| Jumat, 17 Nopember 2006 | INTERNASIONAL |
Perundingan Sanksi Iran Macet LagiNEW YORK - Perpecahan antara negara-negara Barat dan Rusia berujung pada macetnya pembahasan mengenai rancangan resolusi Perserikatan Bangsa-bangsa mengenai Iran. Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB John Bolton mengatakan, ''Saya tidak bisa mengatakan kami telah mencapai kemajuan. Namun, kami telah membicarakan sejumlah isu.'' Dubes Rusia Vitaly Churkin mengatakan hal senada. ''Memang ada pergerakan, tetapi saya tidak mengatakan itu sebagai gerakan kemajuan,'' kata dia. Dia menambahkan, pembicaraan lebih banyak berkisar soal pertukaran pendapat. Amerika Serikat dan Eropa ingin Dewan Keamanan menjatuhkan sanksi terhadap Iran karena negara itu tidak mau menghentikan aktivitas pengayaan uranium. Rancangan resolusi yang disusun oleh Inggris, Prancis dan Jerman serta didukung Washington itu mengusulkan penghentian penjualan atau suplai peralatan, teknologi atau keuangan yang bisa dimanfaatkan untuk program nuklir Iran. Rusia, dengan dukungan China, telah menyerahkan amandemen rancangan resolusi itu. Hampir separo rancangan itu diusulkan direvisi. Rusia juga mengusulkan, masing-masing negara diperbolehkan memutuskan sendiri barang-barang yang bisa dibeli Iran. Protes ke PBB Iran Kamis kemarin mengajukan protes ke PBB berkaitan dengan pernyataan Israel yang berulangkali mengancam akan mengebom republik Islam itu. ''Ancaman itu adalah persoalan serius dan Dewan Keamanan PBB seharusnya mengutuk dan menuntut Israel berhenti mengancam negara anggota PBB,'' kata Dubes Iran untuk PBB Javad Zarif. Keluhan itu disampaikannya dalam surat kepada Sekjen PBB Kofi Annan tertanggal 10 November. Salinan surat itu diedarkan kepada anggota-anggota PBB Kamis kemarin. Surat tersebut kontan memicu komentar sinis dari Bolton. ''Barangkali ini contoh bahwa Iran sedang mencoba belajar untuk chutzpah,'' kata Bolton. Chutzpah adalah istilah Persia yang berarti perilaku sombong dan ketus. ''Israel mengobarkan spekulasi lewat ancaman-ancamannya,'' kata Zarif. Dalam suratnya, dia menyebut beberapa contoh. Misalnya, pernyataan Menteri Pertahanan Israel Jumat lalu bahwa serangan pre-emptive terhadap Iran masih dimungkinkan. Perdana Menteri Israel Ehud Olmert pada 19 Oktober lalu mengatakan, Iran ''harus membayar'' untuk program nuklirnya. Olmert mengatakan, rakyat Iran mestinya takut atas tindakan-tindakan yang mungkin dllakukan Israel. Dikutip pula pernyataan Menteri Transportasi Israel yang mengatakan, ''Israel sedang mempersiapkan aksi militer untuk menghentikan program nuklir Iran,'' kata dia.(rtr-gn-25) |