logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 01 Nopember 2006 NASIONAL
Line

Lydia Menangis Dengarkan Kronologi Pembunuhan

JAKARTA - Terdakwa pembunuhan Naek Gonggom Hutagalung, Lydia Pratiwi, menangis saat mendengar kesaksian pamannya, Tony Yusuf, yang dijadikan saksi. Tony juga menjadi terdakwa dalam kasus itu, namun berkasnya dipisah dengan Lydia.

Lydia mulai menangis ketika Tony menceritakan saat dia dan korban masuk ke Kamar Tongkol 59 di Putri Duyung Cottage, Ancol, Jakarta Utara.

"Saat itu Naek Gonggom mau melawan, tapi saya minta tidak melawan kalau mau selamat," ujar Tony Yusuf di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jalan Danau Sunter, Jakarta Utara, Selasa (31/10).

Mendengar keterangan Tony itu, terdakwa Lydia Pratiwi langsung menangis dan mengeluarkan sapu tangannya untuk mengusap air mata.

Tidak berbeda halnya Lydia, ibunda korban Neak Gonggom, Hotmana Hutagalung juga langsung terisak ketika mendengar keterangan Tony. Hotmana pun lantas dipapah keluar ruang sidang karena tidak berhenti menangis.

Tony mengaku telah merencanakan penyanderaan yang berujung pada pembunuhan sejak dari rumah. "Saya menyiapkan pisau dan kabel-kabel dari rumah. Saya taruh di dalam tas," ujarnya.

Selain itu, untuk menghindari kecurigaan korban, Tony juga mengikat Lydia, sehingga seolah-olah keduanya dirampok oleh Tony bersama terdakwa lainnya Sukardi.

Kakak Naek Gonggom Hutagalung, Ida Tiur Hutagalung, menyebutkan, terdakwa Lidya Pratiwi selalu ada maunya. Dia mengaku sering menerima keluhan adiknya. "Gonggom sering bilang kepada saya, merasa terganggu dengan telepon Lidya. Setiap telepon selalu ada maunya," ungkap Ida.

Tidak Ada Rencana

Paman Lidya Pratiwi, Tony Yusuf mengaku tidak ada rencana membunuh Naek Gonggom Hutagalung, tapi hanya menyandera dan memeras harta Naek. Adapun pembunuhan Naek dilakukan atas permintaan Vince Yusuf, ibu Lidya.

"Tidak pernah sama sekali ada perundingan pembunuhan. Saya tidak pernah berniat membunuh korban. Saya hanya ingin memiliki uangnya," ungkap Tony Yusuf dalam kesaksiannya.

Tony menuturkan, pembicaraan rencana penyanderaan terhadap Naek dilakukan di rumahnya di Perumahan Bumi Serpong Damai (BSD). Pembicaraan dilakukan di bagian belakang rumahnya. Lidya tidak ikut, dan hanya menunggu di ruang tamu.

Tony juga mengungkapkan, ide pembunuhan terhadap Naek terjadi setelah dirinya menerima telepon dua kali dari Vince.

"Saya ditelepon Ibu Vince, disuruh menghabisi Naek. Pada telepon pertama saya masih berpikir, lalu saya merokok dua batang rokok kretek. Pada telepon kedua, barulah saya tanpa pikir lagi ingin membunuh Naek," kata Tony.

Mengenai isi dua telepon yang disampaikan Vince pun diceritakan oleh Tony.

"Saya sempat ditakut-takuti Ibu Vince, karir Lidya akan hancur kalau kasus itu terbongkar," ujarnya.

Setelah itulah, Tony dan Sukardi menghabisi nyawa Naek di Putri Duyung Cottage, Ancol, Jakarta Utara, pada 28 April 2006. Sementara itu Vince sudah mengambil uang milik Naek di ATM Bank Mandiri senilai Rp 23 juta.

Uang itu dibagi keduanya, sementara itu Sukardi diberi Rp 2 juta.

"Saya gunakan uang itu untuk membayar utang. Separonya untuk membayar bunga pinjaman saya," urai Tony.

Usai mendengarkan keterangan para saksi tersebut, majelis hakim yang dipimpin Karel Tuppu menutup sidang.

Sidang akan dilanjutkan pada 7 November 2006 dengan agenda yang sama, masih mendengarkan keterangan para saksi. (dtc-46a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA