| Jumat, 17 Nopember 2006 | KEDU & DIY |
Batik Kebumen (2-Habis)Pembeli Asing Mulai Pesan, Modal CupetSIANG itu, Ny Muskiyah (75) tekun memegang canting dan membatik kain jarit di dapur rumahnya yang amat sederhana, di Desa Seliling, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen. Sesekali nenek itu meniup canting berisi malam sebelum menggoreskannya ke kain putih yang habis direbus. Nenek yang masih energik ini adalah profil wanita pembatik khas Kebumen generasi kedua yang tersisa. Meski sejak belia telah mengenal batik hingga usia sepuh, tak banyak yang berubah dari kehidupannya. ''Paling hasilnya hanya bisa untuk beli garam,'' ucap Ny Muskiyah yang dalam tiga pekan bisa menyelesaikan tiga potong batik tradisional dan dibayar Rp 45.000 oleh juragan atau pengepul. Dia menyatakan tak sanggup mengikuti corak batik modern dengan bermacam-macam motif. Sebab, sejak dahulu dia memang hanya membatik secara tradisional dan umumnya untuk jarit atau sinjang sebagai busana pelengkap kebaya. Muskiyah telah mengenal batik dari tetangga sekitar. Pada 1940-an, dia telah bekerja membatik pada perusahaan batik milik Haji Mansur di Wonoyoso, Kebumen. Kebetulan suaminya, almarhum Tahirin, pernah lama bekerja di perusahaan batik di Gading, Solo. Menilik riwayat batik kebumen, dikaitkan dengan penuturan Ny Muskiyah, agaknya ada kemungkinan berasal dari Keraton Surakarta. Menurut pengamat batik lokal RAI Ageng Sulistyo Handoko SIP, bisa jadi dibawa dari Surakarta pada sekitar abad XIX. Warna batik kebumen itu juga khas dan berbeda dari umumnya, yaitu kemerahan seperti warna tanah atau juga warna yang disukai orang Tionghoa. Apalagi dalam sejarah, ada dinasti yang pernah berkuasa di Kebumen, Bupati Kolopaking, yang mempersunting wanita keturunan Tionghoa. Bisa dimengerti, jika pengaruh China masuk dalam motif batik lokal. Terlepas dari kaitan sejarah itu, Ageng mengakui potensi pengembangan batik kebumen amat besar. Dia baru mendengar dari relasinya, batik asli Kebumen laku di Afrika dan Eropa. Bahkan staf Kedubes Portugal yang asal Kebumen telah memesan beberapa potong batik dan diminati di Eropa. ''Sayang, modal perajin batik masih terbatas. Apalagi untuk batik tulis pengerjaannya lama dan harganya mahal. Butuh modal dan pemasaran ke luar karena di dalam negeri agak sulit bersaing,'' ungkap Ageng, Kepala Satpol PP Pemkab Kebumen. Tak heran jika pemakai batik tulis kebumen rata-rata kaum eksekutif dan golongan atas. Satu potong pakaian batik tulis minimal Rp 250.000. Batik Sekar Jagat yang kerap dikenakan Bupati Dra Hj Rustriningsih MSi atau Wakil Bupati KH M Nashiruddin AM, kabarnya Rp 300.000 - Rp 600.000, Tentang pesanan dari mancanegara, diakui pula oleh perajin batik tulis Muhtadin (41) dari kelompok Mekar Sari, Desa Seliling Alian. Dia kini banyak memasarkan batik tulis kelas atas. Pernah memasok pesanan ke Singapura untuk 50 potong batik dan dalam waktu singkat terserap pasar. Masalahnya, lanjut Muhtadin yang pernah Juara II Lomba Motif Batik di Kebumen itu, jumlah para perajin batik tulis terbatas. Belum lagi waktu pengerjaannya yang satu minggu per potong. ''Kami butuh modal namun belum ada perbankan menawari,'' ucap aktivis Banser Ansor itu. Dia pernah diajak studi banding Dinas Perindagkop ke sentral batik di Pekalongan. Jika dibandingkan, Muhtadin jujur mengakui batik kebumen belum apa-apa. Masih kalah jauh dari sisi teknologi, obat pewarnaan, hingga manajemen pemasaran. Menurut Muhtadin, batik kebumen seharga Rp 600.000 sudah kualitas atas dan sulit laku. Sebaliknya, di Pekalongan batik tulis Rp 5 juta per potong laris karena konsumennya para menteri hingga presiden. Karena itu, dia bersama kelompok perajin amat mendambakan kucuran modal untuk memajukan usaha. Gelombang kapitalisasi dan industrialisasi juga makin membuat usaha batik kebumen gulung tikar. Apalagi, dengan masuknya batik cap dan terlebih kini ada teknologi batik sablon. Hal itu diakui Drs HM Khambali SHMH yang juga anak pengusaha batik di Wonoyoso. Sebenarnya, persolan modal bukan satu-satunya masalah yang dihadapi pembatik. Ada sikap mental perajin Kebumen yang kurang berani mengambil risiko dalam berusaha. Hal itu diakui pembatik Ny Marwiyah (45), juga warga Desa Seliling. Dia kini menjual batik buatannya per potong Rp 50.000-Rp 100.000. Batik tulis buatan Marwiyah tergolong kualitas sedang. Hal itu berbeda dari batik tulis produksi kelompok Mekarsari yang lebih halus pengerjaannya. (Komper Wardopo-39j) |