| Senin, 23 Oktober 2006 | WACANA |
TAJUK RENCANAMudik dengan Aman dan Nyaman- Tradisi mudik pada hari Lebaran tetap menjadi suatu ritus kultural yang sangat kuat dan melekat. Setiap tahun, jutaan orang pulang kampung menggunakan berbagai alat transportasi, mulai dari mobil, sepeda motor, bus, kapal laut, hingga pesawat terbang. Semua itu tergantung pada kebiasaan, kebutuhan, dan kemampuan ekonomi masing-masing. Jika permintaan melonjak berlipat-lipat dari situasi normal, jumlah armada angkutan akan ditambah. Fenomena baru yang muncul dalam beberapa tahun terakhir adalah banyak pemudik yang naik sepeda motor. Tahun ini, dikabarkan peningkatannya sampai 40 persen, terutama yang berasal dari Jakarta. - Dilihat dari semua sisi, tampaknya tak ada yang tidak positif. Bagaimanapun, silaturahmi pada hari Lebaran mempunyai makna sosial yang besar. Ketika para pemudik pulang kampung dengan membawa sejumlah uang, ada pula unsur pemerataan. Kalau dijumlah total, tentu mencapai triliunan rupiah. Sekarang, mudik juga dilakukan oleh mereka yang bekerja di luar negeri, khususnya TKI. Disambutlah mereka bak seorang pahlawan karena dianggap telah menghasilkan devisa. Padahal setelah itu, dana habis dikonsumsi di dalam negeri. Namun tetap ada nilai plusnya, sebab peningkatan permintaan pasar juga memicu gairah perekonomian. - Masa-masa ini merupakan salah satu peak time yang dinantikan pengusaha, mulai dari penjual barang retail sampai pedagang mobil. Tentu yang paling merasakan adalah pengusaha transportasi atau biro perjalanan, termasuk restoran. Semua pihak pun berharap bisa menikmati keuntungan lebih pada hari Lebaran, kendati banyak yang mengeluh kenaikannya tak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Toh hotel-hotel sudah penuh dipesan jauh-jauh hari. Karena itu, fenomena mudik tetap menjadi sebuah kabar gembira dan banyak dinantikan. Sebab bagi sebagian masyarakat, berkonsumsi lebih pada hari Lebaran adalah bagian dari menikmati hasil jerih payah bekerja selama setahun. - Yang sering dikhawatirkan, menyangkut keselamatan dan keamanan pemudik. Selalu saja terjadi kecelakaan yang memakan banyak korban. Diberitakan di harian kita, diduga terjadi sabotase terhadap jalur kereta di pantura. Dua batu besar ditemukan di rel. Untung akibatnya tidak fatal. Karena itu, masalah keamanan haruslah menjadi pemikiran kita bersama. Jangan sampai niat untuk berkumpul sanak saudara tak kesampaian karena terpaksa masuk rumah sakit atau bahkan meninggal di perjalanan. Safety first, haruslah menjadi pedoman sehingga peningkatan pengamanan dari segi fisik perlu diutamakan. Jangan hanya mengejar setoran tetapi lupa soal keamanan. - Dalam beberapa tahun terakhir, kelancaran arus mudik tampaknya sudah bisa dirasakan. Di sisi lain, masyarakat pun semakin rasional dan tidak terlalu memaksakan diri dalam segala hal, karena mereka juga berpikir untuk apa mudik kalau ternyata tidak aman dan kurang nyaman. Sementara itu, kesiapan aparat keamanan serta instansi terkait yang selalu siaga di jalan raya, semakin bisa diandalkan. Dengan demikian, walaupun jalanan padat, pemudik tetap tak menemui kesulitan apa pun. Ada yang menyediakan makanan dan minuman gratis serta sebagainya. Apalagi hal itu sudah menjadi komitmen bersama, sehingga wajar kalau dari tahun ke tahun kualitas pelayanan terus meningkat. - Namun kecelakaan juga bisa terjadi di tempat-tempat wisata. Begitu berjubel dan bernafsunya pengunjung, aspek keselamatan jadi sering terlupakan. Inilah yang juga perlu diantisipasi sejak awal oleh pengelola tempat wisata. Misalnya, sebuah kapal pesiar yang hanya bisa menampung 50 orang, dinaiki lebih dari 100 orang. Kita percaya tahun ini akan lebih baik dibanding dengan tahun sebelumnya sehingga mudik akan tetap menjadi sebuah kegiatan rekreatif yang menyehatkan. Bukan sebaliknya, menjadi tragedi yang memilukan. Ketika jumlah korban kecelakaan menurun, itulah salah satu indikasi mudik semakin aman. |