logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 17 Nopember 2006 NASIONAL
Line

Arbi: Partai Golkar Makin Tidak Jelas


SM/dok n Arbi Sanit

JAKARTA - Partai Golkar semakin menempatkan diri sebagai partai yang tidak jelas dalam menentukan ketegasannya dalam mendukung pemerintah. Sikap Partai Golkar yang menyatakan diri sebagai mitra pemerintah apalagi sampai meminta dilibatkan dalam penentuan kebijakan tidak hanya sebagai pendukung jelas sikap yang ambigu.

Hal tersebut dikatakan pengamat politik Arbi Sanit saat dihubungi di Jakarta, Kamis kemarin. ''Golkar itu tidak paham-paham. Mereka kan sudah termasuk bagian dari pemerintah, sebab Ketua Umum Jusuf Kalla adalah seorang Wapres juga,'' tandasnya.

Menurutnya, Jusuf Kalla harus bersikap tegas dengan sikap partainya. Jangan setengah-setengah. ''Kalau sudah begitu Jusuf Kalla berarti plin-plan,'' ujarnya.

Arbi mengatakan, kalau Golkar minta dilibatkan dalam kebijakan pemerintah Kalla harus tegas menyatakan Partai Golkar sebagai bagian dari pemerintah, jadi jangan bilang sebagai mitra. ''Ini kan tidak jelas.''

Ketidaktegasan sikap Partai Golkar tersebut, lanjut Arbi, jelas menandakan bahwa kader Golkar hanya ingin mencari untung saja dari pemerintah. ''Elite Golkar masih terbelah ditambah dengan sikap plin-plan Kalla sebagai pemimpin partai,'' tuturnya.

Menurut Arbi, Partai Golkar telah melakukan manuver dengan cara mengumumkan sikapnya sebagai mitra pemerintah apalagi dengan posisi kader Golkar di pemerintahan. ''Di tubuh Golkar sendiri masih ada pendukung Akbar Tandjung sebab di masa kepemimpinannya Golkar memang bisa menjadi sebuah partai oposisi, dengan ketegasan sikapnya.''

Ditanya soal niat Partai Golkar yang ingin menggelar konvensi dalam penjaringan calon presiden, Arbi mengemukakan, lebih baik menggelar konvensi koalisi saja daripada konvensi biasa. ''Lebih baik merintis konvensi koalisi dengan partai lain secara permanen untuk tahun 2009 daripada sekedar konvensi biasa,'' paparnya.

Membutuhkan Keringat

Setiap pemerintahan selalu memiliki dua periode, yaitu mendirikan dan membangun serta menjaga dan mendukung. Tapi banyak pernyataan yang mengatakan bahwa Partai Golkar tidak ikut berkeringat. Padahal, menjaga dan mendukung itu lebih banyak mengeluarkan keringat.

Demikian pidato politik Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla dalam rangka resepsi Hari Ulang Tahun Ke-42 Partai Golkar di Plenary Hall Jakarta Convention Center, semalam.

Dia juga mengatakan, bila mengkritik pemerintah harus dilakukan secara objektif dan profesional. "Kritik dan tegurlah bila ada yang salah secara objektif," katanya.

Kalla mengakui, Golkar memiliki pengalaman pahit dalam menjalankan pemerintahan. Karena itu, saat ini perlu ada stabilitas politik. Dengan cara tersebut, bangsa bisa membangun.

"Partai tidak hanya bertujuan untuk mengangkat dan menjatuhkan. Tapi ada yang lebih besar dari itu, yaitu membangun bangsa. Bersama kita bisa," ujarnya disambut tawa hadirin.

Sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengakui Golkar memiliki kontribusi besar dalam proses perjalanan bangsa dan negara. Karena itu, Presiden mengajak kepada Golkar untuk membuat agenda besar dalam era transformasi.

"Kami mengajak Golkar untuk mengawal, menjaga dan mengembangkan NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika," serunya.

Sedangkan salah satu butir pernyataan politik Partai Golkar adalah penegasan perlunya evaluasi terus- menerus dan tindakan tegas dengan mengganti menteri dan pejabat pemerintah yang tidak mampu menjalankan visi dan misi pemerintahan.

"Hal itu adalah untuk meningkatkan kinerja pemerintah yang belum memenuhi harapan masyarakat," kata Theo L Sambuaga yang membacakan pernyataan Golkar.

Selain dihadiri oleh mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung, hadir pula mantan Presiden BJ Habibie, Wakil Presiden Try Sutrisno, Menteri Dalam Negeri Moh Ma'ruf, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin, dan Menkominfo Sofyan Djalil serta Menneg PAN Taufiq Effendi.

Sementara sejumlah pimpinan dan fungsionaris partai politik lain yang juga hadir adalah Didik J Rachbini dan Sekjen PAN Zulkifli Hasan, Panda Nababan (PDI-P), Syarif Hassan (PD) dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar.

Dalam kesempatan itu, Golkar juga memberikan Anugerah Bhakti Utama kepada (Alm) Soedharmono, (Alm) AA Baramuli, Harmoko, Awaloedin Djamin, Bustanil Arifin, Nani Soedarsono, Kardinah Soepardjo Roestam, HM Ismail dan Hudan Dardiri.

Sedangkan Anugrah Bhakti Pratama diberikan kepada AT Mahmud, N Simanungkalit, M Sodik dan RM Bambang Irawan. Anugrah ini juga diberikan kepada Tim Pembela Hukum Partai Golkar periode 1998 - 2004.(H27,H28-49,41v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA