| Jumat, 17 Nopember 2006 | WACANA |
Surat PembacaMenjadikan Johar Sentra PerkulakanMenyikapi rencana pasar Johar Semarang sebagai pasar tradisional tua untuk direnovasi menjadi lebih modern, rasanya cukup baik, Namun sebaiknya bentuk asli dipertahankan sehingga kesan bersejarah tetap terjaga, Setidaknya desain dasar dan rangka pilar serta pilar-pilar lainnya tetap ada. Dalam hal ini mari lihat Kota Solo yang berhasil membangun Pusat Grosir Solo dan Beteng, Di sana para pedagang bisa nyaman berjualan dan para pembeli pun puas karena harganya yang cukup murah bila dibanding harga di pusat perbelanjaan modern. Mungkin Pemkot Semarang perlu studi banding ke sana. Untuk mengatasi keengganan para pedagang Johar yang menentang renovasi, perlu juga diajak studi banding. Tentu saja keberadaan mereka sebagai kelompok harus diberi solusi yang terbaik Misalnya bagaimana penempatan dan bentuk los untuk pedagang daging dan sayuran, pakaian, makanan, barang kelontong. Juga tempat bongkar muat barang serta area parkir yang aman harus disampaikan secara terbuka sehingga mereka bisa menerima rancangan renovasi. Pengelolaan ke depan juga harus jelas termasuk tarif sewa dan retribusi. Dengan kerja sama yang baik antara pedagang, pengelola dan Pemkot, rencana besar tersebut dapat terealisasi baik. Johar kelak akan menjadi pasar tradisional yang dikemas secara modern dengan tetap mempertahankan nilai historisnya. Johar akan menjadi pusat perkulakan yang memenuhi kebutuhan pasar kecil lain di Kota Semarang. Johar akan menjadi tempat yang nyaman bagi para pembeli dan pemasok. Johar akan menjadi pasar terbesar di Jawa Tengah. Dwi Handayani Jl Dewi Sartika Tmr 12, Semarang *** Dilema Rokok Industri rokok sejak dulu merupakan industri yang berbasis padat karya dengan mempekerjakan masyarakat sekitar dalam skala kuantitas cukup besar. Jutaan jiwa menggantungkan hidupnya pada kelangsungan industri rokok. Jelas hal ini membantu mengatasi kebutuhan lapangan kerja yang makin sempit. Kelangsungan industri rokok tidak terlepas dari konsumsi perokoknya. Konsumsi rokok kita per kapita 2,30/hari atau 838,9/tahun dan rasio konsumsi rokok per juta batang dengan jumlah penduduk adalah 178,350 (sumber, WHO dan Depkes RI). Indonesia menempati peringkat ke-9 konsumen rokok per kapita. Semua orang tahu bahaya konsumsi rokok, hingga pada setiap bungkus rokok diberi warning bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin. Namun konsumennya masih tetap tinggi. Baru-baru ini AS menghukum industri rokoknya karena dianggap melakukan kebohongan publik lebih dari satu dekade. Karenanya mulai tahun 2007 industri rokok di sana dilarang mencantumkan tulisan light, low tar, ultra light, dan mild di setiap bungkus rokoknya. Memang banyak manfaat rokok, di antaranya dapat mengusir kantuk bagi sopir, bikin konsentrasi seorang penulis dan lainnya. Banyak juga yang bilang merokok ikut membantu jutaan orang yang menggantungkan hidupnya dari perusahaan ini. Bila industri rokok gulung tikar maka pengangguran bertambah banyak sementara lapangan kerja makin susah. Data Survey Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) dan Biro Pusat Statistik (BPS) Februari 2006 menyebutkan, jumlah pengangguran di Indonesia 42,1 juta orang. Pertumbuhan ekonomi Februari 2005 - Februari 2006 sebesar 5,43% hanya mampu menciptakan lapangan kerja netto sebanyak 0,23 juta dengan jumlah tambahan angkatan kerja sebesar 0,48 juta orang. Padahal ada 9.583 tenaga kerja di Jateng yang terkena PHK pada tahun 2005. Noor Rofiq Jl Wamena V/228-229, Ungaran *** Gender di Meja Gender adalah alat gamelan Jawa yang terbuat dari bambu, kayu dan logam yang berbunyi nyaring yang ditabuh dengan alat oleh dua tangan. Biasanya dibunyikan saat dhalang lagi suluk (bersuara). Sejak di SR, saat mengajar bahasa Jawa guruku sering mengiringi dengan irama gender yang beliau tabuh sendiri. Para murid termasuk saya diperintahkan menari seirama dengan tembangnya. Gender diletakkan di atas meja terus ditabuh dan lagu Jawa ternyata berirama selaras dengan situasi dan kondisi umur manusia, yaitu: - Mijil, artinya lahir - Dhandhanggulo, artinya ngudang menghibur anak - Kinanti, artinya nasihat orang tua - Asmarandana, artinya usia anak mulai bercinta, butuh dana - Sinom, artinya sisihan, asihe wong nom (cinta anak muda) - Gambuh, artinya cocok - Durmo, artinya maju mundur manusia dalam kehidupan - Mas Kumambang, artinya sesudah pensiun mengapung di masyarakat - Pangkur, artinya pang = cabang, pekerjaan diteruskan oleh penerusnya - Megatruh, artinya megat = pisah dengan roh (mati) - Pucung, artinya pocong, kematian (dibungkus kain) Guruku dengan sikap sabar, tulus, ikhlas, berbudi luhur memberikan pelajaran secara menarik, sehingga meski sudah terlewat 65 tahun, saya masih ingat. Memang benar ungkapan Mbak Indra Ari, bahwa sikap guru yang baik dan benar adalah seperti guruku tersebut. Karena itu nasib guru wajib selalu diperbaiki, agar fokus mengajar lebih terarah ke peningkatan derajat intelektual murid. Moeljono HP Jl Banteng Utr VII/1,Semarang *** Sepak Bola Kita Semua orang tahu bahwa 40 juta rakyat Indonesia tergolong miskin. Penyakit busung lapar melanda keluarga miskin, semua juga tahu. Banyak sekolah rusak bahkan roboh, semua tahu. Banyak kondisi puskesmas memprihatinkan semua tahu. Tapi sepak bola memerlukan biaya besar (relatif), mungkin tidak banyak yang tahu atau tak mau tahu (tak peduli). Mulai dasa warsa 90-an, ada sepak bola pro (semi pro) yang dikelola secara amatiran dan menghabiskan dana miliaran rupiah dari APBD (baca: uang rakyat). Contoh, PSIS Kota Semarang tahun ini menghabiskan dana APBD Rp 14,4 miliar, tahun depan memerlukan dana Rp 20 miliar dari APBD. Saya bertanya kepada pemborong, berapa ongkos membangun sebuah SD standar, dia bilang Rp 1 miliar sudah bagus. Artinya Pemkot Semarang dalam satu tahun bisa membangun 20 SD baru yang bagus. Misal dana tersebut untuk merehabilitasi/memperbaiki atau menambah fasilitas pengajaran di sekolah, mungkin bisa untuk 50-100 sekolahan. Juga dapat untuk merawat fasilitas puskesmas yang tempat tidur pasien sudah karatan, toilet jorok karena air macet. Secara yuridis konstitusional penggunaan dana untuk sepak bola sah-sah saja, DPRD sudah setuju dan rakyat tak ada yang protes. Konon protes atau demo terjadi bila ada yang menggerakkan dan membayar. Ironis sekali memang. Kota Semarang yang jumlah penduduknya 1,5 juta orang memiliki penggemar sepak bola 150.000 orang (10 %) yang biasa nonton di stadion bila PSIS bertanding (sesuai kapasitas stadion). Dana tersebut digunakan untuk kontrak pemain asing tentunya cukup besar. Artinya kita membuang sebagian devisa yang didapat dari para TKI/TKW yang sering mengalami penderitaan di luar negeri. Prestasi sepak bola saat ini bagaimana. Semua tahu "payaaah", coba bandingkan pada era sebelum tahun 1965, Indonesia saat itu masih melarat. Olahraga kita peringkat II di Asia. Sepak bola kita salah satu terkuat di Asia. Padahal para pengurus organisasi olahraga rata-rata bukan pejabat pemerintah. Pada era Orde Baru para ketua organisasi olahraga harus pejabat, mulai dari menteri, gubernur dan bupati/wali kota. Kenyataannya, olahraga kita terus terdegradasi. Bagaimana setelah reformasi, setali tiga uang. Serupa tapi tak sama dengan zaman Orde Baru. Ketua, pengurus teras, manager "dipilih" dari pejabat atau elite partai atau keluarga mereka, Apakah memahami yang mereka urus, Walla hu'alam. Mungkin kita ingin meniru negara maju dalam hal mengurus olahraga. Yang ditiru apanya?. Olah raga di negara maju diurus oleh orang profesional dengan manajemen profesional. Mereka membayar pajak, baik pajak club (perusahaan), pajak penonton, pajak transfer dan sebagainya. Boro-boro bayar pajak, malah minta uang dari pajak rakyat. Inilah salah satu contoh ironis bangsaku. Bencana alam dan sebagainya yang merupakan peringatan Tuhan, yang menderita ternyata rakyat kecil (tambah menderita). Bencana manusia akibat korupsi, kecerobohan, pembalakan hutan dan sebagainya yang menderita rakyat kecil juga (makin menderita). Timbul pertanyaan dibenak saya, "sebenarnya apa yang dianggap penting dan menjadi prioritas bangsaku yang serbamiskin hampir di segala bidang ini?". Ismangoen Notosapoetro Jl Singotoro 5, Semarang |