logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 11 Nopember 2006 SEMARANG
Line

Peringatan Hari Pahlawan di Kusuma Bantala Jambu

Menangis, Terkenang Teman Gugur di Depan Mata

NOVEMBER enam puluh satu tahun lalu di sepanjang jalan Bedono, Jambu-Ambarawa, Kabupaten Semarang, terjadi pertempuran sengit antara laskar Tentara Rakyat Mataram (TRM) dan pejuang rakyat melawan tentara sekutu Inggris. Ketika itu laskar TRM -yang sebagian kemudian bergabung Tentara Pelajar (TP)- menggiring pasukan Inggris ke Ambarawa. Pada pertempuran 21 November 1945 di desa itu setidaknya 21 pejuang gugur di medan perang, tepatnya di jurang Gambir, Bedono.

''Yang diingat namanya 13 orang, namun seingat saya ada 21 pejuang yang gugur di Bedono dalam melawan tentara sekutu, sehingga yang tertulis di TMP Kusuma Bantala ini hanya 13 Tentara Rakyat Mataram,'' kata Moelyono, Ketua Dewan Harian Cabang (DHC) Angkatan 45 Kabupaten Semarang, Jumat (10/11).

Pria yang mengaku dijuluki Moelyono Edan ini kepada pelajar yang mengikuti upacara mengingatkan agar mengisi kemerdekaan dengan hal positif. ''Saya saat itu masih SMP bergabung dengan TP, tapi sudah berjuang angkat senjata,'' kenangnya.

Moelyono bersama Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Pepabri, Persit Koramil Jambu, Garda Bangsa, Muspika Jambu, dan sejumlah pelajar SMU dan SMP, khusyuk mengikuti upacara memperingati Hari Pahlawan dan tabur bunga di Kusuma Bantala Bedono.

Usai upacara yang dipimpin Danramil Jambu Kapten Inf Moch Basari itu, Wakil DHC Angkatan 45 Tjipto Martojo juga menjelaskan, gugurnya para pejuang perlu dihargai dengan mengenang jasa perjuangannya. ''Selain tentara kita, pihak sekutu juga banyak yang tewas,'' terang Tjipto.

Gugurnya pejuang bangsa, menurut Tjipto, lebih disebabkan oleh perlengkapan dan pengalaman perang. Tentara musuh memiliki senjata lengkap, sedangkan peralatan yang dimiliki laskar rakyat cukup terbatas. ''Pejuang yang gugur di TMP ini saat itu lari ke arah jurang di depan TMP Kusuma Bantala, sehingga memudahkan sekutu menembak mereka dari atas,'' terang Tjipto.

Terharu

Saat mengheningkan cipta dalam upacara, sebagian veteran tersebut tampak menangis haru. Batu nisan bertuliskan nama sejumlah pejuang di TMP tersebut memaksa mereka kembali ke masa lalu. ''Saya terharu mengingat betapa perjuangan kami di masa lalu sangat berat,'' tutur Tjipto.

Moelyono dan Tjipto sepakat peringatan perjuangan pahlawan bangsa di desa itu diperingati setiap tahun. ''Tahun ini lebih meriah dibandingkan dengan tahun lalu dan kali ini pesertanya cukup banyak, sekitar 300 orang dari berbagai unsur dan generasi usia,'' papar Moelyono.

Menariknya, upacara ini juga dihadiri pejuang kemerdekaan dari Kota Semarang. Adalah Soehendro, mantan pasukan TP Brigadir 17 yang tinggal di Semarang, menangis saat mengheningkan cipta. ''Karena saya teringat teman-teman saya gugur berjatuhan di depan mata saya,'' ucap Soehendro yang kini berusia 78 tahun.

Dia menjelaskan, 6 Januari 1949 lambung kirinya tertembak tentara sekutu. Waktu itu dia mengawal warga dari Desa Koripan Magelang untuk mengambil obat-obatan.

''Saya berhasil menyelamatkan diri dengan berpura-pura sudah mati,'' tuturnya. (Rony Yuwono-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA