logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 22 Oktober 2006 BINCANG BINCANG
Line

Goenawan Mohamad:

Lebaran Tak Identik dangan Kesucian

BANYAK manusia Indonesia yang masih punya ikatan dengan tanah asal tergerak untuk mudik pada saat lebaran. Apakah mereka yang telah menjadi manusia global -senantiasa ulang-alik dari negara satu ke negara lain- memiliki getaran untuk "pulang"? Budayawan Goenawan Mohamad, salah satu manusia global itu, memiliki pandangan menarik tentang "tradisi" yang menyihir banyak orang untuk berdesak-desakan pulang ke kampung itu. Apa pula kenangan penulis buku seri Catatan Pinggir ini tentang lebaran di kampung? Berikut petikan perbincangan dengan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo itu belum lama ini.

Anda jelas-jelas menjadi manusia global. Manusia yang mungkin tidak lagi memiliki getaran yang dahsyat untuk "pulang" ke tanah asal atau ikatan-ikatan kebudayaan lokal. Lalu, apakah lebaran dan mudik, misalnya, masih bermakna dalam kehidupan Anda?

Saya melihat diri saya orang Indonesia, dan hanya "global" dalam arti yang terbatas: saya sering ke luar negeri -tapi "luar negeri" itu tak berarti seluruh penjuru dunia. Saya hanya sering ke Eropa dan Amerika. Ini perlu ditekankan. Banyak kesalahpahaman terjadi karena secara tak sadar kita menganggap yang disebut "global" berarti datang dari Amerika Serikat dan Eropa.

Saya tak pulang ke tempat kelahiran saya, Batang, sebab "pulang" bagi saya -yang sudah lebih dari 40 tahun di Jakarta- bukan lagi ke sana. Sebenarnya "pulang mudik" yang merupakan kelaziman masyarakat kota besar itu bukan pulang ke "tanah asal". Yang penting di situ bukan "tanah" dan "asal", tapi keluarga, terutama orang tua.

Hal ini mungkin disebabkan mereka yang hidup di kota besar dan yang pulang mudik itu umumnya generasi muda yang berurbanisasi -dan sebab itu belum lama di sana, atau bahkan sementara sifatnya. Orang tua mereka, bahkan kadang-kadang pasangan hidup mereka, masih hidup di "udik".

Saya tak termasuk dalam generasi muda itu lagi. Tiga puluh tahun yang lalu, apalagi ketika ibu saya masih hidup dan belum pindah ke Jakarta, saya akan merasa perlu "mudik" bila lebaran datang.

Lebaran identik dengan kembali ke kesucian, kembali ke asal muasal, apakah dengan demikian saat orang beramai-ramai mudik, sesungguhnya mereka sedang melakukan identifikasi terhadap akar?

Di Indonesia, yang justru indah dari lebaran ialah bahwa ia tak identik dengan kesucian. Lebaran adalah pesta, perayaan, kegembiraan, bahkan di sana-sini "kemewahan". Saya kira pulang mudik di sekitar Idul Fitri lebih didorong hasrat berbagi kegembiraan ketimbang menjalankan laku religius -dan yang demikian itu penting bagi kehidupan pribadi maupun sosial. Hanya masyarakat yang bersedia sakit jiwa yang mengharamkan orang berbagi kegembiraan. Manusia adalah makhluk yang bisa berpesta -pesta dalam arti bersukaria bersama-sama, biarpun dalam bentuk yang miskin.

Anda bertanya, apakah para pemudik melakukan "identifikasi terhadap akar"? Saya kira sebagian besar pekerja muda yang pindah ke kota untuk cari nafkah bukanlah mereka yang repot kehilangan "akar". Beda antara "kota" dan "desa" memang besar, tapi kota-kota Indonesia bukanlah wilayah di balik tembok terjal dalam arti budaya. Sejarah kota di Indonesia berbeda dari sejarah kota di Eropa. Seorang pakar sosiologi perkotaan pernah mengatakan, bahwa di sini yang terjadi bukan hanya "urbanisasi" tapi juga "ruralisasi" -pelbagai segmen kehidupan kota malah mencerminkan corak kehidupan desa, dalam soal berkelompok, misalnya.

Energi (kebudayaan) macam apa yang sesungguhnya membuat orang melakukan selebrasi lebaran secara besar-besaran? Mengapa "kepulangan" seakan-akan menjadi ideologi tunggal yang tak bisa dilawan? Apa ia telah menjadi mitos?

Ada yang mengatakan, dorongan mimesis juga terdapat pada manusia: meniru perilaku orang lain. Ada juga yang disebut demonstration effect: kalau tetangga beli mobil BMW, maka saya menirunya, meskipun saya tak akan mati jika tidak; kalau teman saya bawa oleh-oleh ke keluarganya di kampung, saya juga mau berlaku begitu -satu perilaku sosial yang dimanfaatkan dunia periklanan. Kita tak boleh lupa, lebaran dan natalan (seperti sekarang di kota besar "Halloween") sudah jadi desain pemasaran barang dan jasa. Selain itu ada faktor adat istiadat, yang menyebabkan orang merasa tak sendirian.

Setelah pulang ke tanah asal atau ke kesucian, mereka pergi lagi ke "daerah pergolakan" atau ke hal-hal yang sekuler. Bukankah tindakan mudik, dengan demikian, hanya merupakan tindakan pura-pura, ethok-ethok, atau kosmetik belaka?

Saya kira bukan. Lebaran dan "pulang" bisa juga dilihat sebagai jeda. Manusia -makhluk yang bisa berpesta- juga mahluk yang melembagakan istirahat. Setelah bekerja terus menerus selama setahun, setelah berada di "daerah pergolakan" yang Anda sebut, tubuh dan jiwa kita ingin untuk sejenak tak "bergolak".

Apakah identifikasi diri secara kolektif semacam lebaran ini juga dilakukan oleh manusia lain di belahan bumi yang lain?

Ya. Saya lihat itu terjadi di Amerika Serkat, di sekitar Natal dan Thanksgiving Day. Pesawat penuh karena orang pada berkumpul kembali dengan keluarga mereka yang jauh-jauh. Saya tak tahu bagaimana keadaannya di tempat lain.

Hidup sesungguhnya kian praktis dan sekuler. Apakah pada satu masa lebaran pun akan dipandang sebagai sesuatu yang praktis, sekuler, dan tak berkait dengan sublimasi dan kontemplasi?

Seperti sudah saya katakan, di Indonesia ini lebaran tak teramat berkaitan dengan laku religius. Saya tak akan mengatakan bahwa sifatnya "praktis" -sebab pergi serentak berdesak-desak naik kereta api dan bus selama lebih dari enam jam sama sekali bukan tindakan praktis. Juga tak bisa dikatakan "sekuler", sebab dalam tindakan yang paling tidak sakral pun tersirat sesuatu yang "transendental"; dalam maaf memaafkan, misalnya. Bahkan sebagai jeda: dalam Perjanjian Lama, Tuhan memberi 10 perintah kepada Musa, dan salah satunya mengharuskan orang beristirahat bekerja pada hari ketujuh.

Apakah Anda akan mudik? Apakah Anda sebagaimana manusia perkotaan lain justru menciptakan akar baru di tanah yang sekarang diinjak di langit yang kini dijunjung?

Saya sudah jawab di atas: saya sudah 40 tahun hidup di Jakarta. Soal akar - baiklah saya kutip kata-kata seorang filosof: manusia bukan pohon; ia tak hanya punya satu akar.

Apakah kita semua ketika merespons akar budaya sudah jadi Malin Kundang semua?

Legenda Si Malin Kundang pernah saya pakai, dan saya balikkan, untuk menunjukkan bahwa yang disebut "akar" sebenarnya dihadirkan sebagai bagian dari tata simbolis, yang kita terima dan membentuk kita, tapi sebenarnya terjadi karena hubungan kekuasaan. Dalam legenda itu, kekuasaan itu bukan dalam diri sang ibu yang mengutuk Malin Kundang jadi batu, melainkan dalam kekuatan atau kekuasaan yang membuat kutuk itu punya efek, yakni adat, lembaga, agama, yang dijaga oleh para tetua. Jika kita sadari hal ini, kita akan melihat soal "akar" sebagai konstruksi kekuasaan, bukan sesuatu yang suci, kekal, dasar untuk menghakimi.

Ya, dan lebaran jelas telah menjadi identitas yang kadang menenggelamkan kebutuhan orang lain. Etika kedaifan -sebagaimana pernah Anda jelaskan di Unika Soegijapranata Semarang- bisakah digunakan sebagai cara muslim menghormati orang yang tidak berlebaran?

Etika kedaifan yang saya maksudkan misalnya diekspresikan dalam permintaan maaf. Di sana kita mengakui keterbatasan kita. Ucapan minta maaf bagi saya lebih penting ketimbang ucapan selamat atas kemenangan melawan apa yang jasmani. Bagi saya berpuasa justru pengakuan, bahwa yang jasmani justru tak terelakkan; tubuh adalah diri kita yang fana, tak tetap, daif.

Baiklah...setiap orang tentu punya masa lalu. Juga masa lalu lebaran. Apa nostalgia Anda tentang lebaran pada masa kecil?

Di kota kami tiap lebaran ada sesuatu yang istemewa: orang berbondong-bondong pergi menonton perlombaan perahu di sebuah sungai di desa Karangasem. Tapi sebenarnya bukan adu cepat mendayung yang penting. Semangat "yang asyik adalah ikut ramai-ramai, bukan menang atau kalah" mendominasi perlombaan itu -sebab tak pernah jelas siapa pemenang dan tak ada pula piala kejuaraan.

Lagi pula, yang jadi fokus tontonan orang ramai pada hari lebaran itu adalah karnaval para nelayan, sebelum mereka turun ke sungai.

Sejak pukul 10.00i berpuluh regu nelayan berbaris teratur berjalan mengelilingi sebagian kota, mengenakan pakaian yang mirip dengan apa yang mereka lihat di bioskop atau di tempat lain: koboi, pasukan angkatan udara, kelasi, wayang orang, suku Indian, dan entah apa lagi. Saya ingat saya melihat sekelompok nelayan yang membuat kapal terbang tiruan dari kayu dan bambu yang diliputi karet tipis, didorong oleh seregu laki-laki berseragam persis seperti pilot tempur Perang Dunia I.

Kecermatan, ketelatenan, dan keterampilan orang-orang itu dalam mengerjakan itu semua sungguh mengagumkan. Mereka umumnya buruh dan tak terpelajar, tapi mereka bisa membangun suasana bersenang-senang sekali setahun, memanjakan imajinasi dan mengolah kreativitas -seraya mengaitkan diri dengan dunia luas, tidak "Timur" tidak "Barat", di luar dusun mereka.

Pernah saya menyaksikan perlombaan perahu yang disponsori pemerintah di kesultanan Oman pada tahun 1980-an. Bagi saya, keramaian di Batang dulu itu jauh lebih semarak...

Kini semua itu tak ada lagi. Saya tak tahu kenapa. Mungkin karena ekonomi jadi sangat memburuk di tahun akhir 1950-an sampai dengan akhir 1960-an, terutama sejak "ekonomi terpimpin" Bung Karno, hingga para nelayan dan juragan mereka tak mampu lagi membeayai karnaval seperti itu. Mungkin karena sejak zaman "demokrasi terpimpin" dan "Orde Baru" teramat banyak larangan penguasa dan ketegangan politik di tingkat bawah. Mungkin karena ada suara yang menganggap itu semua "pemborosan" dan tak ada hubungannya dengan "ibadah".

Apa pun sebabnya, sesuatu yang berharga hilang: kesempatan dan kebebasan berkreasi di kalangan nelayan miskin itu. Mereka tak lagi menciptakan karnaval, tak lagi menyusun dan melagukan tembang mengiringi keberangkatan perahu ke laut, tak lagi menghias perahu dengan ukiran wayang dan gambar aneka macam -dan tak lagi membentuk grup ketoprak yang mereka mainkan buat tetangga-tetangga mereka.

Saya mengatakan ini dengan sedikit nostalgia - tapi saya kira rasa kehilangan ini sah. (Triyanto Triwikromo-35)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA