| Selasa, 21 Nopember 2006 | NASIONAL |
Warga Bogor Memilih Berdiam di RumahJARUM jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Tapi jalan-jalan utama Kota Bogor masih senyap. Kemarin, hampir tak ada aktivitas di Kota Hujan itu. Tidak terlihat anak-anak yang berangkat ke sekolah. Tidak tampak pula antrean kendaraan berpelat F di jalan utama menuju Jakarta dan Bandung. Pasar Baru Bogor yang selalu buka 24 jam biasanya ramai pedagang sayur dan pembeli, juga sepi. Puluhan angkutan kota bernomor 02 jurusan Sukasari-Babakan dan angkutan bernomor 11 jurusan Padjajaran-Bogor yang biasa mangkal di pasar tersebut, juga tidak ada. Pertokoan pun tak beraktivitas. Adapun di Terminal Baranangsiang hanya ada puluhan bus kosong yang diparkir. Bogor memang disterilkan untuk menyambut kedatangan Presiden AS George W Bush sejak pukul 06.00 hingga pukul 22.00. Ratusan aparat yang berada di ring II sekitar istana sudah menyebar ke sekeliling Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor (KRB) sampai ke Tugu Kujang. Mereka bersenjata lengkap dan memasang pagar kawat berduri yang menutup akses masuk ke Istana Bogor dan KRB. Puluhan mobil water cannon terlihat disiagakan bersama anggota Detasemen Khusus 88 Mabes Polri yang berseragam hitam lengkap dengan tameng dan helm. Mereka siap menghalau segala bentuk teror yang mengarah ke Istana dan Kebun Raya. Bahkan untuk keperluan itu sinyal ponsel diacak sejak pukul 06.00. Demikian pula dengan aktivitas warga di perkampungan Sempur Indah Bogor. Letaknya yang berada di ring II membuat perkampungan itu terisolasi selama sehari dengan kontak dunia luar. Maklum saja, jalan keluar perkampungan tersebut langsung menuju pintu utama Istana Bogor. Jalan keluar lainnya menuju Jalan Jalak Harupat yang berada di sekitar Istana Bogor turut pula dijaga. Keberadaan ratusan aparat di kompleks Sempur, juga mengundang rasa tidak nyaman warga. Ketua RT 1/RW 3 Kelurahan Sempur Djoni Wijaya (55) mengatakan, di satu sisi keamanan terjamin, tapi di sisi lain seperti dimata-matai. Sebab, hampir setiap hari aparat kepolisian patroli di kampung. ''Warga tahu kalau kampungnya disterilkan itu dari media massa, tidak pernah ada pemberitahuan ataupun permohonan maaf atas adanya penutupan akses dari pejabat terkait seperti pemkot dan petugas kepolisian setempat.'' Warga bingung dengan adanya pengalihan jalur lalu lintas, sebab rute pengalihan sangat jauh dari yang biasa dilewati. ''Kalau mau keluar dari kompleks harus menempuh jarak 5 kilometer dengan jalanan yang berliku. Itu pun sangat jauh sekali.'' Kendati demikian, ujar Djoni, tidak ada eksodus warganya keluar dari Bogor. Mereka justru memilih berdiam diri di rumah sambil menonton televisi. ''Ya, di satu sisi kita bangga Bogor kedatangan Presiden Bush dengan pengamanan superketat. Lagipula hanya satu hari. Kalau seminggu ya bisa pusing.'' Keluhan penghuni Kelurahan Sempur hanyalah sebagian kecil yang dirasakan atas ketidaknyamanan kedatangan Presiden Bush. Meski hanya beberapa jam, tapi kedatangan orang nomor satu di Amerika Serikat itu menimbulkan kerepotan selama berminggu-minggu. Jongos Kekesalan atas kedatangan Bush tidak hanya dirasakan warga sipil, tapi juga aparat keamanan. Seperti yang dialami seorang anggota tim antiteror dari Mabes Polri yang tidak bersedia disebut namanya. Dia mengaku, diperlakukan layaknya jongos oleh pasukan pengamanan Amerika. ''Mereka mengambil alih segalanya terkait pengamanan di dalam dan di sekitar Istana Bogor. Kami ini diperintah dengan seenaknya dan jika tidak menuruti perintah mereka, kami dimaki-maki,'' ungkapnya. Padahal dari segi kepangkatan pasukan kepolisian tidak jauh berbeda. Sebab yang memerintahkan mereka sama-sama anggota pengamanan dengan pangkat setingkat dari kepolisian. ''Ini yang kami tidak terima, tapi kalau yang menyuruh adalah atasan mereka ya kami bisa memaklumi.'' Dia pun mencontohkan pada saat melakukan pemasangan pagar kawat berduri ataupun menempatkan kamera CCTV di beberapa lokasi di sekitar Istana Bogor. ''Semua kami yang kerjakan tapi mereka malah melihat-lihat saja dengan senjata di tangan. Seolah kami ini seperti suruhan mereka,'' ucapnya kesal. Apalagi pasukan pengamanan asing tersebut bisa dengan leluasa keluar masuk Istana tanpa identitas. Sementara itu, aparat TNI dan Polri harus mengenakan identitas. Dia juga pernah kena semprot oleh pasukan pengawal Presiden Bush itu karena membiarkan wartawan mengabadikan gambar Hotel Salak Bogor. ''Saya dimarahi habis-habisan. Kami dikira lalai dalam tugas dan sangat tidak profesional,'' tuturnya. Seorang anggota Paspampres RI juga mengalami hal serupa. Dia diperlakukan tidak semestinya di dalam Istana Bogor. Sebab disuruh melakukan pengamanan di pagar Istana, sementara itu pasukan pengawal Presiden AS tersebut melakukan penjagaan di dalam. ''Semuanya harus melalui koordinasi dengan mereka, jika tidak kami bisa kena marah,'' tandasnya. (Ali Imron Hamid-48v) |