logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Oktober 2006 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Beridul Fitri, Bermental Ramadan

- Banyak saudara kita yang hari ini merayakan Idul Fitri 1427 Hijriah. Banyak pula yang baru Selasa besok melaksanakan shalat id. Perbedaan produk ijtihad berdasarkan dua metodologi itu tidaklah patut dipertentangkan, tetapi justru kita hayati sebagai kekayaan khazanah ilmu pengetahuan Islam yang pada momen-momen tertentu menghasilkan syiar lebih besar. Kalau secara sederhana ditarik sebagai sikap moderat, bukankah kemeriahan dalam dua hari akan lebih bermakna ketimbang hanya satu hari? Bukankah momen merayakan bersama-sama antara dua metodologi itu juga lebih sering kita nikmati ketimbang perbedaan yang hanya sekali dua kali terjadi?

- Dengan sikap moderat, toleran, dan ukhuwah itulah Idul Fitri kita tahun ini akan terasa lebih bermakna. Kita justru seperti diingatkan untuk merevitalisasi, menghangatkan kembali kesiapan untuk menerima perbedaan, bahkan dalam lingkar Islam sendiri. Semacam charge untuk menguatkan kembali tuntutan sikap bijak di tengah ikhtilaf yang niscaya muncul dalam kehidupan manusia. Kita diingatkan untuk tidak memutlakkan kebenaran dalam berbagai macam ijtihad hidup, juga disegarkan kembali kancah pandangan kita mengenai eksistensi pihak lain. Eksistensi untuk diterima dan dihormati dalam sebuah kehidupan yang berbineka, beraneka ragam warna dan sumber.

- Apa yang dihasilkan dari proses sebulan -puasa Ramadan- lewat puncak Idul Fitri adalah kesiapan untuk kembali menjadi fitri, tetapi tetap menggenggam mentalitas Ramadan. Mengarungi dinamika kehidupan selama 11 bulan berikut adalah ujian aktualisasi "sikap" atau "mental" puasa yang sesungguhnya, dan bukan pada bulan Ramadan itu sendiri. Penaklukan uji ketahanan diri secara syar'iy hanya menjadi pijakan. Selebihnya, yang hakiki adalah pengejawantahan hasil penaklukan syariat tersebut. Setiap bentuk ibadah bersubstansi sebagai madrasah ruhaniah, karena realitas target yang hendak dicapai adalah terciptanya sikap-sikap sosial.

- Kita hidup dalam sebuah negara yang berbineka, dengan beragam keyakinan dan warna-warninya. Kalau berbagai perbedaan itu tidak disikapi dan dinikmati sebagai keindahan interaksi antarmanusia, bukankah potensial menciptakan ketegangan-ketegangan komunikasi dalam memperjuangkan kepentingan kelompok? Maka pelajaran yang dibentuk selama Ramadan sungguh kena, yakni mentalitas menahan diri. Keyakinan tentang tidak tepatnya budaya dominasi telah lama kita rasakan. Puasa mengajarkan sikap hidup yang tahu dan mengenal batas-batas kepatutan: jangan berlebih-lebihan, karena dibutuhkan pengelolaan pola hidup yang minimalis dan maksimalis.

- Seperti beberapa tahun belakangan ini, beridul fitri patut kita maknai dengan melipatgandakan sikap simpati, empati, dan sepenanggungan. Bermacam bencana alam mendera banyak saudara kita di sejumlah daerah. Mereka tidak mungkin bisa merayakan Lebaran dengan normal. Sebagian kehilangan tempat tinggal, harta, modal fisik untuk hidup, atau yang terkait dengan sandang - pangan - papan. Korban gempa di beberapa wilayah di Klaten dan Yogyakarta belum tinggal secara layak. Apalagi mereka yang harus menyingkir karena daerahnya terendam lumpur Lapindo Brantas di Jawa Timur. Lebaran justru diwarnai keprihatinan yang mengaduk kenangan hari kemarin.

- Kita tanamkan sikap dan langkah untuk mendorong pemerintah dan semua pihak yang terkait untuk mempercepat penyelesaian penderitaan saudara-saudara kita itu. Idul Fitri merupakan momen yang secara religius cukup strategis untuk merenungkan, sudah tepatkah pilihan langkah kita dalam memperjuangkan survival atau banyak hal yang secara langsung ataupun tidak langsung telah mengakibatkan kerugian dan penderitaan bagi pihak lain? Apakah kebijakan-kebijakan yang kita ambil secara struktural ataupun institusional telah mampu membawa sebesar mungkin kemaslahatan bagi rakyat? Kita beridul fitri, sekaligus juga menebar mentalitas Ramadan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA