logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Oktober 2006 KEDU & DIY
Line

Penjual Ketupat Mulai Berdatangan

YOGYAKARTA - Lebaran sudah dekat, masyarakat mulai berburu ketupat. Namun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini tampak tidak begitu ramai. Bahkan penjual ketupat mengeluh karena terjadi penurunan pembelian.

''Memang tahun ini lebih sepi, mungkin akibat bencana gempa tapi nggak tahu juga ya apa itu penyebabnya,'' keluh Parno, penjual ketupat dari Bantul yang mremo ke Pasar Sentul Yogyakarta.

Dia setiap tahun meninggalkan desanya untuk berjualan ketupat. Usaha itu dijalani di sela-sela pekerjaannya sebagai buruh tani. Bagi dia dan penjual lain, Lebaran sangat dinanti-nantikan karena dari situlah dia bisa mendapatkan tambahan penghasilan.

Biasanya, tiga atau empat hari menjelang Idul Fitri, Parno sudah buka dasaran di utara Pasar Sentul atau di selatan Pakualaman. Dia tidak sendirian, ada puluhan penjual ketupat berderet di sana. Mereka tidur di pinggir jalan, trotoar, beralaskan tikar, koran dan berselimutkan sarung.

Bahan baku berupa daun muda kelapa dibawa dari kampung dan proses pembuatan di tempat dasaran. Meskipun mudah, namun tak banyak orang bisa menganyam daun kelapa menjadi ketupat. Ada beberapa model, mulai yang kecil persegi empat, jajaran genjang dan ketupat besar.

Harga bisa bervariasi tergantung ukuran, yang kecil hanya Rp 400/ikat, sedang Rp 1.000 - Rp 2.500/ikat dan Rp 5.000/ikat untuk ukuran besar. Parno tidak pernah menghitung berapa biji yang dia buat karena tiap selesai satu ikat dengan jumlah sepuluh biji, dia langsung membuat lagi. Penghitungan keuntungan dilakukan ketika dia akan pulang kampung.

''Lumayan, bisa buat nambah-nambah penghasilan untuk Lebaran di rumah, hanya ini yang bisa jadi harapan menjelang hari raya,'' ujar Parno.

Mulai Ramai

Sementara itu, keramaian mulai terlihat di jalan-jalan utama di Yogyakarta dan pusat perbelanjaan. Di Pasar Beringharjo misalnya, orang berdesakan di kios pakaian dan sembako. Mereka memborong pakaian untuk Lebaran. Begitu pula di mal, konsumen menyerbu bagian busana. Kasir harus bekerja keras karena antrean pembayar cukup panjang.

Jalan Malioboro juga mulai ramai dengan banyaknya kendaraan dari luar kota. Kadang kemacetan terjadi karena lahan parkir tidak mencukupi. Kendaraan yang memenuhi jalan tersebut terutama dari Jakarta, Bandung, Semarang dan daerah Jawa Timur.

Keramaian juga tampak di Terminal Giwangan dan Stasiun Tugu serta Lempuyangan.

Arus mudik sejak kemarin pagi cukup banyak terutama penumpang kelas ekonomi. Di Stasiun Lempuyangan, banyak pemudik duduk di sela-sela gerbong.

''Meskipun ramai tapi tidak seramai dulu. Kalau dulu sangat terasa begitu ada angkutan datang penumpang yang masuk maupun keluar bus uyel-uyelan tapi sekarang tidak begitu,'' ujar Kusdiantoro, petugas di Pos Lebaran Terminal Giwangan.(D19-39)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA