| Senin, 23 Oktober 2006 | PANTURA |
Keripik Tahu PekalonganKemriyuk dan Rendah KolesterolTERJEBAK kemacetan adalah saat yang sangat menyebalkan. Ngemil (makan camilan alias makanan kecil-Red) bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi kejengkelan itu. Namun hati-hati, sebab di tengah maraknya makanan instan, tak sedikit makanan kecil yang mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan tubuh kita. Keripik tahu, camilan khas Pekalongan adalah salah satu alternatif makanan ringan yang sehat dan alami. Seperti halnya keripik tempe, keripik tahu tak hanya renyah, namun juga menyehatkan karena terbuat dari bahan alami, yaitu kedelai. Prosesnya juga dilakukan secara alami tanpa bahan pengawet atau kimia. ''Kelebihan keripik tahu dibandingkan keripik tempe adalah lebih renyah dan lebih sehat, karena kedelainya masih murni dan tidak bercampur ampas. Orang Pekalongan bilang rasanya kemriyuk (renyah-Red),'' tutur Masykur Munawar (47), salah seorang perajin perajin keripik tahu. Warga Desa Simbangkulon, Buaran itu mengaku dirinya adalah pionir dalam pembuatan keripik tahu di Pekalongan. Menurutnya, penganan itu berfungsi ganda. Selain untuk camilan, juga bisa digunakan sebagai pengganti lauk-pauk. Dari hasil penelitian beberapa lembaga perguruan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Pekalongan (Unikal), dan Sekolah Tata Boga di Yogyakarta, keripik tahu dinilai sebagai makanan sehat dengan kadar kolesterol yang rendah. Jangan heran jika kemudian keripik tahu meraih penghargaan sebagai salah satu makanan sehat dalam Festival Makanan Tradisional 2000 yang digelar Pemprov Jateng. Hal itu karena baik bahan maupun proses pembuatannya dilakukan tanpa bahan kimia. ''Semuanya alami, tanpa pengawet termasuk formalin," tuturnya. Dilayukan Bagaimana cara membuatnya? Tahu balok putih yang sudah dipadatkan khusus diiris setebal dua inci dengan panjang 2-3 cm. Irisan itu kemudian digoreng dengan tepung dengan adonan khusus. ''Tahu itu harus dilayukan lebih dulu selama tiga hari sebelum digoreng lagi untuk terakhir kalinya,'' ujar Masykur. Keripik yang satu ini sudah dibuat secara turun-temurun oleh orang tuanya untuk sajian khusus Lebaran. ''Sejak 1998 saya mencoba menjual keripik tahu. Ternyata sambutannya luar biasa sampai kini,'' kisah bapak beranak lima tersebut. Suami Nur Fadilah (32) itu bahkan rela keluar dari pekerjaannya sebagai pengusaha konveksi dan guru di sebuah madrasah aliyah untuk mendalami pembuatan keripik tahu. Kini oleh-oleh asli Kota Santri itu telah menjadi penopang hidup Masykur dan keluarganya. Keripik tahu Sari Nabati buatan Masykur menjadi camilan khas Pekalongan dan dijual dengan harga terjangkau, Rp 6.000-Rp 6.500 per kantong. Tak sulit mendapatkan keripik tersebut. Jika para pemudik lewat jalur pantura dan singgah di toko makanan atau oleh-oleh di Pekalongan, keripik tahu biasanya dipajang di etalase bersama jajanan lainnya. Camilan kemriyuk itu bisa menjadi oleh-oleh alternatif untuk bekal para pemudik saat balik ke tanah perantauan, sekaligus pengusir kejenuhan saat terjebak kemacetan. (Muhammad Burhan-65) |