| Senin, 23 Oktober 2006 | WACANA |
Surat PembacaDisiplin Tidak Identik dengan KekerasanPenerapan kedisiplinan memang diperlukan di lembagga seperti sekolah dan lainnya. Apalagi di dalam suatu lembaga pendidikan yang menyangkut kemiliteran, disiplin adalah utama dan sangat penting. Namun apakah disiplin itu identik dengan tindakan kekerasan? Kadang di dalam akademi kemiliteran atau kepolisian, tindakan kekerasan digunakan untuk mewujudkan sikap kedisiplinan. Bahkan di Akpol Semarang, taruna telah melakukan tindak kekerasan sehingga menyebabkan yuniornya gegar otak. Taruna yunior yang teraniaya itu bernama Hendra. Orang tua korban telah melaporkan kasusnya ke pihak yang berwajib, namun tak ada tanggapan. Kemudian juga melapor ke Gubemur Akpol yang berjanji akan mengusut masalah ini tapi janji tersebut belum tertaksana. Bagaimana ini, di manakah keadilan. Padahal tugas seorang polisi adalah mengayomi masyarakat dan sebagai penegak hukum. Sungguh dangkalkah penegakan hukum kita. Padahal di negara-negara maju, keadilan adalah nomor satu. Siapa pun orang yang bersalah meski anak presiden harus tetap diadili dan diberi sanksi. Junjung keadilan kalau ingin hidup tenang, tenteram dan damai. Seperti pemerintah yang ingin menciptakan aparatur penegak hukum yang bersih, profesional, adil dan bijaksana. Arindyah Kusmartanti Siswa SMAN 7, Semarang *** Penebangan Hutan Di beberapa wilayah Semarang bawah, sulit dijumpai hutan yang masih asri dan udara sejuk. Contoh di daerah Pasadena dulu hutan dan bukit di sekitarnya memberikan suasana menyejukan hati. Tapi kini saya prihatin, bukit yang ada di kawasan tersebut telah menjadi kawasan industri. Suasananya begitu panas dan gersang. Memang kawasan industri itu juga berguna bagi kehidupan bersama terutama membuka peluang lapangan kerja. Tapi mengapa hutan harus menjadi sasarannya. Akibat mendatang mungkin timbul bencana banjir atau tanah longsor yang menyengsarakan masyarakat. Kaum elite bisa memilih pemukiman yang lebih tinggi dan bebas banjir, tapi bagaimana dengan rakyat kecil, hanya akan menanggung akibatnya. Mereka harus mencari tempat pengungsian. Dengan kehidupan sekarang saja rakyat sudah menderita. Semua harga barang tidak ada yang murah. Bila bencana bentu-betul terjadi pada rakyat kecil, bagaimana nasib mereka. Saya berharap hutan beserta bukit yang masih asri dan membawa kesejukan bagi masyarakat di sekitarnya bisa dilestarikan. Hutan dan bukit yang ditumbuhi pepohonan dapat membantu mengatasi bencana banjir atau erosi. Ana Krisnawati Jl Tmn Candimas I/249, Semarang *** Selektif Membuat Sinetron Remaja Dewasa ini banyak stasiun teve menayangkan sinetron kehidupan remaja. Di sinetron dikisahkan remaja metropolitan yang hidup glamour. Mereka seakan-akan lebih mementingkan penampilan luar dari pada prestasi di sekolah. Seolah-olah tayangan tersebut memberi gambaran bahwa semua remaja seperti yang mereka tampilkan. Banyak sinetron yang menayangkan bagaimana menyikapi permasalah hidup dengan jalan pintas dan cara balas dendam. Bahasa yang dipakai pun dirasakan kurang sopan. Misalnya, ketika seorang pemain berbicara kepada orang tuanya, seperti tidak menghargai. Pergaulan mereka juga di luar batas norma seperti pecandu narkoba, mabuk, wanita merokok dan pergaulan bebas. Kebanyakan remaja di sinetron, setelah pulang sekolah langsung pergi jalan-jalan ke mall lebih dulu. Cara berpakaian terutama anak SMA juga secara tidak langsung dipengaruhi tayangan teve. Seragam junkies dan rok hipster mini menjadi trade mark anak remaja (cewek) yang seharusnya tidak mereka pakai di sekolah. Saya imbau para produser untuk lebih selektif membuat sinetron remaja. Juga harus memperbaiki mutu, jangan sampai tinggi kuantitas, rendah kualitas. Jangan menyimpang dari aturan dan norma yang berlaku di masyarakat. Ika Ari Kurnia Putri Jl Pamularsih V/17, Semarang *** Selingkuh Aku heran mengapa kata selingkuh selalu diartikan jelek yaitu hubungan kemesraan antara lelaki dan wanita yang bukan suami-istri. Ini namanya salah kaprah yang sudah menyebabkan imej negatif. Padahal menurut saya, kata selingkuh punya arti baik, sebab perpanjangan dari selingan luar keluarga kukuh. Orang agar sehat perlu aktivitas bervariasi, ada selingan luar jadi tidak homogen tetapi heterogen seperti olahraga badminton, tenis, joging, belajar gending Jawa, pengajian dan lainnya sehingga seluruh organ tubuh bergerak, darah mengalir normal, jantung berirama dan badan menjadi sehat. Menurut ahli kesehatan Kanada, Prof Dr Gudstein, orang yang sering meeting wajib tertawa selama 3 jam dalam 24 jam. Menurut dia aat tertawa seluruh organ tubuh dari otak, mata, telinga, hidung, mulut, tangan, jantung, paru-paru, lever, usus, ginjal bergerak-gerak sehingga seluruh syaraf juga bergerak. Gerakan tersebut menyebabkan aliran darah mengalir normaldan badan sehat. Moeljono HP Jl Banteng Utara VII/1, Semarang *** Punah, Manusia Kate Seorang teman baru pulang dari Jepang mengabarkan, populasi manusia kate di negara itu kini hampir punah dan tergantikan generasi penerus yang lebih berkualitas. Manusia kate Jepang adalah cerita mundur tahun 50-an. Perubahan ini bukan tanpa konsep. Kemajuan regenetika hasil teknologi tinggi Jepang disemangati tekad kuat untuk berada pada baris terdepan ras Asia. Banyak yang bilang bahwa esensi kebangkitan Jepang bareng Indonesia. Jepang bangkit tahun 1945 pascababak belur dihajar bom atom. Indonesia juga bangkit tahun 1945 pascababak belur dihajar kolonialisme Belanda. Bedanya pada semangat. Jepang dilandasi semangat bushido samurai, sementara Indonesia memakai alon-alon asal kelakon dan nggremet-nggremet asal selamet. Kita baru menyadari alon-alon asal kelakon & nggremet-nggremet asal selamet punya sesensi yang dalam. Alon dan nggremet tidak mesti diartikan harus santai pelan-pelan. Tapi sebuah upaya yang tenang dan pasti. Tidak kemrungsung dan tidak kesusu. Jadi kelakon dan selamet yang dijadikan target akhir. Memang kebeningan mata hati dan ketajaman mata pikir nenek moyang belum mampu kita tututi. Aplikasi keheroikan jiwa samurai pada masyarakat Jepang ternyata juga didukung ransum yang ideal. Ikan jadi menu wajib di negara macan Asia tersebut. Konsumsi ikan ini diterapkan pada siswa sejak usia dini dan dipantau ketat karena punya kandungan gizi tinggi. Produksi ikan Jepang cukup melimpah. Dasar ada niat dilanjuti semangat dan di back up gizi tinggi maka jadilah Jepang negara sebagai negara maju, meski langganan badai dan tsunami. Sayang titik fokus arah kebijakan nasional belum memihak sektor kelautan. Maka perlu disosialisasikan Gerakan Gemar Ikan (GGI) agar ada peningkatan SDM Indonesia secara sistematis. Apalagi di beberapa kota telah hadir PIH (Pasar Ikan Higienis) termasuk di Kabupaten Semarang. Noor Rofiq Jl Wamena V/228-229, Ungaran *** Bulan Penyucian Diri Setiap Ramadan, berbagai bentuk kemaksiatan seperti pelacuran, perjudian dan minum minuman keras dirazia untuk menghormati kesucian bulan itu. Media massa terutama TV berlomba menampilkan acara religi dan pengajian. Para selebritis pun ramai-ramai berbusana islami menutup aurat. Majelis dzikir dan pengajian semarak di mana-mana. Bulan Ramadan seakan menjadi masa cuti kemaksiatan. Naun lebih penting dari itu semua, akankah Ramadan memiliki makna dan pengaruh yang membekas dalam kehidupan kita, khususnya kaum muslim. Jika saat Ramadan ramai-ramai menyucikan harta dengan mengeluarkan zakat, infak dan sedekah, apakah pascabulan itu riba, korupsi, penipuan dan transaksi haram juga tetap ditinggalkan? Jika bar, kafe, diskotek dan tempat hiburan berbau erotis dan porno ditutup, apakah setelah itu berbagai kemaksiatan juga ditinggalkan. Jika saat Ramadan kita ramai-ramai menutup aurat, apakah setelah itu akan tetap demikian?. Semoga kali ini tidak sekadar tradisi atau ritual tanpa bekas dan hanya menjadi masa cuti dari kemaksiatan. Kali ini sebagai kesempatan melakukan pertobatan dari kemaksiatan, kesempatan menjalankan ketaatan kepada Allah dan menambah bekal menghadapi perjumpaan-Nya kelak. Agustin Lisafitri Jl Tmn Sri Rejeki Tmr II/9, Semarang |