logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Oktober 2006 WACANA
Line

Idul Fitri dan Makna Kesucian Diri

  • Oleh Abdul Choliq Dahlan

TANPA terasa Idul Fitri segera tiba. Hari Kemenangan yang dinantikan oleh kaum Muslim yang telah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Adakah makna yang lebih dalam dari semua itu selain perayaan dan ritual tahunan?

Idul Fitri sejatinya mengandung makna jauh lebih dalam. Kesucian-diri kaum Muslim tidak hanya ditentukan oleh keberhasilannya menahan hawa nafsu, haus dan lapar selama satu bulan, tetapi juga ditentukan oleh kesediaannya untuk meminta maaf dan memberikan hak kepada kaum miskin dan papa yang berhak menerimanya.

Idul Fitri juga merupakan momen yang tepat untuk memperbaiki sikap dan cara beragama kita yang mungkin selama ini kurang pas dan kurang memberi manfaat bagi orang lain.

Psikolog Gordon W. Allport menyebutkan adanya dua sikap keberagamaan manusia: ekstrinsik dan intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan, dan bukan untuk kehidupan, something to use but not to live.

Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain: kebutuhan akan status, rasa aman atau harga diri dan gengsi.

Orang yang beragama dengan cara ini, melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama, ia puasa, shalat, berdoa, berhaji, dan sebagainyaótetapi tidak di dalamnya. Menurut Allport, cara beragama seperti ini erat kaitannya dengan penyakit mental. Cara beragama semacam ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Sebaliknya, cara beragama seperti inilah yang agaknya telah menjerumuskan bangsa kita dalam kubangan kebencian, dendam kesumat, konflik, irihati, dan fitnah.

Sedangkan cara beragama yang kedua, yang intrinsik, dianggap oleh Allport bisa menunjang kesehatan jiwa manusia dan kedamaian masyarakat. Orang yang beragama dengan cara ini memandang agama sebagai comprehensive commitment dan driving integrating motive, yang mengatur seluruh hidupnya. Agama diterima sebagai faktor pemadu (unifying factor).

Dalam konteks keberagamaan intrinsik inilah masyarakat yang damai dan penuh kasih sayang bisa diwujudkan karena dengan cara beragama seperti ini kita bisa melakukan tazkiyyah al-nafs (penyucian diri, penyucian jiwa). Konsep tazkiyyah al-nafs (atau penyucian-diri) antara lain bisa ditemukan dalam ayat Alquran yang menyatakan, "Sungguh, bahagialah orang yang menyucikan jiwanya" (Q.s. Asy-syam/91:9).

Kata kunci yang digunakan ayat ini adalah zakka yang berarti menyucikan, tetapi dalam bentuk intransitif bisa juga berarti tumbuh dan berkembang. Menurut Djohan Effendi (1991), Alquran sangat mengagungkan prinsip-prinsip "penyucian moral" dan pengembangan-diri dalam kehidupan seorang beriman.

Dalam ungkapan tazkiyyah al-nafs, terkandung pengertian dan gagasan tentang: (satu) usaha-usaha yang bersifat pengembangan diri, yaitu upaya mewujudkan potensi-potensi manusia menjadi kualitas moral yang luhur (akhlaq al-karimah). Dua, usaha-usaha yang bersifat pembersihan dan penyucian diri, yaitu upaya untuk memelihara diri dari kecenderungan immoral (akhlaq al-sayyiíah).

Dengan demikian, tazkiyyah al-nafs adalah proses perkembangan jiwa manusia, proses pertumbuhan, pembinaan dan pengembangan akhlaq al-karimah (moralitas yang mulia) dalam diri dan kehidupan manusia. Dalam proses perkembangan jiwa itulah terletak falah (kebahagiaan), yaitu keberhasilan manusia dalam memberi bentuk dan isi pada keluhuran martabatnya sebagai makhluk yang berakal budi.

Pengejawantahan

Mohammad Iqbal menyatakan bahwa esensi dari proses perkembangan jiwa adalah pertumbuhan, pembinaan, dan pengembangan nilai-nilai akhlaq al-karimah dalam diri dan kehidupan kita sebagai manusia. Oleh karenanya, akhlak adalah kualitas moral yang khas manusiawi dan bahkan merupakan esensi utama dari kemanusiaan kita.

Dalam akhlak itu tercermin jiwa kita sebagai makhluk jasmani dan rohani. Dalam kehidupan akhlak itu, kita menyatakan diri memberi bentuk dan isi pada wujud kejadian sebagai makhluk yang diciptakan dalam keadaan ahsan taqwim.

Tanpa akhlak kita kehilangan esensi kemanusiaan, tanpa akhlak kita akan hidup dan berada di dunia sebagai manusia tanpa kemanusiaan, sebagai makhluk asfala safilin.

Akhlak atau kesadaran moral pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari kemampuan-kemampuan maknawi kita sebagai manusia yang bersifat intelektual dan spiritual. Dalam kehidupan praktis, kesadaran moral mewujudkan diri dalam bentuk hati nurani (dhamir, a conscience).

Alquran menyebut hati nurani sebagai potensi kesadaran moral manusia (al-nafs al-lawwamah), seperti diungkapkan dalam ayat, Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesal" (Q.s. Alqiyamah/75: 2).

Dalam Alquran, orang yang shalat akan celaka, bila ia menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang miskin, riya dalam amal, dan tidak mau menolong sesama manusia. Dalam hadis lain, diriwayatkan tentang orang muflis (orang bangkrut) pada hari kiamat, yang kehilangan seluruh pahala shalat, puasa, dan hajinya karena merampas hak orang lain, menuduh yang tidak bersalah, atau menyakiti sesama manusia.

Insan Kamil

Dalam Islam, tazkiyyah al-nafs tidak bisa dilakukan dengan menyendiri di gua atau mengasingkan diri dari masyarakat. Sebaliknya, tazkiyyah al-nafs harus dilakukan seiring antara kekhusukan mendekatkan diri dan ketundukan pada Tuhan dengan kepedulian dan kesediaan untuk berbagi dengan masyarakat di sekitar kita.

Edward Mortimer (1985) menyatakan bahwa Islam lebih banyak menekankan dimensi sosial ketimbang dimensi ritual, sehingga ia melihat Islam sebagai a political culture. Islam memandang bahwa kehadiran agama di dunia ini dimaksudkan untuk mengubah masyarakat (al-nas) dari berbagai kegelapan menuju cahaya; dari zhulumat kepada al-nur.

Ia datang bukan untuk membenarkan statusquo, tetapi ia datang untuk memperbaiki statusquo.

Alquran menyuruh kita untuk saling menolong, sebab dengan cara itulah kita dapat membangun masyarakat manusia bukan dengan dasar kesamaan dan keseragaman, melainkan atas dasar kehendak dan niat baik di antara segenap kelompok masyarakat dan individu yang berbeda. Sebagai individu dan bagian dari masyarakat, kita berkewajiban mewujudkan kehendak dan niat baik tersebut pada seluruh umat manusia, tanpa membedakan asal-usul keturunan, agama, ras, warna kulit, maupun golongan sehingga bisa mendekatkan kita dengan cita-cita menuju insan kamil.

Insan kamil adalah sebuah proses pencarian manusia menjadi manusia sejati dalam sebuah gerak dinamis dalam masyarakat, bukan pencapaian statis. Dalam proses ini, hubungan manusia dengan Tuhan dan dengan sesama manusia merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan serta merupakan satu kesatuan yang utuh. Tanggung jawab untuk membangun tatanan kehidupan yang lebih manusiawi dan adil terletak pada pundak setiap individu manusia. Oleh karenanya setiap agama menganjurkan sikap aktif dan bukan pasif agar kita secara kreatif menyadari potensi dalam diri kita untuk kemudian mengejawantahkannya dalam perbuatan nyata dan praksis pembebasan demi menegakkan civil society yang kita cita-citakan bersama.

Keberagamaan dan kebersamaan bukanlah dua aspek yang terpisah dan lepas satu sama lain, tetapi harus dilihat dan didudukkan dalam keutuhan hidup manusia yang berlangsung dinamis. "Hidup", kata Iqbal, adalah "satu dan terus-menerus. Manusia senantiasa bergerak maju untuk selalu menerima cahaya baru dari realitas yang tidak terbatas, yang setiap saat muncul sebagai kemegahan baru." Dan manusia, sebagai penerima "cahaya Ketuhanan," bukanlah sekadar penerima pasif. Setiap perbuatan dari ego merdeka akan melahirkan kerja kreatif dan praksis pembebasan manusia dari ketertindasan, kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan. (11)

--- Dr H Abdul Choliq Dahlan MA, ketua umum Persatuan Tarbiyah Islamiyah Jateng


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA