| Jumat, 17 Nopember 2006 | NASIONAL |
Akhir November Masuk Musim HujanSEMARANG -Seluruh wilayah Jateng pada akhir November 2006 diperkirakan sudah memasuki musim hujan, kecuali Kabupaten Rembang, Blora, dan Pati. Mohamad Yahya dari Badan Meteorologi dan Geofisika Jateng mengatakan, ketiga daerah itu akan mengalami musim hujan pada Desember. ''Puncak hujan diperkirakan terjadi pada Januari atau Februari 2007. Permulaan musim penghujan itu ditandai dengan jumlah curah hujan selama sepuluh hari sama atau lebih dari 50 milimeter,'' kata dia dalam ''Diskusi Kesiapan Hadapi Musim Hujan dan Bencana di Jateng'' di Kantor BIKK Pemprov Jateng, di Semarang, Kamis (16/11). Diskusi itu juga dihadiri utusan dari Dinas Kesehatan Pemprov Jateng serta Badan Kesbang dan Linmas. Menurut Yahya, sifat hujan normal apabila curah hujan selama satu musim berkisar antara 85-115% dari rata-rata hujan, sementara itu sifat hujan masuk kategori di atas normal jika curahnya lebih dari 115%. Kasi Penanggulangan Wabah dan KLB Dinas Kesehatan Jateng, dokter Slamet Riyanto MKes mengatakan, penyakit menular yang sering muncul pada musim hujan adalah diare, demam berdarah dengue (DBD), malaria, leptospirosis, dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Daerah yang patut mewaspadai DBD adalah Kota Semarang, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kota Surakarta, Sukoharjo, dan Pati. Waspadai Penyakit Sementara itu daerah endemis malaria yaitu Kabupaten Purworejo, Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen, Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Magelang, Pelakongan, dan Jepara. ''Penyakit leptospirosis diakibatkan oleh kuman leptospira. Daerah yang patut mewaspadai adalah Kota Semarang, Demak, Kendal, Pati, dan Grobogan. Angka kematiannya mencapai 20%,'' jelas dia. Dinas Kesehatan Jateng memberikan surat edaran kepada daerah mengenai kesiapsiagaan timbulnya kejadian luar biasa (KLB) penyakit dan bencana akibat musim hujan, menyiapkan obat-obatan, menyiagakan tim gerak cepat, dan menyiapkan brigade siap siaga (BSS) di rumah sakit umum (RSU) Margono Soekarjo (Purwokerto), RSU Tugurejo, RS dokter Kariadi (Kota Semarang), serta RSU Moewardi (Surakarta). Kasubbid Penanggulangan Bencana Badan Kesbang dan Linmas, Sumarsono SH mengatakan, kondisi logistik Satkorlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) Jateng berupa beras yang berasal dari Departemen Sosial mencapai 85 ton, dan bersumber dari APBN 75 ton; sedangkan yang tersimpan di gudang Kabupaten Klaten 100 ton, dan gudang Karangwuni (Klaten) 445 ton. Selain itu juga masih ada selimut, kecap, sarden, dan yang lain. Dia mengungkapkan, berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub) 93/2005, rumah roboh mendapatkan bantuan Rp 2 juta, rumah rusak berat Rp 1,5 juta, meninggal dunia Rp 2,5 juta, dan luka berat Rp 1,5 juta. ''Sesuai dengan Pergub, yang mendapatkan bantuan adalah kejadian bencana di lokasi tertentu dengan sekurang-kurangnya lima rumah roboh/rusak berat. Atau kecelakaan lalu lintas dengan minimal lima korban meninggal/luka berat,'' ujarnya.(H7,G17-60a) |