu, 25 Nopember 2006 | KEDU & DIY |
Masyarakat Diingatkan Tidak "Termakan" IklanYOGYAKARTA - Hampir semua produk dan jasa, baik untuk kebutuhan primer, sekunder maupun tersier, ditayangkan 24 jam nonstop di berbagai stasiun televisi (TV). Belum lagi oleh media cetak, radio, papan reklame, dan bentuk-bentuk yang lain. ''Jadi bisa dikatakan bahwa dunia dewasa ini bagaikan sampah wacana iklan. Masyarakat benar-benar diterpa iklan yang terus-menerus mengusik hidup mereka. Hampir-hampir masyarakat tidak bisa menutup mata dan telinga untuk menghindarinya. Hal itu dikatakan dosen Linguistik serta Bahasa Prancis Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes) Drs B Wahyudi Joko Santoso MHum, usai menyampaikan disertasinya untuk meraih doktor Ilmu Humaniora (Linguistik) dari UGM Yogyakarta. Pada ujian terbuka di Sekolah Pascasarjana UGM baru-baru ini, promovendus dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Bertindak selaku promotor adalah Prof Dr I Dewa Putu Wijana SU MA, dengan kopromotor Prof Dr Soepomo Poedjosoedarmo dan Prof Dr Harimurti. Berdasar penelitian Wahyudi, tidak bisa disangkal bahwa eksistensi iklan lewat tayangan televisi, di satu sisi memberikan informasi dan hiburan kepada pemirsa. Namun di sisi lain, juga memberikan pengaruh negatif seperti perubahan pola pikir, sikap, serta perilaku sebagai dampak dari interaksi intens antara pemirsa dan iklan-iklan itu. Oleh sebab itu, untuk meminimalkan berbagai dampak negatifnya, dosen Unnes itu meminta masyarakat tidak mudah termakan iklan. Sebab realitas sosial dalam iklan berbanding terbalik dengan realitas kemasyarakatan. Artinya, apa yang dijanjikan tidak sama dengan kenyataan di lapangan. Misalnya, iklan pemutih wajah hampir tidak mungkin bisa memutihkan wajah seseorang yang kecokelatan, apalagi kehitaman. (P12-39m) |