logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 11 Nopember 2006 WACANA
Line

Surat Pembaca

Jalan Raya = Sampah?

Citra bersih adalah citra kepribadian. Tidak perlu membandingkan dengan negara tetangga yang sukses membentuk kepribadian bersih di semua hal, khususnya kebersihan lingkungan. Tapi mulailah dengan kesadaran diri untuk menjadikan citra bersih.

Sudah banyak bukti di lapangan, khususnya ketika berada di jalan raya. Sering terlihat para pengendara/penumpang membuang sampah sembarangan (terutama tissue, puntung rokok, bahkan air ludah) saat berada di jalan raya. Padahal sampah itu bisa mengenai orang lain yang kebetulan lewat.

Bahkan pejalan kaki maupun masyarakat di lingkungan pinggir jalan pun lebih suka membuang sampah ke jalan raya. Buktinya, hampir di setiap ruas jalan selalu ada bangkai tikus (entah dibungkus tas kresek atau tergeletak begitu saja) ikut meramaikan maraknya sampah di jalan.

Tujuan pembuangnya mungkin agar lingkungan pribadinya bersih, sedang lingkungan lain masa bodoh. Mereka tidak sadar dan tidak mau tahu jika beberapa saat kemudian bangkai tersebut terlindas motor/mobil, maka ceceran dagingnya akan bertebaran ke mana- mana.

Tidakkah mereka berpikir bahwa itu sumber penyakit. Tentu akan lebih bijaksana bila sampah atau bangkai tersebut dibuang pada tempat sampah kemudian dibakar atau ditimbun hingga tidak mencemari lingkungan. Lalu kapan kita mulai menumbuhkan citra bersih jika selalu berbuat demikian.

Mungkin dinas terkait harus rajin memasang imbauan untuk menjaga kebersihan di jalan raya meski hal itu menunjukkan bahwa masyarakat memang masih senang membuang sampah. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi jalanan menjadi bersih dari sampah.. Mari tanamkan bahwa cinta bersih adalah citra kepribadian kita.

Budi Wahyono

Srondol Asri Blok Q/1, Semarang

***

Pudarnya Bahasa Jawa

Walau beberapa waktu lalu diadakan Kongres Bahasa Jawa yang diikuti berbagai negara tetapi bahasa Jawa belum mampu menjadi raja di negeri sendiri.

Bahkan tata cara penulisan di rubrik Sang Pamomong harian ini pun belum memperhatikan kaidah penulisan kebahasajawaan dengan benar, meski sudah bisa dibilang baik.

Penulisan bahasa Jawa mestinya pakai huruf Jawa atau sering disebut Hanacaraka (baca : Haonaocaaraokao) bukan Honocoroko. Seperti halnya bahasa Arab yang ditulis dengan huruf alfabhet, bahasa Jawa pun mengalami hal serupa. Akibatnya sering tidak sesuai dengan pengucapan aslinya.

Sudah menjadi salah kaprah jika bahasa Jawa ditulis dengan huruf yang tidak semestinya, sehingga menimbulkan bunyi/suara yang tidak sesuai maksud dan artinya. Contoh bojoku lara (istri saya sakit) yang ditulis dengan bojoku loro (istri saya dua).

Atau kata "sedhela" yang hanya ditulis sedhelo (tanpa tanda baca). Bagaimana jika dibacanya sedhelo atau sedhelo, tentunya kedengaran aneh. Memang jika orang Jawa atau yang tahu bahasa Jawa mungkin tidak keliru mengucapkan, tetapi bagi yang asing tentu akan terasa aneh.

Dalam pengucapan bahasa Jawa antara huruf-huruf e, e, dan e, serta a, a dan o tentu berbeda, seperti kata maleh, melek, sega, aneh, enak dan sebagainya. Masih beruntung jika salah pengucapan tidak merubah arti walau tetap terdengar aneh.

Bagaimana dengan kata bathak, bathok dan bathuk jika ditulis dengan huruf yang sama atau kata tela, tela, telo dan telu, tentu mempunyai arti yang berbeda. Untuk itu, mari perbaiki tata cara penulisan bahasa Jawa dengan baik dan benar.

Caranya dengan memperbaiki dulu penulisan pada naskah yang ada di media termasuk Sang Pamomong yang selalu dibaca ratusan ribu orang. Ini jika memang ingin nguri-nguri kabudhayan jawi.

M Sulchan

Jl Bukit Mawar D/296 Sendangmulyo, Semarang

***

Saran untuk Agni

Pratista Arka Dewi

Jika benar tahun 2007, Agni Pratista Arka Dewi si pemegang gelar Putri Indonesia 2006 jadi berangkat mengikuti kontes Miss Universe, akan menjadi sesuatu yang sensasional utamanya bagi orang Jawa.

Betapa tidak, karena nanti ada kemungkinan terdapat 2 orang asal Jawa yang ikut sebagai kontestan.

Pertama Agni sendiri yang sebelum dinobatkan sebagai Putri Indonesia, dia adalah wakil Jateng, Yang seorang lagi kemungkinan Miss Suriname. Seperti yang disampaikan ketua Parlemen Suriname Paul Salam Somoharjo di Semarang bahwa Miss Suriname adalah keturunan Jawa

Konon juga ada rencana mempertemukan keduanya di sela-sela kontes sebagai sesama sedulur dhewe karono padha Jawane. Lha... mestinya akan terjadi umpan balik komunikasi yang gayeng dalam bahasa Jawa. Itu bisa terjadi kalau Agni mampu berkomunikasi dalam bahasa ibu (Jawa).

Kalau tidak, saya yakin Miss Suriname bakalan tak habis mengerti jare wong Jawa lha kok ora biso omong Jawa. Untuk mengantisipasi, mumpung masih ada waktu ada baiknya Agni mempersiapkan diri untuk belajar bahasa Jawa.

Jika perlu partner komunikasi lisan Jawa, saya bersedia membantu. Saya bisa menguasai logat Bandhekan Solo/Jogja, Banyumasan Ngapak-ngapak serta Logat Tegal yang sangat khas Piye?-Keprimen, kepriben?. Bagaimana?

T Bambang Haryono SH (EI)

Jl Goa Lawa 1 Karangrejo, Purbalingga

***

Cuci Otak

Teknik brainwashing (cuci otak) terbukti ampuh memengaruhi pikiran orang untuk mengikuti keinginannya. Ini sudah dibuktikan oleh para pelaku bom bunuh diri beberapa waktu lalu. Menurut teori Sigmund Freud cuci otak butuh waktu 2 tahun s.d 5 tahun.

Tapi dengan cara-cara singkat dan padat, sekarang bisa diminimalisasi menjadi 3 bulan s.d 6 bulan saja. Tahapan umum: reduksi (pendidikan kembali), lalu restrukturisasi kepribadian dan keyakinan serta selanjutnya program dalam praktik dan implementasinya.

Terkait dengan semarak korupsi di negeri ini, bagaimana bila muncul wacana untuk memanfaatkan teknik brainwashing bagi yang ketitipan amanah jabatan agar tidak menerima dan mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Bagi yang terlanjur korupsi tetap perlu brainwashing agar darah kotornya bisa keluar agar mampu membedakan mana suap mana tidak, mana korupsi mana tidak, mana haram atau halal dan mana uang rakyat mana uang pribadi.

Penentuan itu diperlukan, mengingat masih ada para wakil yang memandang sesuatu hanya dari kacamatanya sendiri.

Alasannya tidak menyalahi prosedur bahkan sudah sesuai dengan aturan. Mereka tak melihat bahwa juga ada kepentingan rakyat.

Kadang mereka ngotot, rakyat yang mana, jawabnya simpel bahwa selain pemimpin, semua adalah rakyat. Siapa pun mereka.

Noor Rofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran

***

Duka dari Gembiraloka

Sungguh mengejutkan keputusan pengelola Gembiraloka Yogyakarta untuk menghentikan penangkaran binatang komodo.

Komodo tidak hanya langka tetapi spesies binatang purba yang masih bisa dilihat dan di dunia ini hanya ada di Indonesia. Untuk itu kita wajib melestarikan agar generasi mendatang masih bisa menyaksikan saksi sejarah.

Saya yakin menangkar binatang langka membutuhkan biaya tidak sedikit. Untuk itu perlu dukungan peraturan atau izin khusus agar hasil penangkaran dapat disebarkan ke seluruh daerah. Dengan demikian populasi binatang ini dapat berkembang dan tidak perlu jauh-jauh ke P Komodo.

Pengelola menghentikan penangkaran komodo tentu dengan pertimbangan matang. Kinitinggal dinas terkait membantu memecahkan masalah yang dihadapi pengelola Gembiraloka. Kalau perlu bekerja sama dengan komunitas pecinta binatang baik dalam negeri maupun luar negeri.

Komodo sudah bukan milik bangsa Indonesia saja, tetapi juga dunia sehingga pelestariannya pun tidak hanya tanggung jawab kita saja.

Bila ada peraturan atau izin khusus, saya yakin banyak pihak yang mau memelihara. Di Semarang ada pengusaha pemancingan yang memelihara binatang untuk menarik para pengunjungnya.

Kalau tujuannya baik apa salahnya pihak swasta atau pribadi diberi kesempatan memelihara daripada punah dan tidak dapat disaksikan selamanya.

Nurul Setiariksa

Jl Candi Mas Slt l/135 Pasadena, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA