logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 17 Nopember 2006 SEMARANG
Line

Jurnatan dan Jejak KA Semarang-Kudus (3-Habis)

Senja dan Romantisme Sepur Kluthuk

JEJAK kereta api Semarang-Kudus boleh saja hilang. Tapi, kenangan romantisme 20 tahun lalu ternyata masih membekas hingga kini. Di Kampung Damai (sekarang Jalan Purnasari-Red), misalnya, dulu tiap senja muda-mudi dan anak-anak acap memadati kawasan di sekitar Stasiun Kemijen di Jalan Pengapon itu. Barangkali, seperti yang lazim kita temui di anjungan dirgantara Bandara A Yani saat ini.

Kebiasaan itu pula yang kadang-kadang dilakukan oleh Kasmini Jarwo (46), warga Jalan Purnasari. Meski tak pernah naik kereta, Kasmini muda (saat itu 15 tahun), suka duduk-duduk menyambangi sempadan lintasan di sekitar stasiun. Kasmini memang warga lama, jadi dia tahu persis bagaimana romantisme senja dan hiruk pikuk para pedagang dan musafir yang naik-turun lewat Kemijen.

''Seingat saya kalau kereta pas datang, penumpangnya selalu penuh. Yang turun ya macam-macam, tapi saya tidak hafal, karena memang jarang masuk ke stasiun. Tapi, dulu tahun 1970-an di sepanjang stasiun ini memang ramai. Ada yang jalan-jalan, duduk, atau muda-mudi berduaan,'' ujarnya.

Lain lagi dengan Hartini. Perempuan yang menghabiskan masa kecilnya di salah satu perkampungan dekat Laut Jawa itu mengaku cukup akrab dengan moda tersebut. Kereta yang dioperasikan saat itu sudah kuno, sebagian gerbongnya terbuat dari kayu. Orang banyak menyebutnya ''sepur kluthuk''.

''Makanya sering ada ungkapan: ireng-ireng sepur kluthuk, akeh sing ngenteni. Karena meski keretanya kuno, penumpangnya saat itu banyak. Apalagi tahun 1970-an memang belum banyak bus kota.''

Kendati penumpang banyak, Hartini bercerita manajemen transportasi saat itu masih disiplin. Asumsinya, kalau daya tampungnya 500 kursi, penumpangnya ya 500 kursi. Biarpun selalu penuh, ruang yang tersisa di dalam kereta masih cukup nyaman. ''Keretanya boleh jelek, tapi udara di ruangan sejuk.''

Udara yang sejuk itu, kata ibu dua anak ini, karena belum banyak alat transportasi yang beroperasi. Dia mengaku menikmati pemandangan di kanan-kiri jalan yang saat itu masih belum padat oleh pabrik dan permukiman. Yang menarik, rute rel kereta api di Semarang sebagian besar melalui sisi selatan (kini persis di pinggir saluran Kaligawe). Namun, begitu memasuki Demak, lintasan bergeser ke arah utara. (Renjani PS, Budi Winarto-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA