| Senin, 23 Oktober 2006 | KEDU & DIY |
Banyak Sumber Air yang Mati
BOROBUDUR - Daerah penyangga sumber air di Magelang ternyata tak hanya untuk masyarakat setempat. Yogyakarta dan Sleman pun mengandalkan suplai air dari daerah itu. Ketika alam di daerah penyangga air itu rusak, secara otomatis debitnya berkurang. Menurut Agro Forentry Specialist ESP Nanang Budianto, itu ancaman baru bagi masyarakat. "Banyak sumber mata air di perbukitan Menoreh yang mati. Dari 117 sumber air di Kabupaten Magelang, 50 di antaranya mati. Ini karena sebagian hutan di kawasan tersebut yang selama ini menjadi penyangga air sudah gundul," katanya. Dia mengatakan, permasalahan air tidak bisa dianggap remeh, karena menyangkut kelangsungan hidup banyak orang. Karena itu, harus ada program berkelanjutan untuk merehabilitasi dan mengonservasi lingkungan di Kabupaten Magelang guna menyelamatkan kawasan penyangga air. "Ketika suplai air di Magelang sudah menipis, di Sleman dan Yogya akan makin kritis," tandasnya. Sebagai upaya untuk menyelamatkan lingkungan, Environmental Service Program (ESP), States Agency International Development (Unsaid), melakukan program pengelolaan sumber daya air dan konservasi lingkungan di Magelang. Program itu sudah dipresentasikan di hadapan Bupati Magelang. Program tersebut akan berlangsung sampai 2009. Perlu Kesamaan Bupati Singgih Sanyoto menyambut baik program tersebut. Sebab, masalah air di Magelang menyangkut kehidupan banyak orang. Kendati demikian, Bupati mengingatkan, perlu ada kesamaan data EPS dan Bappeda. "Apakah data ESP sudah sesuai dengan data dari pemerintah. Jika belum, perlu disamakan dulu agar ke depan tidak ada kekeliruan," kata Singgih. Dia khawatir, jika tidak ada kesamaan data itu akan membingungkan masyarakat. Karena itu, sebelum ke masyarakat, perlu koordinasi dengan Bappeda. Dia menyarankan perlu ada pendekatan analisis atau minimal ada komunikasi identifikasi masalah. Bupati juga meminta untuk melibatkan masyarakat. Menurutnya, kearifan masyarakat lokal yang selama ini hidup berdampingan dengan lingkungan hutan dan lereng Gunung akan membantu program tersebut. (H33-66) |