| Selasa, 21 Nopember 2006 | NASIONAL |
Perjalanan Wisata ke Singapura (1)Berkaus Oblong Hadiri Acara PresidenSingapore Tourism Board (STB) selama empat hari (10-13 November) mengundang sejumlah wartawan dari berbagai negara termasuk dari Indonesia. Selama di sana, wartawan diajak melihat persiapan perayaan Natal yang dikemas dalam Christmas in Tropics. Berikut cacatan wartawan Suara Merdeka Imam Nuryanto yang ikut diundang. SEBELUM berangkat ke Singapura, saya diberitahu Linda Riana dari Singapore Tourism Board (STB) di Jakarta, para wartawan juga akan diundang pada pembukaan Christmas in the Tropics Light yang dilakukan Presiden S R Nathan di kawasan Ngee Ann City, Civic Plaza, Sabtu (11/11) pukul 19.00 waktu setempat. Karena itu, saya menyiapkan baju batik dari Tanah Air untuk datang ke acara yang juga dihadiri Nyonya Nathan itu Lima menit sebelum acara mulai, saya dan rombongan tiba di lokasi acara. Saya heran, pengamanan acara yang akan dihadiri presiden biasa-biasa saja. Tak lebih dari 20 polisi dan army (sebutan militer Singapura-Red) berjaga-jaga di lokasi. Itu pun polisi lebih banyak mengatur arus lalu lintas sedangkan army hanya berjaga-jaga di dekat panggung kehormatan. Tidak ada pengaman ektraketat dan metal detector. Masyarakat tetap bisa beraktivitas seperti biasa di sekitar lokasi. Kondisi itu berbeda sekali jika ada acara presiden di Tanah Air dengan pengamanan superketat dan melibatkan puluhan aparat keamanan. Untuk mengurus ID card pun gampang, tinggal lapor ke bagian penerima tamu di lokasi acara. Setelah ditanya identitasnya, petugas memberi tanda masuk. Kartu identitas itu sederhana saja, tidak ada foto atau lainnya. Cukup stiker kain bertulisan ''Media'' yang ditempelkan di baju atau tangan. Setelah itu, dipersilakan mencari tempat duduk sesuai dengan identitas itu. Fotografer diberi kesempatan yang leluasa untuk mengambil gambar presiden. Tidak ada aturan protokol ketat. Bahkan, sejumlah rekan wartawan negara lain yang hadir dalam acara itu hanya memakai kaus oblong dan bisa leluasa bertemu dengan presiden. ''Di sini tidak ada aturan baku kepresidenan. Acara Presiden Singapura ya seperti ini. Siapa saja boleh ikut, termasuk baby sitter,'' ungkap Media Ambassador dari STB Danny Ali sambil menunjuk seorang perempuan yang sedang menggendong bayi persis di depan para wartawan. Yang unik lagi, Presiden hanya didampingi ketua panitia Lii Cing dan Hitachi's Chief Executive for Asia Shunsuke Ohtsu selaku sponsor kegiatan itu. Tak ada pejabat pemerintahan yang mengikuti kegiatan tersebut. Kondisi ini jelas lain dengan di Indonesia yang selalu melibatkan pejabat baik menteri maupun gubernur atau wali kota/bupati jika ada acara presiden ke daerah. Meskipun lokasi acara sekitar 50 meter dari Orchard Road (pusat keramaian di Singapura-Red), jalan padat di kawasan itu tidak ditutup. Ratusan kendaraan lalu-lalang seperti biasa, hanya tidak boleh membunyikan klakson. Sebelum acara dibuka Presiden Singapura, diawali dengan lagu-lagu rohaniah yang dibawakan pelajar menenggah (setingkat SMU-Red). Dalam acara itu tidak ada sambutan Presiden, dia hanya menyalakan tombol sebagai tanda mulai kegiatan Christmas in the Tropics selama tujuh minggu mulai 11 November 2006 hingga 2 Januari 2007. Saat tombol lampu ditekan, serentak lampu Natal di kawasan Orchard sepanjang lebih kurang 6,4 km menyala. Spontan tepuk tangan riuh dari pemakai jalan mengemuruh. Saat itu juga lampu Natal yang menelan dana SGD 200.000 menyala sehingga kawasan Orchard berhias lampu kekuning-kuningan. Setelah itu, Presiden dan para tamu undangan meninggalkan lokasi tanpa ada pertanyaan dari pers. Sebab, konferensi pers sudah digelar sehari sebelum kegiatan pembukaan itu. Menurut STB Assistant Chief Executive (Leisure) Dr Chan Tat Hon, kegiatan Christmas in the Tropics itu memiliki daya tarik tersendiri bagi para turis . (41j) |