| Jumat, 17 Nopember 2006 | INTERNASIONAL |
RI Ingin APEC Perhatikan Konflik Palestina-IsraelHANOI - Indonesia menginginkan konflik Palestina dan Israel mendapat perhatian dari semua anggota Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC). Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengatakan, konflik tersebut merupakan masalah besar yang berpengaruh terhadap politik dan keamanan internasional, seperti munculnya terorisme. ''Konflik Palestina yang merupakan 'mother of all conflicts' (induk segala konflik) agak terlupakan. Karena itu saya mengemukakan hal itu,'' kata Hassan seusai menghadiri pertemuan informal para menteri anggota APEC yang dibarengi sarapan bersama di Gedung Tamu Pemerintah Vietnam, kemarin. Dia mengangkat masalah konflik Palestina dan Israel di pertemuan informal pagi itu karena konflik tersebut tidak hanya menyangkut Timur Tengah, tetapi juga merupakan isu besar yang mempengaruhi masalah internasional, sehingga perlu penyelesaian bersama dari masyarakat internasional. Masalah lain yang diangkat Menlu Indonesia dalam sarapan bersama itu adalah perluasan senjata nuklir. Gejala perluasan senjata nuklir tampaknya terjadi di Asia yang terbentang dalam satu garis lintang dari barat ke timur, sementara di kawasan lain kompetisi senjata nuklir sudah menurun, katanya. Isu Nuklir Korut Dia tidak secara khusus menyebut negara tertentu, namun menambahkan dalam perbincangan itu bahwa ada negara lain yang mengangkat masalah nuklir Korea Utara. Menurut dia, Indonesia mendukung setiap upaya untuk menghidupkan kembali perundingan enam pihak guna menghentikan program nuklir Korea Utara. Perundingan enam pihak tersebut melibatkan Korea Utara, Korea Selatan, Jepang, China, Rusia, dan Amerika Serikat. Kecuali Korea Utara, lima Menlu dari negara yang terlibat dalam perundingan tentang nuklir Korea Utara itu hadir dalam pertemuan informal yang membahas isu politik dan keamanan. Dalam pertemuan APEC tingkat menteri, isu nuklir Korea Utara tidak dibicarakan secara khusus karena dinilai tidak terkait dengan agenda APEC. Dalam pertemuan sarapan itu, hadir juga Menlu AS Condoleezza Rice. Namun selesai acara tersebut dia tidak ikut keluar bersama Menlu lain melalui pintu utama depan Gedung Tamu Pemerintah Vietnam. Menlu AS itu keluar dari pintu samping untuk menghindari kerumunan wartawan yang sedang menunggu. Dia menumpang kendaraan khusus yang dibawanya dari AS. Rice dijadwalkan bertemu secara bilateral dengan Hassan Wirajuda di sela-sela pertemuan APEC di Hanoi, Minggu (19/11), untuk membahas persiapan menghadapi rencana kunjungan Presiden AS George W Bush di Bogor pada Senin (20/11). Pernyataan Bersama Dalam pidatonya Rice menyatakan AS ingin isu-isu keamanan juga dibahas. Dia minta para anggota forum mencegah sistem finansial mereka dieksploitasi oleh para penyebar senjata terlarang - acuan khusus pada Korut. ''Sekali lagi, salah satu tujuan paling penting kerja sama kita adalah keamanan,'' katanya. Dalam draft pernyataan bersama yang diperoleh Reuters, para anggota APEC menekankan kepada para pemimpin mereka untuk melakukan segala upaya guna mengembalikan perundingan perdagangan Doha ke jalannya. Perundingan perdagangan Doha macet Juli lalu di tengah perdebatan sengit tentang mengurangi subsidi pertanian. (rtr-ant-niek-26) |