| Sabtu, 21 Oktober 2006 | WACANA |
Surat PembacaDakwah KulturalApakah artinya dakwah kultural, kalau ketetapan Idul Fitri 1427 H pada hari Senin 23 Oktober 2006 bukan menjadi tuntunan tapi menjadi tontonan yang bisa berakibat warga Muhammadiyah di desa makin terisolasi. Mendatang sebaiknya Muhammadiyah dengan Majelis Ulama Indonesia serta tokoh/ahli hisab lainnya diajak duduk satu meja untuk membahas tuntas/mencari titik temu menetapkan Idul Fitri. Ini ilmu pasti bukan khilafiyah mempunyai alat untuk mendeteksi hari dan tanggal demi kepentingan umat. Jangan berjalan sendiri dan mencari kepuasan tanpa memikirkan warganya terutama di desa-desa. Suasana Lebaran mestinya sejak dalam keadaan bersilaturrahmi, bukan malah saling plerok-plerokan hanya karena shalat id. Apa artinya seruan umat Islam bersatu tapi nyatanya menentukan Idul Fitri saja tidak bisa bersatu. Apa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak bisa mempersatukan ulama demi kesatuan umat. H Muhtar Yakub Bulakamba Rt 4/Rw 2, Brebes *** Ujung-ujung Ujung-ujung adalah tradisi asli masyarakat Jawa untuk menggambarkan persilaturamian dengan cara berkunjung door to door orang yang lebih tua. Dilaksanakan pascalebaran untuk mohon maaf dari orang yang lebih tua tanpa terkecuali apalagi terhadap para sesepuh, pinisepuh, para guru dan lainnya. Namun sekarang disinyalir telah terjadi proses pendangkalan kultur budaya ujung-ujung. khususnya bagi masyarakat yang berdomisili di kota. Tapi di daerah termasuk Wedung Demak asal alm bapak saya, sampai sekarang budaya tersebut masih awet lestari. Lha kalau orang kota ujung-ujung-nya malah ke Matahari, Robinson, Ciputra, Mc Donald dan lainnya. Pagi-pagi sebelum mal dibuka, mereka sudah bergerombol menunggu di emperan. Ini merupakan pemandangan yang biasa dari tahun ke tahun. Nggak percaya, lihat saja lusa. Atau mereka berlebaran di kebun binatang. Dampak iptek memang revolusioner, silaturahmi pun bisa dilakukan sambil ongkang-ongkang kaki di rumah cukup dengan mengirim SMS. Rembuk musyawarah juga bisa dilakukan sambil membisu cukup dengan ber-chatting ria. Semoga generasi penerus mampu nguri-uri budaya warisan leluhur nenek moyang yang sudah berumur ratusan tahun tersebut. Kapitalisme dengan gencar terus menerus menebar virus untuk menggerogoti karya monumental simbah kita. Noor Rofiq Jl Wamena V/ 228-229, Ungaran *** Unnes dan Pemiskinan Sejak menempati kampus di Sekarang Gunungpati Semarang, Unnes mengalami kemajuan pesat. Prodi baru dibuka, gedung dibangun dan mahasiswanya bertambah secara fantastis. Tetapi tidak demikian dengan nasib para dosennya (dosen biasa). Mereka yang memiliki idealisme tinggi merasa terseok-seok membeli buku. Hal ini disebabkan mereka banyak mengampu mata kuliah baru, menyusun silabi dan menyiapkan rencana pengajaran. Anehnya di saat Lebaran kali ini, pihak pengelola tidak memberi THR untuk dosen biasa. Sudah sewajarnya pimpinan fakultas meningkatkan kesejahteraan dosennya. Hal ini seiring menghadapi globalisasi dan perkembangan ilmu sosial yang demikian pesat, iklim politik serta masyarakat yang sakit. Apapun kebijakan yang diambil pimpinan fakultas seharusnya diorientasikan pada upaya itu sehingga dosen yang mengajarnya banyak dengan mata kuliah baru, tidak merasa dieksploitasi. Pimpinan Unnes seyogianya membangun jaringan pengaman berupa kebijakan yang mampu menangkal pengaruh negatif lunturnya idealisme dosen dalam mengajar. Minimal yang harus diperhatikan adalah pemberian THR bagi para dosen unthul (dosen biasa). Ini bentuk indikator utama kepedulian pimpinan pada para dosen. Sekarang di Unnes terutama Fakultas Ilmu Sosial terjadi proses "pemiskinan" para dosen. Kalau ada tutur kata saya yang salah salahkanlah, kalau ada yang betul ya betulkanlah. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1427 H, mohon maaf lahir batin. Drs R Suharso MPd Dosen Sejarah FIS Unnes *** Untuk Pengemudi Sebelum mengemudikan kendaraan bermotor, periksa perlengkapannya. Persiapkan secermat mungkin semua fungsi mesin, rem bekerja dengan laik dan tidak bermasalah. Jangan sembrono di jalan raya, karena maut ada di depan mata. Ingat, penumpang yang Anda bawa ingin bertemu sanak keluarga dalam suasana bahagia penuh tawa dan suka cita. Juga anak isteri dan keluarga menanti di rumah. Kemudikan kendaraan dengan hati-hati dan sarat tanggung jawab. Jangan tegang, tapi santai dengan berdendang dan bernyanyi. Patuhi semua peraturan dan rambu rambu lalu lintas dan jangan ngebut, karena tiada untungnya bahkan berbahaya. Sampai ke tujuan dengan selamat, penuh arti. Jadilah pengemudi bijak disayang penumpang dan Pak Polisi. Berhentilah sejenak bila kantuk menyerang dan hindari minuman keras/narkoba yang mematikan. Berdoalah, mohon bimbingan dan keselamatan di dalam perjalanan. Selamat mengemudi. Andreas Adhy Aryanto (EI) Jl Hayam Wuruk 62, Purwodadi *** Tanggapan Cepat dari Bapak Kapolres Klaten Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Drs Suwarno SH, Kapolres Klaten yang dengan cepat memberi respon positif atas tulisan saya di Surat Pembaca 8 Oktober 2006 berjudul ''Suami saya diperas oknum Polisi''. Tanggapan itu disampaikan lewat kurir yang dikirim untuk klarifikasi serta tindakan selanjutnya. Harapan saya, dengan tanggapan yang positif untuk ke depan menjadi lebih baik, sehingga kalau melewati jalan raya wilayah Polres Klaten para pengemudi merasa tenang. Tri Rahayu Jl Karang Kobar Gg IX/ 2, Purwokerto *** Pulsa Tersedot 7898 Kami sekeluarga pelanggan Telkomsel, tiga kartu Simpati dan 1 kartu Hallo. Kami mengeluh karena belakangan ini, dua dari kartu Simpati saya sering menerima pesan pendek (SMS) dari 7898, berisi hal-hal yang tidak saya butuhkan. Kedua anak saya pengguna kartu tersebut merasa tidak pernah melakukan registrasi untuk layanan 7898. Argumentasinya, nomor anak-anak saya tidak pernah dipakai (tetapi tetap diperpanjang) karena di pesantren dilarang membawa ponsel. Kedua anak tersebut saya didik tidak mengenal dan percaya dengan ramalan bintang seperti yang diprovokasikan 7898. Saya sudah mencoba mengajukan komplain dua kali ke 116 dan dijawab akan segera dihentikan. Namun layanan itu masih terus "meracuni" anak-anak saya dan secara materi juga merugikan karena layanan tersebut menyedot pulsa. Mohon Telkomsel menghentikan program itu, khususnya ke no 081325533779 atau pelanggan lain yang tidak melakukan registrasi, kecuali jika Telkomsel ingin ditinggalkan pelanggan. Masruri Sirahan Rt 4/Rw 2 Cluwak, Pati *** Mercon Dulu membunyikan mercon menjelang Lebaran merupakan hal lumrah. Setiap rumah jika pekarangannya tidak dipenuhi serpihan kertas mercon kurang afdol. Untuk menunjukkan rasa gengsi, pelataran sengaja tidak disapu sampai beberapa hari. Tradisi mercon sebenarnya dari China, masuk melalui pelabuhan Semarang. Bermacam mercon diperdagangkan, misal cap Leo yang dulu banyak dicari karena terkenal bunyinya yang memekakkan telinga. Mercon renteng, banyak disulut memakai tiang tinggi karena saking panjangnya rentengan. Adalagi mercon tinggi, berbentuk mirip lidi pendek dengan cara menggosokkan di lantai kemudian berbunyi pletik-pletik sambil terbang mengejar orang. Mercon banting, yang di dalamnya ada serpihan kerikil dan obat yang dibungkus kertas. Mercon Gatotkoco paling unik, meledaknya di bawah dan separo di atas. Di Simpanglima dulu suasananya seperti perang. Dari berbagai sudut orang menyulut mercon sreng dul yang saling diarahkan ke orang lain. Jenis mercon ini agak besar yang di bawahnya terdapat glagah tebu sebagai pemandu. Meskipun saling serang tak ada korban jiwa. Famili sreng dul adalah sreng dor yang lebih kecil. Itulah sekilas nostalgia mercon yang tidak bisa dilupakan. Sekarang memperdagangkan mercon dilarang. Salah satu sebab, banyak pabrik mercon yang meledak hingga menimbulkan banyak korban jiwa. Uniknya setelah mercon dilarang, orang jadi terkaget-kaget ketika mercon rawit disulut anak kecil. Agus Eko Santoso Pondok R Patah Blok K1/21, Demak |