logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Oktober 2006 KEDU & DIY
Line

''Jangan Sebut Lagi Budi sing China ....''

YOGYAKARTA- Sejak didirikan beberapa tahun lalu, sekarang Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Yogyakarta sudah beranggotakan sekitar 200 orang. Dalam perjalanannya pun organisasi itu masih sering dilirik sebelah mata. Baik oleh warga keturunan Tionghoa sendiri maupun oleh pribumi.

''Mesti lo, nek ono wong China mlaku-mlaku ning kampung, langsung dicurigai''. Hal itu dikatakan Ketua PITI Yogyakarta, H Budi Setyagraha Kamis lalu (19/10) dalam sambutan menjelang buka puasa bersama Pengurus Persatuan Urusan Kematian Yogyakarta (PUKY).

PUKY yang berkantor di Jl Sonopakis Lor, Yogyakarta yang sekarang diketuai Tun Yulianto merupakan organisasi untuk mengurusi hal-hal berkaitan dengan urusan pemakaman.

Khususnya bagi warga keturunan China. Budi Setyagraha yang mantan anggota DPRD Provinsi DIY periode 1999-2004 sendiri punya pengalaman.

Ceritanya suatu ketika ada orang mencari dia. Untuk memperjelas, orang yang ditanya mengatakan: ''Itu lo, pak Budi sing China''. Mendengar penuturan ini spontan segenap hadirin di kantor PUKY tergelak. Jadi maksud Budi Setyagraha, mbok yao sekarang nggak usah lagi dibeda-bedakan. ''Budi yo Budi ngono wae, ra usah ditambahi China,'' ujarnya akrab.

Sudah Ada Aturan

Sebab, lanjutnya, selain sudah ada aturan yang mengatur persamaan hak dan kewajiban, bagi warga keturunan China yang memeluk agama Islam harus menjalani beban berat. Di satu sisi harus menghadapi sikap keluarga di sisi lain masyarakat belum bisa menerima secara utuh, apa adanya.

Pada sisi lain lagi Budi yang pengusaha toko bahan bangunan berbesar hati karena nenek moyangnya merupakan suku bangsa yang disebut-sebut dalam hadis Nabi Muhammad SAW.

''Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China''. Menurut Budi, berkat hadis itu kemudian menyebabkan orang China terkenal rajin dan pandai dalam berbisnis. (Asril-39)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA