| Selasa, 21 Nopember 2006 | NASIONAL |
SBY-Bush Bahas Teroris dan Tsunami
BOGOR - Pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden George W Bush semalam menghasilkan berbagai kesepakatan, antara lain akan terus memberantas terorisme yang terjadi di kedua negara dan di wilayah negara lainnya. Usai melakukan pembicaraan di Istana Bogor, Bush menyampaikan terima kasih karena Indonesia berhasil membongkar insiden penembakan di Timika, Provinsi Papua pada 2002 yang mengakibatkan warga negara adidaya tersebut tewas. Keduanya juga menyambut baik pulihnya hubungan militer. Mereka berjanji akan mengambil langkah guna mewujudkan perdamaian. Tentang penentangan kehadirannya di Indonesia, Bush menilai bahwa demonstrasi yang marak dilakukan rakyat Indonesia sebagai good sign dari sebuah demokrasi yang sehat. Namun dia akan menentang bila segala bentuk penolakan berubah menjadi gerakan ekstremisme yang membahayakan jiwa orang lain yang berarti ancaman bagi demokrasi itu sendiri. Bush juga memuji Presiden SBY sebagai pemimpin yang demokratis, yang tahu bagaimana membangun demokrasi di Indonesia dan berpendapat bahwa hanya demokrasilah yang akan membuat Indonesia menjadi makin kuat. Menurut dia, AS akan terus memperkuat hubungan kedua negara karena posisi Indonesia sangat penting. Kerja Sama Yudhoyono mengatakan, dirinya dan Bush juga membahas masalah kerja sama penanganan bencana alam, termasuk bantuan AS dan beberapa negara lainnya dalam pembangunan sistem peringatan dini (early warning system) bencana tsunami di sejumlah tempat di Indonesia. Tentang hal itu, Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Ridwan Jamaluddin menjelaskan kepada Bush bagaimana rencana dan komitmen Indonesia dalam membangun sistem peringatan dini tsunami. ''Bush langsung menanyakan apakah AS juga sudah membantu," kata dia usai bertemu dengan Presiden AS itu. Bush menunjukkan ketertarikannya pada pembangunan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia dan meyakinkan dirinya bahwa AS juga ikut membantu dalam pembangunan sistem tersebut. Dia menanyakan, soal kerja sama yang akan dan telah dilakukan antara kedua negara dalam pembangunannya serta pertanyaan teknis seputar sistem tersebut seperti catatan Global Positioning System (GPS). "Saya menginterpretasikan pertanyaan-pertanyaan Bush itu dengan tawaran kesempatan lainnya seputar sistem itu, karena MoU kedua negara untuk mengembangkan kerja sama teknis guna meningkatkan kemampuan sistem peringatan dini tsunami dan mitigasi bencana memang sudah ada. Tak ada tawaran dana secara langsung," ujarnya. Dalam pertemuan itu, menurut Yudhoyono, disinggung pula tentang komitmen Amerika Serikat (AS) membantu Indonesia mengembangkan sumber energi alternatif dan memberantas ancaman wabah flu burung. Adapun dalam kerja sama di bidang pendidikan, AS ingin melanjutkan bantuannya yang menjadi bagian penting dari agenda nasional Indonesia. Terhadap bantuan kemanusiaan serta solidaritas pemerintah dan rakyat AS kepada korban bencana alam di Tanah Air, seperti tsunami di NAD dan gempa di DIY, Pemerintah Indonesia menyampaikan terima kasih. Beberapa Isu Selain masalah bilateral, dalam pertemuan itu kedua pemimpin juga mendiskusikan beberapa isu internasional dan regional, seperti isu senjata nuklir Korea Utara, Palestina, dan Timur Tengah. Kedua kepala negara mengusulkan tiga solusi dalam penyelesaian kasus Irak, antara lain melakukan rekonsiliasi nasional di Irak dengan memberdayakan pemerintah yang ada. "Dengan itu, diharapkan Irak bisa menangani masalahnya sendiri," papar Yudhoyono. Solusi kedua, menurut dia, adalah dengan melibatkan lembaga lain seperti pasukan keamanan PBB yang kedatangannya disesuaikan dengan jadwal penarikan pasukan AS dan pasukan lain dari wilayah Irak. Sementara itu, solusi ketiga adalah melibatkan masyarakat internasional untuk melakukan rekonstruksi dan rehabilitasi di Irak. Menurut Yudhoyono, ketiga solusi itu harus diputuskan sebelum AS keluar dari Irak. Selain itu disepakati pula mencari solusi realistis dalam mengatasi masalah di Irak dengan melibatkan negara-negara lain. Sebab masalah Irak bukan saja persoalan Amerika Serikat. "Indonesia percaya kita bisa bekerja sama untuk bertukar ide melahirkan solusi jangka panjang yang baik di Irak," katanya. Tentang masalah itu, Bush menyatakan belum memutuskan menarik pasukannya dari wilayah Irak dan masih melakukan evaluasi atas saran dan rekomendasi yang disampaikan kepadanya. "Saya akan menyampaikan kepada anda secepat mungkin keputusan yang akan saya ambil," jelasnya. Selain hal-hal tersebut, mereka juga bertukar pikiran mengenai masalah global seperti perkembangan masalah nuklir di Korea Utara, Irak, dan perkembangan di Palestina. ''Kita bicarakan bersama solusi terbaik untuk membahas masalah tersebut," kata Yudhoyono. Presiden Amerika Serikat juga menegaskan sikap pemerintahnya yang mendukung reformasi serta pemberantasan KKN di Indonesia. "Kami terus mendukung reformasi ekonomi dan pemberantasan KKN di Indonesia," tutur Bush. Bush mengemukakan, reformasi dan pemberantasan KKN akan membuat Indonesia menjadi semakin kuat. Dia mengatakan pula bahwa Washington mendukung langkah-langkah Pemerintah Indonesia untuk mengatasi pembalakan hutan. Sembilan Tokoh Berbagai kerja sama bilateral kedua negara juga disampaikan dalam pertemuan dengan sembilan tokoh sipil Indonesia. Selain Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Ridwan Jamaluddin, tokoh yang diundang untuk berdialog dengan Bush adalah pakar fisika Johanes Surya, peneliti Bio Teknologi LIPI Adi Santoso, Cendekiawan Muslim Komarudin Hidayat, Ketua Badan Integrasi NAD Yusny Saby, Ekonom Muhamad Ikhsan, Wakil Ketua Majelis Rakyat Papua Frans Wos Pakrick, pakar pendidikan Arief Rahman, dan pakar ontologi RSCM Nila Farid Moeloek. Dalam pertemuan yang berlangsung terbuka dan kritis konstruktif itu, ditekankan perlunya meningkatkan kerja sama antarkedua negara terkait dengan bertambahnya kualitas hajat hidup rakyat Indonesia secara keseluruhan. Anak Berjilbab Seusai konferensi pers, Bush dan SBY menuju ruangan tempat peragaan kegiatan belajar mengajar SD di Indonesia. Laura dan Ani Yudhoyono sudah lebih dahulu berada di sana. Bush ikut duduk di bangku anak-anak, lalu berdialog dengan seorang anak berjilbab. Bush rupanya tertarik dengan Terra (11) siswi kelas VI SD Papandayan I Bogor yang satu-satunya mengenakan jilbab. Bush lalu berdialog dalam bahasa Inggris dan Terra bisa mengimbanginya. Bush mengatakan, kalau dirinya sangat ingin anak-anak tumbuh sehat dan gembira. Saat Bush sedang berdialog dengan Terra, muncul pertanyaan dari stafnya yang menanyakan soal jilbab. Terra menjawab, dirinya menilai jilbab adalah suatu hal yang wajib bagi muslimah. Karena itu, dia mengenakannya meski masih anak-anak. Kunjungan Bush bersama istri ini merupakan kunjungan keduanya di Indonesia setelah yang pertama di Bali pada 2003. Kedatangan kali ini merupakan rangkaian safari ke tiga negara Asia Tenggara, yakni di Vietnam, Singapura, dan dilanjutkan ke Indonesia. (F4,ant-46v) | ||||