logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Oktober 2006 WACANA
Line

Lebaran dan Simbolisasi Ketupat

  • Oleh Imam Munadjat

Sebagian besar mukmin khususnya di kampung pada zaman dahulu akan memanfaatkan momentum Idul Fitri untuk bersilaturahmi sampai sekitar satu minggu. Pada hari kedelapan mereka merasa sudah lebaran (usai). Dengan berlebaran, tujuan puasa Ramadan untuk meningkatkan kesalehan ritual vertikal maupun kesalehan sosial horisontal telah "lebar" mereka lakukan. Sebagai simbolnya mereka makan ketupat. Bahkan di kalangan masyarakat tertentu kita juga mengenal hari kedelapan Syawal dengan bada kupat, ditandai dengan tradisi keramaian.

KETIKA menggolongkan ibadah dalam Islam, yang oleh Yusuf Qardhawi dibagi menjadi lima golongan, puasa Ramadan termasuk ibadah jasadiah, yakni yang pelaksanaannya memerlukan kekuatan badan, juga digolongkan sebagai ibadah yang memerlukan pengendalian hawa nafsu. Puasa atau shiyam hakikatnya mengendalikan, menahan/ imsak diri dari hal-hal yang mubah, yakni mencegah makan dan minum serta berhubungan dengan istri/ suami (nafsu), dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Menurut Qardhawi, pendidikan pengendalian nafsu yang hanya berlangsung sepanjang hari (malam hari boleh dilakukan ñ Al-Baqarah: 187) sebenarnya memberikan pelajaran, sekuat apa pun nafsu itu menguasai manusia, ternyata masih bisa dikendalikan dengan kemauan keras untuk melaksanakan. Di antara hikmahnya adalah mendidik mengendalikan nafsu dengan membiasakan sabar.

Juga membersihkan jiwa (tazkiyah al nafs), mendidik diri mematuhi perintah dan menjauhi larangan. Dengan penuh kesadaran dia mengatakan kepada dirinya bahwa Allah Maha Tahu dan Maha Melihat. Di samping itu mengajarkan nilai sosial: tumbuhnya empati, kemampuan berbagi rasa bagi si kaya akan adanya rasa lapar yang banyak dirasakan oleh orang miskin. Sikap itu diharapkan menumbuhkan kedermawanan.

Perpaduan antara kesadaran ketuhanan dengan kesadaran sosial itulah yang menandai kondisi fitri manusia yang paling asasi. Bertemu antara ketakwaan vertikal dan ketakwaan horisontal, dimensi rabbaniyah dan yang berdimensi basyariyah/ insyaniyah (kemanusiaan).

Agar tidak terjadi bias penafsiran karena perbedaan persepsi tentang bentuk laku konkret sebagai pengejawantahan takwa, Allah Swt memberikan berbagai indikator ketakwaan yang berlaku universal - bagi siapa saja, kapan saja, dan di mana saja serta tidak pandang suku dan ras baik bangsa Arab maupun bangsa ajam (bukan bangsa Arab) yang ìwujudnyaî dapat dilihat dari implementasi kehidupan sehari hari.

Indikator tersebut antara lain terdapat dalam surat Al-Baqarah: 3 dan Surat Ali-Imran: 134. Pada surat Al- Baqarah Allah menyebutkan tentang siapa orang bertakwa (muttaqin), yaitu orang yang beriman (yakin) akan adanya yang gaib, menegakkan shalat, mendermakan sebagian rezekinya. Semuanya menunjukkan ketakwaan itu berdimensi vertikal dan horisontal, berdimensi khaliqi dan makhluqi.

Karenanya orang yang bertakwa secara total atau kaffah adalah orang yang saleh secara ritual vertikal dan saleh secara amal sosial horisontal.

Untuk semakin meyakinkan ketakwaan kaffah (tentunya) tidak hanya diindikasikan dengan kesalehan ritual. Allah membeberkan lebih gamblang kesalehan sosial sebagai manifestasi ketakwaaan tersebut. Ketika menyebut siapa muttaqin, adalah mereka yang disediakan surga yang seluas langit dan bumi. Indikatornya konkret, yaitu:

Pertama, orang yang mau berderma dalam kondisi lapang dan sempit. Ada penekanan dengan menyebutkan langsung lapang dan sempit, dan bukan perintah "bersedekahlah kamu".

Rahasia di balik itu adalah, tidak jarang orang pada saat dihimpit kesempitan berangan-angan akan berderma apabila mendapatkan kelapangan. Namun ketika lapang ternyata masih merasa "kesempitan" juga. Maka Allah langsung menyebutkan lapang dan sempit.

Kedua, orang yang bisa menahan marah.

Ketiga, mau memaafkan kesalahan orang lain. Ada rahasia di balik ayat ini. Indikator kedua dan ketiga itu berada dalam satu pengertian. Orang yang bisa menahan marah bukanlah yang ketika mau marah kemudian menahan diri untuk tidak jadi marah. Tetapi maksud kaadhimiina al ghaidha adalah orang yang ketika menurut ukuran umum seharusnya marah namun tidak jadi marah karena kesalahan orang lain yang (seharusnya) menyebabkan marah telah dia maafkan.

Keempat, orang yang apabila berbuat kejahatan yang membawa dampak bagi orang lain atau berbuat zalim segera ingat akan Allah dan segera memohon ampunan serta berjanji tidak akan mengulanginya.

Asumsi Kefitrian

Setiap mukmin yang melaksanakan pasti berasumsi, puasa Ramadan mampu mengantarkan dirinya menjadi lebih bertakwa, utamanya yang berdimensi vertikal, sehingga menilai telah terjadi eskalasi kesalehan ritual. Agar ketakwaannya semakin total, pada hari Idul Fitri dia akan melakukan silaturahmi kepada sanak saudara, kerabat, sejawat, tetangga, bahkan siapa saja. Salah satu tujuannya untuk meminta maaf dan saling memaafkan.

Dalam dimensi ini dapat dipahami secara religi (mungkin tidak secara ekonomi) mengapa orang mau bersulit-sulit, antre, berebut tempat agar dapat mudik. Dari dimensi ini pula, mencegah orang mudik untuk Lebaran dan bersilaturahmi dengan alasan pemborosan dan sebagainya jelas melanggar hak untuk memperoleh kefitrian.

Idul Fitri sebagai hasil akhir dari proses shiyam Ramadan diharapkan menumbuhkan (kembali). Ada pula yang menyebutnya dengan hari raya. Karena itu pula ada yang bersilaturahmi dengan mengucapkan selamat Lebaran. Orang Jawa sering juga menyebutnya dengan bada atau baída (sesudah, setelah atau lebar). Hari kedelapan bulan Syawal lazim disebut dengan lebaran kupat, lebaran ketupat atau bada/ baída kupat. Hari itu menandai berakhirnya kesempatan silaturahmi dalam rangka berlebaran.

Karena itu di beberapa tempat ditandai dengan bersuka cita di tempat keramaian tertentu, seperti syawalan, lomban, dan berbagai tradisi lainnya.

Pada Lebaran pula biasanya kaum ibu memasak ketupat sebagai ganti nasi atau untuk melengkapi nasi. Selama tiga kali sehari kita makan ketupat yang biasanya dilengkapi dengan opor atau sambal ati. Dahulu ada sebagian masyarakat yang menyajikan ketupat sebagai sarapan pagi untuk disantap oleh anak-anak secara beramai-ramai sebelum shalat id. Pada saat itu pula hampir semua tetangga menyediakan makanan serupa sebagai bancakan (makan bersama, nasi atau ketupatnya diletakkan dalam satu tempat dan disantap ramai-ramai).

Anak-anak berurutan menyantap ketupat yang telah disediakan.

Penyaji ketupat akan memanggil anak-anak agar datang ke rumah untuk menikmati ketupat yang telah disediakan. Di sela-sela kupat atau di bawah daun alas ketupat biasanya diselipkan uang recehan untuk "ditemu" anak-anak itu. Ada tujuan mulia di balik itu, yaitu agar pagi hari Idul Fitri mereka telah makan (sebab ada pula yang menerjemahkan sebagai dibolehkannya lagi makan pagi atau futhuur) dan mendapatkan sekadar "sangu" berlebaran.

Pada putaran akhir "bancakan ketupat" anak-anak akan menghitung jumlah receh uang yang didapatnya.

Tentu ada perasaan lega bagi mereka yang sudah dapat memaafkan atau telah mendapatkan maaf, karena ajaran agama mengatakan, kesalahan kepada manusia akan diampuni oleh Allah setelah dia mendapat maaf dari orang yang kepadanya dia telah melakukan kesalahan. Maka ketika bersilaturahmi, baik benar-benar ada kesalahan atau tidak, kita tetap meminta maaf. Memaafkan kesalahan orang lain di samping merupakan indikator ketakwaan juga merupakan tindakan terpuji.

Sudah Lebaran

Sebagian besar mukmin khususnya di kampung pada zaman dahulu akan memanfaatkan momentum Idul Fitri untuk bersilaturahmi sampai sekitar satu minggu. Pada hari kedelapan mereka merasa sudah lebaran (usai). Dengan berlebaran, tujuan puasa Ramadan untuk meningkatkan kesalehan ritual vertikal maupun kesalehan sosial horisontal telah "lebar" mereka lakukan. Sebagai simbolnya mereka makan ketupat. Bahkan di kalangan masyarakat tertentu kita juga mengenal hari kedelapan Syawal dengan bada kupat, ditandai dengan tradisi keramaian.

Dengan bersuka cita mereka merasa menjadi "orang yang menang dan beruntung" karena telah berhasil melaksanakan puasa Ramadan dan silaturahmi.

Simbolisasi peristiwa budaya bagi manusia inilah yang membedakannya dari hewan. Maka manusia oleh Ernst Cassier disebut sebagai animal symbolicum (hewan yang bersimbol). Simbol yang berasal dari bahasa Yunani symbolos berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang. Dalam budaya Jawa simbol Lebaran/ Idul Fitri adalah ketupat.

Pernah timbul pertanyaan, ketupat, dan bukan yang lain? Ternyata itu adalah akronim dari kata laku papat, yang berarti ada empat perilaku yang harus dijalankan dan terjadi pada orang yang berlebaran.

Empat perilaku yang dapat mengantarkan seseorang agar dapat disebut telah berlebaran adalah: lebar, lebur, luber, dan labur. Lebar berarti usai atau selesai. Untuk dapat lebar dan kembali kepada kefitrian maka harus dilebur segala dosa dan kesalahan. Dengan selesainya puasa dan masuk pada kondisi lebar berati segala kesalahan dan dosa telah selesai.

Lebur berarti luluh atau binasa. Ketika berlebaran semua kesalahan dan dosa telah lebur, luluh, dan sirna. Kesalahan dan dosa yang telah lebur harus luber, melimpah tumpah, yang tersisa adalah kefitrian. Setelah melakukan semua itu, unsur keempat yang harus terpenuhi adalah labur. Labur dalam bahasa Jawa adalah kapur, pewarna putih untuk tembok/ dinding atau alat tulis (warna putih) yang dipergunakan untuk menulis di papan tulis dari kayu berwarna hitam. Orang yang lebar dan kembali kepada kefitriannya putih bagai labur atau kapur.(11)

--- Drs H Imam Munadjat, SH, MS, dosen Unissula Semarang, peserta Program Doktor Ilmu Ekonomi Unair Surabaya


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA