logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 25 Nopember 2006 BUDAYA
Line

Kembalikan Pathet pada Pakemnya

JAKARTA-Modernitas memang bagai pisau bermata dua. Di satu sisi, ia berhasil membebaskan pemahaman seorang kreator, dalam hal ini seniman untuk membebaskan interpretasinya terhadap sebuah karya.

Di sisi lain, atas nama dekonstruksi, ia mengklaim menghasilkan karya kontemporer dengan menerabas pakem-pakem yang ada atau mapan. Meski akibatnya, dia harus menelantarkan budaya tradisi di Indonesia dengan alasan ketinggalan zaman, tidak sesuai dengan citra kehidupan masa kini, dan berpuluh alasan lainnya.

Hal inilah yang membuat Prof Dr Sri Hastanto SKar menerbitkan buku hasil penelitiannya yang berjudul Pathet, Harta Budaya Tradisi Jawa yang Terlantar.

Lulusan Konservatori Karawitan Indonesia di Surakarta tahun 1965 ini bahkan memperdalam penelitiannya terhadap pathet atau rasa musikal dalam karawitan Jawa, ketika menuangkan kegelisahannya dalam tesis doktoral.

Sejajar

Tesis berjudul "The Concept of Pathet in Central Javanese Gamelan Music" itu berhasil dipertahankannya ketika meraih gelar PhD dalam bidang Etnomusikologi pada University of Durham, Inggris, 21 tahun silam.

Hasilnya, buku setebal 70 halaman yang mengupas konsep pathet dalam karawitan Jawa, secara keilmuan menjadi wacana penguat betapa rasa musikal dari musik tradisi karawitan Jawa sejajar dengan konsep harmoni di dunia Barat.

"Konsep pathet dalam karawitan Jawa, dan berbagai konsep yang terkandung dalam karya lain budaya kita, merupakan pengetahuan unggulan yang mampu bersaing dan dapat disejajarkan dengan konsep-konsep budaya yang dimiliki oleh berbagai bangsa di negara maju," terang Sri Hastanto, baru-baru ini.

Menurut dia, penelantaran pathet sebagai konsep musikal dalam karawitan Jawa, bukan karena pathet tidak dapat mengikuti perkembangan zaman, melainkan karena pewarisnya tidak mampu menjelaskan apa dan bagaimana pathet itu.

Kecenderungan menelantarkan pathet dalam karawitan Jawa ini semakin terlihat ketika para musikus muda lebih gemar mengeksplorasi bunyi dan mementingkan karya yang "bombastis" daripada mengutamakan rasa musikal.

Menurut rencana, buku barunya tersebut akan dia bacakan pada pidato pengukuhan jabatan Guru Besar dalam bidang Etnomusikologi pada Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Sabtu ini (25/11) di kampus ISI Surakarta. (G20-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA