| Sabtu, 11 Nopember 2006 | EKONOMI |
CJIBF, Pengalaman Daerah dalam Menarik InvestorEVENT Central Java Infrastructure Business Forum (CJIBF) Solo 5-7 November 2006, merupakan upaya membangkitkan gairah perekonomian regional dengan cara spektakuler. Meski baru kali pertama digelar, kegiatan itu telah bisa dilihat hasilnya. Kita angkat topi terhadap Kadin Jateng yang memotori event ini. Paling tidak, 27 proyek telah terjual dalam waktu relatif singkat, langsung dilakukan penandatanganan Letter of Intent (LoI). Meski masih panjang proses yang harus dilalui, sampai proyek itu benar-benar direalisasi, setidaknya kita telah berhasil menarik minat para pemodal untuk berinvestasi. Bagi daerah, CJIBF sebuah pengalaman bagus dalam menarik investor. Mereka memperoleh banyak pelajaran dari kegiatan itu. Mereka sekarang tahu, cara mendatangkan investor yang cukup ampuh seperti itu. Dari situ, mereka belajar bagaimana cara melakukan lobi yang manjur dan presentasi yang baik, sehingga investor tergerak menanamkan modalnya. ''Saya mendapat pengalaman yang baik, bagaimana cara menarik investor. Bagaimana pula menjelaskan pada mereka tentang proyek yang ditawarkan,'' ujar Ketua Bappeda Pemkot Surakarta Triyanto. Berdasar pengalaman CJIBF itu, Tri akan melakukan persiapan lebih bagus lagi jika nanti ada event serupa. ''Bagi Pemkot Surakarta, persiapan ikut dalam CJIBF ini sebenarnya sudah cukup bagus. Pada event berikutnya akan kita usahakan lebih bagus lagi,'' katanya. Pada event ini, ada tiga proyek yang ditawarkan Pemkot Solo. Yang pertama, pengembangan produksi air bersih, kedua Terminal Type A dan Ketiga Solo Techno Park. Dari ketiga itu yang prosesnya sudah sampai pada LoI, pengembangan produk air bersih. Tak Layak Meskipun dua proyek lain belum terjual, Triyanto optimistis dua proyek lainnya pada saatnya nanti akan disabet investor. Sebenarnya selain tiga proyek itu, Solo menawarkan juga pengembangan bonbin Jurug dan pembangunan Taman Balekambang. Namun dua proyek itu dinyatakan tidak memenuhi syarat, sehingga tidak lolos seleksi untuk ditawarkan. Seperti juga daerah lain, tak semua proyek yang diusulkan, bisa langsung disetujui. Kriteria apa yang menyebabkan proyek ditolak, tidak semua pejabat daerah mengetahui. Termasuk Triyanto yang mengaku tidak tahu persis. Ia berharap pada event serupa mendatang, itu bisa lebih diperjelas lagi, sehingga akan lebih banyak proyek yang bisa ditawarkan. Beberapa pejabat juga menyebut, penyelenggaraan CJIBF ini informasinya terlalu mepet, sehingga persiapan yang dlakukan untuk menawarkan proyek kurang sempurna. ''Ada proyek rinciannya tidak detail, sehingga terpaksa ditolak,'' ujar seorang pejabat tentang proyek yang diusulkan, tapi tidak lolos. Kalau dua proyek yang ditawarkan, dan dua dinyatakan tidak memenuhi syarat dalam seleksi, berarti daerah itu tak berkesempatan menawarkan proyeknya pada event ini. Karenanya, pada event ini belum semua pemkab berpartisipasi. Mepetnya sosialisasi bisa dimaklumi, sebab awalnya CJIBF akan diselenggarakan di Kota Semarang. Namun tiba-tiba saja Gubernur Jateng menyetujui usulan Pemkot Solo yang menginginkan agar event dipindahkan ke Kota Bengawan. Panitia pun cukup dibuat kelabakan. Padahal sebagian materi persiapan sosialisasi sudah tertulis Semarang. Pengalaman dari event ini, tentu akan dapat dikembangkan sendiri oleh daerah. Bagi investor, semua proyek yang ditawarkan dengan cara seperti ini dirasakan lebih transparan. Mereka memperoleh jaminan langsung dari gubernur. Karenanya, untuk melakukan penandatanganan LoI tidak perlu waktu berlama-lama. Mereka yakin berinvestasi di Provinsi Jateng, karena Gubernur Mardiyanto dengan tegas menjamin, menanamkan modal di daerah ini aman dan nyaman. (bt,H11,H12-33) |