| Minggu, 22 Oktober 2006 | NASIONAL |
Pekerjaan Berat Tak Halangi Beribadah
Kepergian Marino (38), warga Muningan, Combongan, Sukoharjo yang tewas terkena peluru nyasar anggota Brimob Bripda Sutrisno, menorehkan luka yang begitu mendalam bagi keluarganya. Bagaimana perasaan keluarganya? Marino yang dikenal alim, tidak banyak bertingkah, rajin bekerja sebagai petani, meninggalkan istri dan tiga anaknya yang masih kecil. Betapa beratnya hidup yang bakal dijalani Ny Yanti Riyani (29) setelah ditinggal pergi suaminya. Kini dia harus menanggung semua beban hidup keluarga dan mendidik ketiga anaknya. Dia tidak mempunyai firasat apa pun atas kepergian suaminya untuk selamanya secara tragis. Di rumahnya yang sederhana, jauh dari perkotaan, hingga kemarin dia masih tampak menyisakan kepedihan yang begitu mendalam. ''Suami saya meninggal ditembak polisi hanya karena dituduh mencuri,'' ujar Yanti lirih. Kekecewaannya tidak bisa disembunyikan. Karena sejak menikah delapan tahun lalu, Marino menjadi tulang punggung keluarga. Berbagai pekerjaan telah dia jalani. Mulai dari berdagang ayam di Pasar Sukoharjo sekaligus sebagai petani meski hanya menggarap sawah yang tidak seberapa luas milik mertua. Kendati pekerjaan yang setiap hari dia jalani cukup berat karena harus mencukupi nafkah keluarga, Marino tidak lupa menjalankan ibadah. Dia takmir Masjid Al-Falah di kampungnya. ''Dia hanya ingin, pada Lebaran dapat berkumpul keluarga dan meningkatkan kehidupan keluarga yang lebih baik. Pesan itulah yang saya ingat,'' ucap dia. Meski hidup sederhana, Yanti merasa bahagia hidup bersama suami dan ketiga anaknya. Kesederhanaan itu terlihat di rumahnya di Kampung Muningan, Combongan yang masih berlantai tanah tanpa banyak terisi perabot rumah tangga. Bahkan sebagai petani, Marino hanya mengandalkan sepeda tua untuk menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Mesin diesel yang digunakan untuk menyedot air untuk dialirkan ke areal persawahan milik mertuanya juga hanya diangkut dengan sepeda kesayangannya. Sayang, harapan untuk dapat berkumpul bersama menikmati Idul Fitri itu tak kesampaian. Ny Yanti Riyani harus menghadapi kenyataan, sang suami tewas mengenaskan terkena terjangan peluru polisi, Jumat (20/10) pagi, di halaman rumah orang tua Marino di Kampung Pasekan, Combongan, Sukoharjo. Wanita itu belum bisa berpikir, apa yang akan dia lakukan untuk menjalani kehidupan keseharian tanpa suami tercintanya. Padahal tiga anaknya, yaitu Faijah Muksafia (7), Kholid Muhammad Askarulloh (5), dan Azam Nasirudin (2) masih membutuhkan kasih sayang dari sang bapak. Faijah kini duduk di kelas II di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Jetis, Sukoharjo sedangkan adiknya Kholid M Askarulloh baru bejalar di taman kanak-kanak (TK). Saat Jumat pagi berangkat ke sawah, Marino meminta istrinya untuk menjaga ketiga anak mereka dengan sebaik-baiknya. Marino berharap, kelak ketiganya menjadi orang yang taat beribadah, patuh kepada orang tua, dan berguna bagi keluarga, nusa, dan bangsa. Pesan terakhir Marino itu harus dipatuhi Yanti Riyani meski tanpa didampingi sang suami tercinta. (Sri Hartanto-59j) | ||||