logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 17 Nopember 2006 NASIONAL
Line

kisah Manuver Politik Saifullah Yusuf

"Jurus Mabuk" Mantan Sopir Gus Dur


SM/Ainur Rohim KUNJUNGI PESANTREN: Saifullah Yusuf (kanan) bersama Bachtiar Chamsyah (tengah) bertemu dengan KH Dimyati di Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, kemarin. (57a)

Malang-melintang di dunia politik bagi Ketua Umum PP GP, Ansor Saifullah Yusuf (Gus Ipul), bukan hal baru. Apalagi pria kelahiran Pasuruan itu begitu menginjakkan kakinya di Jakarta, dititipkan ke rumah Ketua Umum PBNU, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Ciganjur, yang juga pamannya sendiri. Berikut kiprahnya.

Sambil menyelesaikan studi di FISIP Universitas Nasional (Unas), Gus Ipul yang sejak kecil bercita-cita menjadi guru madrasah itu sempat menjadi sopir pribadi Gus Dur. Wajar, jika dia banyak kenal dengan berbagai mantan presiden RI, mulai dari tokoh agama, LSM, sampai tokoh politik.

Gus Ipul banyak mendapat pengalaman berharga dari kedekatannya dengan Gus Dur secara pribadi maupun mengenal pandangan politik, langkah, dan jurus Gus Dur dalam perpolitikan, termasuk zig-zag-nya yang terkadang kontroversial.

Ibarat di dunia persilatan, Ketua PP GP Ansor, Gus Ipul itu sedang menggunakan "jurus mabuk" dalam menghadapi rival politiknya di PKB, baik versi hasil Muktamar Semarang pimpinan Muhaimin Iskandar maupun Muktamar Surabaya pimpinan Choirul Anam.

Sejak terjadi perpecahan di partai yang didirikan warga NU itu, Gus Ipul mempunyai tugas berat. Sebab, pada posisinya sebagai anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), lelaki berkumis itu berusaha mengislahkan dua kubu, yaitu Gus Dur dengan sejumlah kiai sepuh yang dipimpin KH Abdurrahman Chudlori (Mbah Dur).

Di kabinet dia menjadi Menteri Negara Daerah Tertinggal (Meneg PDT), mewakili PKB. Berbeda dari Alwi Shihab yang di-reshuffle pada tahun pertama kepemimpinan Presiden SBY. Bapak tiga anak itu langsung mewacanakan perlunya islah dua kubu sebagai opsi penyelesaian kasus itu. Gus Ipul yang dua kali terpilih memimpin GP Ansor itu pun sadar bahwa opsi itu sangat sulit, mengingat perpecahan sudah begitu dalam, apalagi masuk dalam masalah sengketa hukum.

Gus Ipul yang dibesarkan dan dididik di Ciganjur itu pun menjaga jarak dari kedua pihak. Dia semula dijagokan memimpin PKB hasil Muktamar Surabaya, hanya menduduki salah satu departemen, untuk melancarkan tugas melakukan islah.

Partai Baru

Terbukti, siapa pun yang menang, kubu Muhaimin atau Choirul Anam, tak akan menerima hasil keputusan pengadilan, bahkan sampai ke tingkat Mahkamah Agung (MA).

''Sejak awal sudah saya katakan bahwa yang dihadapi Anam adalah tembok, karena secara politis begitu keadaannya. Maka perlu jalan islah,''ujar Gus Ipul.

Kekalahan kubu Anam dan kemungkinan islah yang semakin jauh, memunculkan wacana pembentukan partai baru. Sejumlah kiai sepuh pun membentuk tim sembilan untuk membahas parrtai baru itu, yaitu KH Abdullah Fakih, KH Abdurrahman Chudlori, KH Muhaiminan Gunardo, KH Idris Marzuki, KH Dimyati Rois, KH Mas Subadar, KH Zainuddin Djazuli. dan KH Warson Munawir. Mereka akan membahas partai baru itu pada 20 November 2006 di Langitan.

Dalam perjalannya, Choirul Anam atas izin Mbah Dur dan Kiai Fakih mendaftarkan Partai Kebangkitan Ulama Nasional (PKNU) ke Depatemen Hukum dan HAM. Alasannya, agar partai tersebut bisa mengikuti pemilu 2009, karena harus terdaftar pada 2006. ''Itulah alasannya, sehingga saya menyetujui mendaftarkan PKNU secara diam-diam,''ujar Mbah Dur, saat menerima Gus Ipul di kediaman Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang.

Bagi Gus Ipul, hal itu adalah persoalan baru, karena Choirul Anam mendahului kiai, secara tiba-tiba mendaftarkan PKNU, dan seperti melalukan fait-accompli agar kiai menyetujui partai tersebut. Lebih dari itu, Anam tetap menjadi ketua umum, padahal secara teknis harus dibahas oleh Tim 17.

Gus Ipul pun memprotes hal itu dengan mendatangi sejumlah kiai sepuh yang merasa tidak disertakan dalam pembahasan. Antara sowan ke KH Dimyati Rois, KH Mustofa Bisri, KH Muhaiminan Gunardo, KH Warson Munawir, sekaligus menuntut agar membatalkan pendaftaran PKNU itu.

Di sisi lain, Gus Ipul juga menghadapi tekanan dari Muhaimin Iskandar, yang masih sepupunya dan juga dibesarkan di Ciganjur, berkaitan dengan kedudukan di kabinet. Pasalnya, ia belum mengambil sikap kembali ke PKB. Dikabarkan pihak Muhaimin mengajukan usulan reshuffle.

Benar, masih dari pengalaman lama menjadi sopir pribadi Gus Dur, ternyata banyak yang diperoleh dari pamannya itu, termasuk dalam menggunakan jurus dewa mabuk. Dia mendatangi sejumlah tokoh dan kiai sepuh di PPP. Pertama ke HA Thoyfoer MC, tokoh partai berlambang Kakbah dari Jawa Tengah, dan KH Maimun Zubair, Ketua MPP DPP, dengan mewacanakan menengok rumah lama NU.

Wacana itu terus digulirkan di Jakarta dengan mengundang Kiai Maimun dan sejumlah tokoh PPP, seperti kandidat ketua umum pada acara halalbihalal di Ansor bertajuk "Semalam Menjadi PPP.''

Lampu hijau pun dinyalakan oleh Ketua Umum DPP PPP, Hamzah Haz. Ketika Gus Ipul datang ke kediamannya di Jln Tegalan 27 Jakarta Pusat, mantan Wapres itu pun menegaskan, tidak ada alasan PPP tidak menerima, apalagi yang melakukan shalat istikharah dan menemukan lambang kakbah itu adalah kakeknya Gus Ipul, KH Bisri Syamsuri.

Ihwal masuknya Gus Ipul ke PPP, masih menunggu waktu dan momentum yang tepat sesuai dengan perkembangan politik. Sesuai dengan pesan Gus Mus, kalau PPP ibarat rumah lama, perlu dilihat kamar untuk orang NU itu seperti apa, apa sudah diberi AC dan direnovasi atau belum.

''Jangan mau kalau disuruh di dapur. Jabatan wakil ketua umum, baru layak,'' ujar Gus Mus berpesan, dalam pertemuan di rumahnya di Rembang.

Bachtiar Hamzah, tokoh PPP yang menjadi Menteri Sosial itu menawarkan jabatan wakil presiden partai jika lembaga itu dihidupkan kembali. Yang pasti, kendaraan politik PPP itu menjadi alternatif secara politis untuk mempertahankan posisi di kabinet, sekaligus ditujukan kepada kiai sepuh yang bakal berkumpul di Langitan.

Lebih dari itu, Gus Ipul yang disebut-sebut sebagai generasi penerus di NU mempunyai pertimbangan bahwa kiai dan warga NU masih mendominasi di PPP, sehingga arus paham Islam moderat tetap dominan di partai tersebut.

''Tidak salah jika saya minta kiai melihat rumah lamanya itu,'' tandasnya.

Gus Ipul selama dua kali pemilu di era reformasi ini menggunakan kendaraan politik yang berbeda. Pada Pemilu 1999 ia menggunakan jaket merah, atau bergabung ke PDI-Perjuangan; pada 2004, di PKB dan dipercaya menjadi Meneg PDT. Dia sudah menjelajahi seluruh daerah Indonesia dari Sabang sampai Merauke, selama dua tahun. Apakah pada Pemilu 2009 mewakili PPP? Kita Tunggu kiprah dan jurus politikus muda NU itu.(A Adib-64a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA