SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Senin, 23 Oktober 2006

- Banyak saudara kita yang hari ini merayakan Idul Fitri 1427 Hijriah. Banyak pula yang baru Selasa besok melaksanakan shalat id. Perbedaan produk ijtihad berdasarkan dua metodologi itu tidaklah patut dipertentangkan, tetapi justru kita hayati sebagai kekayaan khazanah ilmu pengetahuan Islam yang pada momen-momen tertentu menghasilkan syiar lebih besar. Kalau secara sederhana ditarik sebagai sikap moderat, bukankah kemeriahan dalam dua hari akan lebih bermakna ketimbang hanya satu hari?

- Tradisi mudik pada hari Lebaran tetap menjadi suatu ritus kultural yang sangat kuat dan melekat. Setiap tahun, jutaan orang pulang kampung menggunakan berbagai alat transportasi, mulai dari mobil, sepeda motor, bus, kapal laut, hingga pesawat terbang. Semua itu tergantung pada kebiasaan, kebutuhan, dan kemampuan ekonomi masing-masing. Jika permintaan melonjak berlipat-lipat dari situasi normal, jumlah armada angkutan akan ditambah. Fenomena baru yang muncul dalam beberapa tahun terakhir adalah banyak pemudik yang naik sepeda motor.

Sebagian besar mukmin khususnya di kampung pada zaman dahulu akan memanfaatkan momentum Idul Fitri untuk bersilaturahmi sampai sekitar satu minggu. Pada hari kedelapan mereka merasa sudah lebaran (usai).

TANPA terasa Idul Fitri segera tiba. Hari Kemenangan yang dinantikan oleh kaum Muslim yang telah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Adakah makna yang lebih dalam dari semua itu selain perayaan dan ritual tahunan?

Penerapan kedisiplinan memang diperlukan di lembagga seperti sekolah dan lainnya. Apalagi di dalam suatu lembaga pendidikan yang menyangkut kemiliteran, disiplin adalah utama dan sangat penting. Namun apakah disiplin itu identik dengan tindakan kekerasan?

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA