| Selasa, 21 Nopember 2006 | NASIONAL |
Kiai Idris: Insya Allah Pertemuan Langitan FinalSURABAYA - Pertemuan para kiai sepuh NU di Pondok Langitan, Widang, Tuban untuk membicarakan pembentukan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) direncanakan bersifat final. Pada pertemuan itu diharapkan ada keputusan akhir tentang wadah PKNU sebagai solusi setelah konflik PKB tak kunjung selesai. Pemimpin Pesantren Lirboyo Kediri KH Idris Marzuki kepada wartawan, Senin (20/11), mengemukakan, pertemuan Langitan merupakan kelanjutan dari pertemuan 17 kiai sepuh NU sebelumnya. Mereka yang tergabung dalam Tim 17 sebelumnya menggelar pertemuan di Pondok Ploso, Mojo, Kediri. Hasilnya, pertama, para kiai bersepakat membentuk wadah politik baru sebagai kelanjutan perjuangan PKB hasil muktamar Surabaya. Kedua, rencana pendirian partai baru tersebut akan dimatangkan Tim 17 pada pertemuan Langitan. ''Insya Allah pertemuan Langitan besok adalah final sehingga kita tak terombang-ambing lagi," tandas Kiai Idris Marzuki. Dia mengungkapkan, jika rencana pembentukan partai baru ini disepakati para kiai sepuh NU, maka mereka akan total untuk membidani kelahiran partai tersebut tanpa meninggalkan umat dan santri. Daya Jual Tak menutup kemungkinan, pada pertemuan Langitan nanti para kiai sepuh NU yang tergabung dalam Tim 17 akan lebih fokus pada perumusan nama partai agar memiliki daya jual. Sebab, nama PKNU yang dirumuskan sekarang masih mengandung kontroversi. Tim 17 yang bertugas menggodok rencana pembentukan partai baru itu, antara lain KH Abdullah Faqih (Ketua/Langitan Tuban), KH Mas Subadar (Pasuruan), KH Abdurrahman Chudlori (Tegalrejo Magelang), KH Idris Marzuki (Lirboyo, Kediri), KH Muhaiminan Gunardo (Parakan, Temanggung), KH Warsun Munawwir (Krapyak, Yogyakarta), KH Sholeh Qosim (Sidoarjo), KH Sofyan Miftahul Arifien (Situbondo), KH Ma'ruf Amien (Jakarta), KH Abdullah Schaal (Bangkalan, Madura), KH Hasbullah Badawi (Cilacap), dan KH Aniq Muhammadun (Pati). Sementara itu pada kesempatan sebelumnya, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyatakan gagasan yang dia sampaikan agar kiai NU kembali ke rumah lama (PPP) berdasarkan pada pertimbangan strategis karena terjadi kebuntuan pemecahan konflik di PKB. Gus Ipul mengemukakan, sejak sekarang semua partai hendaknya diberikan kesempatan melakukan konsolidasi organisasi dalam menghadapi Pemilu 2009. PKB yang dirundung konflik sejak muktamar Semarang harus segera diakhiri. Begitupun pemikiran dan langkah sejumlah kiai yang memiliki pilihan membentuk wadah politik juga harus dihargai. "Persoalan nanti apakah pemilih NU terpecah atau tidak. Saya yakin, warga NU cerdas. Itu bentuk demokrasi," ujarnya. Para kiai NU yang menengok kembali rumah lama juga mesti mendapat penghargaan dan pemahaman yang proporsional. "Sudahlah, konflik PKB kita akhiri. Kalau dibahas itu clear. La ini mau pindah ke PPP, dikatakan kutu loncat. Padahal, pemikiran saya itu bagian dari solusi," tambah Gus Ipul. (G14-60j) |