logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Oktober 2006 EKONOMI
Line

ANALISIS PASAR MODAL

Bulan Kegembiraan dan Kemenangan

KETIKA lebaran telah tiba, maka hampir seluruh masyarakat Indonesia terlihat merayakan kegembiraan. Refleksi kegembiraan sesudah melampaui bulan puasa sebagai bulan cobaan tersebut, telah dilakukan dengan berbagai macam cara. Orang, dikatakan suskses mendapatkan kemenangan, jika dia mampu mengendalikan hawa nafsu selama berada pada bulan mulia tersebut, sehingga mampu meraih predikat sebagai orang yang beruntung dan posisinya kembali pada fitri atau kesucian. Apakah masyarakat di bursa efek Jakarta, pernah menikmati bulan kegembiraan dan apakah para investornya dapat menikmati keuntungan dari adanya bulan kegembiraan tersebut?

Selama kurun waktu tahun 2006 ini, para investor di bursa efek Jakarta telah menikmati berbagai bulan sebagai bulan kegembiraan. Bagi masyarakat investor di BEJ, adanya bulan kegembiraan ditandai oleh adanya keuntungan pasar yang signifikan pada bulan itu. Pada sepuluh bulan yang telah berjalan di tahun 2006 ini terdapat tujuh bulan kegembiraan bagi para investor.

Pada bulan Januari, ditengarai merupakan bulan start awal investasi bagi investor tahunan, baik investor domestik maupun investor asing. Aktivitas mereka dengan transaksi dalam jumlah yang signifikan di bursa, mendorong terjadinya January effect dan mendorong terjadinya keuntungan pasar pada bulan itu sebesar 6,0%

Pada bulan April telah terjadi April Mop, sehingga pada bulan tersebut meraih predikat sebagai bulan kegembiraan tertinggi, dengan keuntungan pasar pada bulan itu sebesar 10,7%. Keuntungan pasar terjadi jika kinerja pasar pada akhir bulan lebih tinggi dari kinerja pasar semula pada awal bulan. Selanjutnya peristiwa pada bulan Maret dengan maret effect-nya, berupa penyajian penutupan laporan keuangan perusahaan semester 1 tahun 2006, telah mendorong terjadinya keuntungan pasar sebesar 7,5%. Pada penutupan laporan keuangan ada kecenderungan dari perusahaan untuk mempercantik diri pada laporan keuangan

Memasuki bulan September, ada kebijakan penurunan suku bunga BI rate dari 11,75% menjadi 11,25%. berarti telah terjadi penurunan sebesar dua basis poin atau 0,5%, telah memicu terjadinya September effect dan menciptakan keuntungan pasar sebesar 7,2%. Kebijakan lanjutan penurunan suku bunga pada bulan Oktober hingga pada posisi 10,75%, juga telah meningkatkan derajat keyakinan pasar sehingga mendorong kegembiraan pasar dan mendorong terciptanya keuntungan pasar lanjutan pada bulan itu.

Menjadi pertanyaan, siapakah sebenarnya investor yang beruntung yang dapat menikmati keuntungan pasar, apakah investor yang dapat mengendalikan hawa nafsu yang senada dengan masyarakat yang beruntung pada peristiwa lebaran?

Investor yang dapat menikmati keuntungan pasar adalah investor yang mempunyai kompetensi. Lile M Spencer, seorang professor bidang manajemen dari University of Washington, mengemukakan bahwa kriteria orang yang mempunyai kompetensi tidak hanya orang yang mempunyai pengetahuan atau keahlian tetapi ada aspek lain yang lebih penting dari itu. Aspek lainnya adalah merupakan aspek perilaku yaitu motif, sikap pembawaan dan konsep diri.

Aspek pengetahuan dan keahlian penting dalam upaya untuk dapat memilih saham mana yang kualitasnya baik, waktu kapan sebaiknya membeli saham, waktu kapan sebaiknya menjual saham serta kapan sebaiknya mengambil langkah cukup menyimpan saham saja lebih dulu, artinya tidak usah menjual atau membeli. Investor yang membekali dirinya dengan pengetahuan dan keahlian akan menjadi investor yang cenderung teguh pendirian dalam berinvestasi.

Aspek pengetahuan dan keahlian saja belumlah cukup untuk menjadi berpredikat investor yang berkompeten. Aspek perilaku berupa sikap pembawaan yang sabar sangat mendorong keberhasilan dalam berinvestasi. Pengertian sabar dalam kontek investasi di bursa efek adalah sabar dalam pengendalian diri untuk tidak tamak (greed), dan sabar untuk tidak takut (fear) menghadapi situasi pasar yang dinamis.kadang kala tren naik dan terkadang menurun silih berganti.

Banyak contoh kejadian empirik yang menunjukkan bahwa sifat tamak dan takut sebagai sumber kegagalan seorang investor untuk sukses. Seorang investor senior suatu waktu pernah menyampaikan pernyataan pada investor pemula "Jangan kau beli saham yang lebih lima hari berturut-turut telah naik harganya". Pernyatannya tersebut pada dasarnya adalah memberikan warning untuk hati-hati, jangan tamak. Meskipun demikian ada saja diantara investor yang tetap bernafsu untuk membeli dengan harapan nanti kalau harganya naik terus, jika tidak membeli akan kehilangan kesempatan untung sebanyak-banyaknya. Sifat ketamakannya menimbulkan kerugian bagi dirinya.

Ketika harga saham suatu saat cenderung menurun , pada umumnya pada diri investor melekat perasaan takut akan terjadi penurunan lebih lanjut, yang akan berdampak menciptakan kerugian. Investor yang berbekal ilmu dan keahlian akan dapat menangkap sinyal pasar, apakah penurunan tersebut akan berkelanjutan ataukah hanya merupakan peristiwa sesaat. Jika sinyal menunjukkan bahwa pernurunan tersebut hanya akan sesaat, maka cenderung dia tidak takut . Bahkan dia berpedoman konsep jika dia memiliki jenis saham yang kualitasnya baik, ketika suatu saat harganya turun, maka biarlah turun kalau memang sedang menurun, toh suatu saat akan naik kembali. Dia meyakini sesudah kesukaran akan datang suatu kemudahan.

Sedangkan tentang motif, kebanyakan para investor dalam berinvestasi motifnya adalah mencari keuntungan, hal itu sah-sah saja, namun yang paling baik adalah berinvestasi dengan motif untuk ikut serta berkontribusi dalam pembangunan .

Jika kemudian investor mendapat keuntungan, itulah rizki yang pada hakekatnya sebagai dampak balik dari meningkatnya pembangunan dan meningkatnya kinerja perusahaan.

( Prof Dr Sugeng Wahyudi, dosen Manajemen Strategi dan Keuangan FE Undip-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA