| Minggu, 22 Oktober 2006 | NASIONAL |
Hikmah RamadanIdul Fitri
IA datang seperti dahulu, teduh dan penuh kesyahduan dan menjadi magnet yang menyedot emosi keagamaan terutama pada malam takbir dan fajar satu Syawal. Ada rasa memiliki yang mendalam baik mereka yang menjalankan puasa penuh maupun setengah-setengah, bahkan yang tak berpuasa sama sekali. Jika disuruh puasa agak ogah-ogahan tetapi dalam soal berhari raya tak mau ketinggalan. Hari Raya memang tak banyak menuntut persyaratan seperti puasa. Cukup datang ke lapangan atau ke masjid untuk takbiran dan shalat id, habis perkara. Soal takbiran bisa melirik kanan kiri, yang penting bibir bergerak-gerak dan soal bacaan shalat diserahkan saja pada imam. Baju dan sarung serbabaru, parsel dikirim ke mana-mana, kartu lebaran bertumpuk-tumpuk, dan pergi shalat id begitu meyakinkan dengan sorban dan minyak Arab segala. Ini namanya Islam cap apa? Terserah saja orang mau bilang, yang jelas model Islam kayak begini ya tetap Islam. Bukan urusan kita untuk memberi judgement di sini dan sebaliknya yang kayak begini adalah urusan Tuhan yang memiliki hak prerogatif. Apakah Islam taklukan atau Islam KTP atau bahkan abangan, sebaiknya tidak usah diurus terlalu jelimet. Ya, nggak usah dicari labelnya. Mengapa? Amat merugikan dakwah Islam karena stereotyping semacam ini bisa menjadikan orang tidak happy sebagai pemeluk Islam. Memangnya yang sok menepuk dada paling islami, mengibarkan bendera besar-besar menjadi golongan yang masuk surga mendahului yang lain? Pelabelan semacam itu memang menyakitkan karena di seberang lain ada golongan santri yang dianggap sebagai orang Islam yang mengamalkan ajaran, perilaku, serta idiom-idiom keseharian yang selalu berbau agama. Islam is Islam. Kalaupun ada yang nggak puasa, nanti kita ajarkan arti penting puasa sebagai kewajiban agama. Demikian pula dengan shalat lima waktu. Bahwa ajaran itu tak mempan ya didoakan saja nanti, kalau sudah uzur kan sadar bahwa manusia seperti mereka itu akan sampai pada ''akhir perjalanan hidup''. Secara psikologis, siapa pun akan butuh persiapan sebelum segala sesuatunya berakhir. Persiapannya bukan kereta jenazah atau kuburan dari batu granit marmer italia, melainkan cukup satu kata: takwa. La kalau orang sudah bau tanah kok tak kenal apa yang namanya takwa, ya silakan tanggung sendiri nasibnya nanti. Yang penting informasi sudah diberikan, anjuran sudah berkali-kali, pengajian sudah tak terhitung. Soal hidayah, itu ada di genggaman tangan-Nya. Adakah baju baru dan sandal baru menjadi sedemikian penting walaupun bukan esensi Idul Fitri. Lalu apa? Jawabnya ada di memori kolektif umat Islam atau pada orang-orang yang dianggap punya otoritas melampaui pengalaman batin orang perorang, seperti para kiai dan ustad beneran dan bukan kiai jadi-jadian atau ustad gadungan. Lebaran sudah ada di pelupuk mata, kita pun menanti dengan penuh ketidaksabaran. Pedagang di Pasar Johar bersimbah peluh melayani konsumen mulai pagi hingga menjelang magrib. Bau wangi kampung Arab semakin menjadi-jadi dan orang desa sedang berada di puncak tradisi maleman berkirim sedekah ke tetangga. Sementara itu, masjid-masjid tak sepi dari orang yang iktikaf menyongsong ampunan dari-Nya. Kampung bekerja keras jauh sebelum Lebaran sebagai persiapan menyambut tamu yang datang dan tak lupa membuat kue yang akan dibagikan secara gratis dan ikhlas. Inilah bagian dari moodIdul Fitri yang berupa ketulusan untuk memberi apa yang dipunyai walaupun mereka sendiri sesungguhnya sangat membutuhkannya. Kalau perlu, tak ganti baju baru asal bisa menyediakan kue untuk para tamu. Kiai desa yang juga bagian dari komunitas seperti ini malahan memberi legitimasi akan esensi lebaran yang berupa peningkatan takwa, bukan baju baru (laisa al-id liman labisa al-jadid wainnama al-id liman taíatuhu tazid). Ya, sebuah pelarian yang amat terhormat untuk memberikan keteduhan bagi rakyat kecil yang tak dapat berganti baju baru pada saat Lebaran. Nggak lumrah di negeri lain tetapi menjadi acara rutin di negeri kita, yaitu halalbihalal dengan segala variasinya. Open house pejabat adalah kick off yang seakan menandai silaturahmi antara pemimpin dan rakyatnya dari berbagai profesi. Jika pemimpin perguruan tinggi hadir, seakan dia mewakili dosen dan mahasiswanya. Jika uskup hadir, seakan mewakili umat Katolik. Jika pemimpin koran hadir seakan mewakili komunitas penerbitan itu. Apakah Bapak akan mudik? Jawabnya pasti serentak ''ya'', mulai penjual jamu hingga pejabat. Kalau ditanya ''untuk apa'', mereka terdiam tetapi jawabnya akan ada seribu macam. Sungkem orang tua dan sanak famili, ziarah kubur para leluhur, itu sudah pasti termasuk show of force (unjuk kekuatan) sebagai orang sukses yang dapat menundukkan Ibu Kota yang ganas. Soal uangnya diperoleh dari hasil memalak orang atau memeras pejabat, itu masalah tersendiri. Akan tetapi, hari raya tidak mudik akan berarti ''malapetaka psikis'' yang tidak ada gantinya. Bisakah menjumpai hari raya mendatang? Wallahu aílam bissawab. - Penulis adalah Rektor IAIN Walisongo Semarang. | ||||